Eka Dilla Kurniawan, Asisten Redaktur SatelitPost

Eka Dilla Kurniawan
Asisten Redaktur SatelitPost

Surat Keterangan Tidak Mampu atau SKTM sekarang jadi buah bibir, lantaran banyak diburu oleh masyarakat untuk mendaftar ke sekolah. Ketentuan mengenai prioritas terhadap calon siswa miskin dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK tahun ini adalah biangnya sehingga orangtua siswa beramai-ramai membuat SKTM ke pemerintah  desa.

Memang dengan adanya syarat penyertaan SKTM merasa lebih longgar diterima menimbulkan banyak polemik. Sebab tak sedikit yang mendaftar sekolah dengan menyertakan SKTM ternyata keluarga mampu. Pihak sekolah pun harus repot melakukan verifikasi langsung ke lokasi apakah pengguna SKTM benar-benar dari keluarga tak mampu.

Selain itu dengan SKTM dapat menyingkirkan calon siswa yang nilai ujian nasionalnya tinggi. Maraknya pendaftaran siswa yang menggunakan SKTM untuk PPDB kabarnya membuat Ombudsman turun tangan. Lembaga tersebut melakukan penyelidikan terkait dugaan penyalahgunaan SKTM.

Sebab ada yang hampir seluruh siswa di suatu sekolah diterima berkat adanya SKTM. Hal ini menuai protes orang tua siswa yang masuk tidak menggunakan SKTM. Maka para orang tua ini akhirnya mengurus SKTM agar anak mereka diterima di sekolah tersebut. Ada pula yang akhirnya mencabut SKTM dengan sendirinya.

Sungguh miris tindakan yang tak terpuji. Untuk mendaftar ke sekolah dengan cara demikian. Padahal dari pemerintah membuat aturan persyaratan SKTM dengan tanpa membatasi kuota ke tiap sekolah untuk memberi ruang kelonggaran bagi siswa dari kalangan keluarga tak mampu atau miskin agar bisa sekolah. Tetapi kenyataannya banyak disalahgunakan.

Seharusnya kita sama-sama menyadari maksud dan tujuan ketentuan pelaksanaan PPDB tersebut. Kalau memang mampu atau keluarga berada baiknya tak perlu membuat SKTM. Seharusnya malu pada diri sendiri maupun pada orang lain.

Sebaliknya, agar SKTM ini tak mudah disalahgunakan, yang paling utama syarat masuk sekolah tetaplah nilai dan prestasi. Lihatlah dulu nilai dan prestasi si siswa. Dan verifikasi pihak sekolah juga sangatlah penting guna menyaring mana yang benar-benar miskin dan mana yang tidak bagi yang mendaftar sekolah menggunakan SKTM. Toh tak dibatasi kuotanya. Artinya jika setelah melakukan verifikasi semua calon siswa ternyata pengguna SKTM hanya satu siswa yang layak masuk dengan SKTM  tak mengapa.

Selain itu pihak sekolah mesti menjelaskan secara detail penggunaan SKTM ke orang tua calon siswa. Bahwa bila ada SKTM tapi nilainya tinggi, misalnya sudah pasti akan lolos. Akan tetapi  ber-SKTM tapi nilainya rendah, pihak sekolah bisa mengingatkan kepada para orang tua dan siswa kira-kira bisa tidak anak-anak itu nantinya menyesuaikan dengan teman-teman lainnya yang nilai tinggi dan berprestasi.

Selanjutnya tinggal kejujuran dari diri kita sendiri sebab ketentuan  SKTM ini pemerintah hendak memberi kelonggaran kepada siswa tak mampu dengan menunjukkan bukti SKTM sebagai upaya menyamaratakan hak pendidikan bagi warga negara. Siapa tahu mereka-mereka kelak berhasil jadi pejabat. Sudah banyak contoh mereka yang berangkat dari keluarga miskin meraih sukses di kemudian hari berkat memperoleh pendidikan yang layak. Jadi, penggunaan SKTM please jangan disalahgunakan. ([email protected])