Yuspita Palupi Redaktur SatelitPost

Ada yang berbeda dengan materi ujian nasional tahun ini. Baik itu di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas. Hampir semua siswa yang mengikuti ujian kompak mengungkapan jika soal-soal ujian tahun ini dirasakan jauh lebih sulit.

Bukan tanpa alasan. Mulai tahun ini pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang menaikkan grade soal-soal ujian. Dari yang sebelumnya mengacu pada Low Order Thingking Skill (LOTS). Berganti mengacu pada standar High Order Thinking Skill (HOTS).

Standar HOTS ini menuntut siswa untuk mengembangkan kompetensi analisa, berpikir kritis, memecahkan masalah, meningkatkan kreativitas, hingga menghasilkan inovasi. Berbeda dengan pola ujian tahun-tahun sebelumnya yang hanya sebatas pada bagaimana menyimpan informasi pengetahuan saja. Sejumlah negara sudah menggunakan HOTS sesuai standar Programme for International Student Assessment (PISA).

Penggunaan standar HOTS dalam soal-soal ujian sekolah diklaim menjadi salah satu alat guna meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan di tanah air. Itu sebabnya, Mendikbud kekeuh jika standar HOTS ini tetap akan diaplikasikan pada soal ujian sekolah tahun depan.

Wacana perubahan dan pembenahan pendidikan dari Kemendikbud memang bukan perkara yang mudah. Seperti membalikan telapak tangan. Ada banyak konsekuensi dari setiap kebijakan yang diambil.

Kebijakan penggunaan standar soal HOTS dalam setiap materi ujian sekolah misalnya. Konsekuensi yang sangat mungkin terjadi adalah turunnya nilai rata-rata siswa. Karena kebanyakan siswa tidak siap dan dibuat bingung dengan soal-soal ujian (yang) HOTS.

Seperti pekan kemarin saat pelaksanaan ujian kenaikkan sekolah. Sejumlah siswa sekolah dasar mengaku mengalami kesulitan memahami soal-soal ujian. Khususnya pada matapelajaran Matematika. Bahkan ada sekolah favorit di Purbalingga yang sampai melakukan ujian remidi untuk bisa memberikan second chance kepada siswa untuk memperbaiki nilainya yang masih di bawah standar kelulusan, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Menurut PISA 2015, kemampuan siswa Indonesia dalam memahami isu sains berada pada peringkat 64, kemampuan membaca pada peringkat 66 dan kemampuan Matematika pada peringkat 65 dari 72 negara partisipan OECD.

Sedangkan menurut Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2016 hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) mengungkapkan, persentase pencapaian siswa Indonesia sesuai standar yang ditetapkan masing-masing di bidang Matematika adalah 77,13 persen, membaca sebesar 46,83 persen dan Sains sebesar 73,61 persen.

Dengan penerapan soal HOTS tahun ini dipastikan persentase dan peringkat pendidikan di tanah air bergeser. Mengapa? Karena kita (siswa, sekolah) sama-sama belum siap dengan HOTS.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Mau tidak mau suka tidak suka, semua elemen pendidikan secara bertahap mulai mengenalkan dan mengajarkan konsep dan pola pikir dengan standar HOTS.

Tak sebatas pada latihan soal yang menerapkan HOTS. Tetapi dalam proses pembelajaran sehar-hari, siswa terus diajak kritis dan berpikir analitis dengan berbekal pada pengetahuan low order thinking skill yang dimiliki. Jika cara berpikir aktual tersebut diterapkan siswa secara terus menerus dalam proses pembelajaran, maka keterampilan berpikir analitisnya secara otomatis terasah. Dengan begituĀ  mereka tak akan kaget ketika menghadapi soal-soal dengan standar HOTS. Maju terus pendidikan Indonesia.(yuspita@satelitpost.com)