Yuspita Palupi Redaktur SatelitPost
Yuspita Palupi
Redaktur SatelitPost

SETIAP anak harus memiliki mimpi masa depan dan tidak ada hambatan untuk bisa menggapai sebuah cita-cita. Anak-anak harus harus belajar dengan baik, belajar keras. Tetapi juga tetap punya waktu untuk bermain, lebih ceria dan beradaptasi dengan lingkungan. Ini adalah kutipan ucapan selamat Hari Anak Nasional dilontarkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi lewat akun Instagramnya pada Selasa (23/7) kemarin.

Pertanyaan “Apa cita-citamu setelah besar nanti” kerap dilontarkan orang dewasa kepada anak-anak. Sebelum era milenial, anak-anak dengan lantang menjawabnya, dengan sederet profesi yang ada. Mulai dari dokter, guru, pilot, polisi, tentara, dan lain sebagainya. Memasuki era millenial dan digital, mimpi anak-anak Indonesia pun bergeser. Tak lagi tertarik menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi memilih menjadi seorang yutuber atau vlogger.

Sejatinya tak ada batasan bagi anak-anak untuk memiliki mimpi mereka. Apapun boleh, asalkan itu tidak bertentangan dengan aturan hukum yang ada. Semua ilmu adalah baik. Asalkan dipergunakan dengan bijaksana.

Itu sebabnya, Presiden Jokowi mengingatkan anak-anak Indonesia untuk giat belajar dengan keras. Supaya apa yang diimpikan bisa terwujud. Sembari dengan tidak melupakan hakekatnya seorang anak-anak. Yakni bermain.

Diakui, era millenial memberikan tantang tersendiri kepada orangtua. Kehadiran gadget di tengah dunia anak-anak nyatanya bak dua mata pisau. Yang jika tak disikapi dengan bijaksana justru akan “melukai” mereka (anak-anak, red) itu sendiri.

Jamak kita mendengar, banyak orangtua yang kewalahan karena anak mereka mengalami kecanduan gadget. Baik itu televisi, telepon genggam, sampai tablet. Sebuah penelitian yang dilakukan di British Heart Foundation (BHF), menunjukkan bahwa hanya 1 dari 10 balita ‘generasi iPad’ yang cukup aktif untuk bisa dikategorikan sehat. Artinya sebanyak 9 dari 10 balita di era millenial masuk dalam kategori “sakit” akibat gadget. Padahal seperti diketahui bersama, kecanduan akut terhadap gadget pada anak-anak dapat merusak kesehatan mereka, baik fisik maupun mental. Dalam beberapa kasus, kerusakan yang disebabkan kecanduan gadget hampir sama dengan kecanduan alkohol atau narkoba.

Belakangan, kecanduan gadget pada anak-anak mendapat fokus perhatian lebih. Baik itu dunia medis (psikolog) maupun pemerintah. Berbagai program dilaksanakan agar anak-anak ini tak kehilangan dunianya. Mulai dari penambahan ruang terbuka hijau untuk sarana bermain anak. Hingga program kota/kabupaten ramah anak.

Karena berdasarkan penelitian, anak-anak yang tumbuh dan banyak bermain di ruang atau lingkungan yang hijau (dipenuhi tanaman, red) akan menerima manfaat perkembangan otak yang lebih baik. Terutama perkembangan seperti keaktifan sel otak dan peningkatan memori.

Tak bisa kita menyalahkan teknologi akan adanya fenomena kecanduan gadget, khususnya di kalangan anak-anak. Karena bagaimanapun teknologi tetap memiliki peran dalam membantu perkembangan anak. Itu artinya kita tak bisa serta merta menutup semua akses terhadapnya. Begitu pula sebaliknya, tak bisa sepenuhnya kita “lepas” anak untuk bersentuhan dengan teknologi. Yang dibutuhkan adalah sebuah keseimbangan. Pengawasan dan bimbingan orangtua penting bagi pemanfaatkan sebuah kemajuan teknologi.(yuspita@satelitpost.com)