Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost

Persoalan korupsi, tentunya bukanlah hal baru. Sejak merdeka sampai era reformasi, kita semua sudah tahu ‘keunggulan’ Indonesia untuk hal yang satu ini.

Momentum Hari Anti Korupsi Sedunia yang bakal diperingati beberapa hari ke depan ini, hendaknya dijadikan tolok ukur seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya bagi pemerintah, aparat penegak hukum, dan LSM saja.

Sudah sejauhmana perilaku korupsi yang ada di negeri ini diselesaikan, apakah sudah mengalami kemajuan dalam hal pencegahan dan penanggulangannya atau malah sebaliknya.

Menilik sejarahnya, tanggal 9 Desember 2003 silam negara-negara di dunia menyepakati untuk melaksanakan sebuah Konvensi Anti Korupsi atau United Nations Conventions Against Corruption (UNCAC).

Konvensi yang digelar di Meksiko itu, dipandang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai sebuah pernyataan tekad Internasional untuk memerangi dan memberantas korupsi. Sehingga, PBB menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Anti Korupsi Sedunia.

Dari tahun ke tahun, praktik yang menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara ini, selalu mengalami kemajuan secara signifikan. Meskipun beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi mengklaim bahwa indeks pemberantasan korupsi (IPK) di Indonesia juga terus membaik dari waktu ke waktu.

Korupsi, belakangan bukan dilakukan ‘orang jahat’ saja. Beberapa kasus korupsi, terbukti melibatkan sosok alim paham agama yang ternyata doyan juga makan uang haram.

Hampir setiap hari bahkan setiap menit, berita korupsi rutin ternotifikasi. Baik yang recehan, maupun kasus kelas kakap. Saking tak terhitung jumlahnya, banyak kasus yang akhirnya tenggelam dan hilang terkubur kasus-kasus baru.

Khawatirnya, rakyat makin ‘kebal’ dengan kabar seputar korupsi ini. Berita seputar kasus korupsi yang setiap hari berlalu lalang ini, membuat orang Indonesia mulai tidak kaget lagi.

Kalau sudah sampai menjadi budaya, korupsi tidak bakal bisa dicegah lagi. Ngerinya, gejala itu sudah mulai terjadi dengan banyaknya kasus yang menyeret orang-orang terpandang, tokoh agama, partai, dan beragam profesi yang dulunya dianggap suci dan berkelas.

Godaan melakukan korupsi sepertinya sudah lebih kuat, dari pada menjaga nama besar dan terhormat yang disandang.

Tidak kaget lagi pada kasus korupsi ini, tak kalah berbahayanya dibandingkan korupsi itu sendiri. Lama-lama yang muncul, justru pemakluman pada koruptor. Sehingga, tidak ada lagi hukuman moral pada koruptor dan akhirnya mereka tidak takut lagi.

Bisa saja para koruptor ini, tidak lagi menganggap tindakannya itu sebagai suatu kejahatan. Buktinya banyak yang masih melenggang santai, tanpa merasa berbuat dosa.

Kita semua juga jangan terlalu fokus mengatasi koruptor yang terlanjur banyak di negeri ini, tapi lupa mencegah munculnya koruptor-koruptor baru yang nantinya juga akan menggerogoti bangsa ini.

Tidak jujur atau berbohong, menjadi alternatif ampuh untuk menyelesaikan masalah. Itu pula yang dilakukan para koruptor, mereka berbohong untuk menutupi semua kesalahannya.

Rasanya tak bijak juga kalau kita sibuk menghujat para petinggi yang melakukan kesalahan besar, tapi lupa bahwa kita juga berpotensi melakukan hal yang sama. Tetaplah instropeksi diri, dan budayakan sikap jujur untuk mulai berantas korupsi.(enki@gmail.com)