Rudal Afgani Dirgantara

Redaktur Pelaksana SatelitPost

Gelombang tinggi menerjang pesisir pantai selatan pulau Jawa hingga ke Bali. Pantai di Cilacap, Kebumen, Purworejo, Kulonprogo, Tulungagung, hingga Nusa Dua mengalami kerusakkan akibat empasan gelombang tinggi. Nelayan dipaksa merapatkan perahunya. Pelaku wisata dan pedagang nihil pengunjung. Permukiman yang berbatasan degan pantai direndam banjir rob. Aktivitas ekonomi pesisir lumpuh bersamaan dengan ancaman gelombang tinggi yang diprediksi akan terus berlangsung hingga pekan ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan gelombang tinggi mencapai puncaknya saat gerhana bulan pada Sabtu (28/7). Ya, gelombang tinggi kita akui sebagai bencana yang menyengsarakan. Namun apa sesungguhnya bencana terbesar bagi umat manusia itu? Gelombang tinggikah?

Ketika tugas mulia para penyampai pesan Tuhan adalah pencerahan, yakni membangun rasa kemanusiaan di setiap hati sanubari umat manusia, maka bisa jadi bencana tebesar yang sesungguhnya adalah bencana yang meruntuhkan kemanusiaan itu sendiri. Apa yang meruntuhkan kemanusiaan itu. Jawabannya bisa beragam, satu di antaranya yang baru-baru ini dipertontonkan para narapidana korupsi di Lapas Sukamiskin, Bandung.

Korupsi menjadi bencana terbesar di Indonesia. Kasusnya beragam dan masif. Penulis sendiri, dan mungkin pembaca yang budiman sekalian, tak ingat berapa persis bilangan kasus korupsi yang berhasil diungkap para penegak hukum. Bisa jadi jumlahnya lebih banyak seandainya diakumulasikan dengan yang belum terungkap. Jumlah yang bilangannya sulit dihafal ini satu hal. Hal lainnya, korupsi itu tidak mudah diberantas lantaran sudah mengakar membudaya. KPK berulang kali menangkap tangan koruptor, lalu menjebloskannya ke dalam jeruji besi hingga belasan tahun. Semua berpikir ‘kapok dipenjara hingga belasan tahun!’. Hidup tanpa kebebasan dan serba terbatas.

Namun dugaan itu ternyata keliru. Apa yang baru saja terungkap di Lapas Sukamiskin menunjukkan sebaliknya. Mereka menikmati fasilitas yang tak kalah mewah dengan hotel. Ruang ber-AC, televisi layar datar, perlengkapan memasak, gadget dengan akses internet, hingga peralatan fitness. Ternyata di lapaspun praktik korupsi subur. Kepala Lapas Sukamiskin mencari kekayaan dengan memanfaatkan derita hidup di bui. Setiap napi bisa menikmati kemewahan dengan membayar hingga ratusan juta rupiah. Napi bahkan bisa “jalan-jalan” ke luar lapas asal tarifnya terbayar lunas.

Jika sudah demikian, bagaimana mata rantai korupsi bisa diputus. Ketika bui yang menjadi tempat para pelaku kejahatan “membayar” kejahatan mereka tak lagi berfungsi, maka kejahatan akan terus berulang. Lapas kehilangan ruhnya sebagai “bengkel” untuk memperbaiki penyakit moral. Sehingga mereka yang keluar dari penjara belajar sesuatu, bahwa setiap kejahatan akan mendapat balasan setimpal. Korupsi merusak moralitas, elemen tak kasat mata setiap individu, hingga membuat tatanan sistem tak berjalan. Korupsi menggerogoti bangsa, baik pada dimensi lahiriah maupun batiniah. Korupsi pada sudut pandang yang lain juga diam-diam menebar dosa baru, korupsi membuat kita merasa lebih suci dari mereka para koruptor sehingga kita merasa berhak menhakimi mereka sekehendak hari kita¬† (Sudjiwo Tedjo). Sampai pada waktunya, kita sendiri akan mengalami ujian konsistensi dari kata-kata kita sendiri.

Sebagai wabah yang membudaya, pemberantasan korupsi berupa penindakan hukum koruptor tak menyentuh akar permasalahan. Persoalan korupsi semestinya juga diselesaikan menggunakan pendekatan budaya. Di antaranya mempopulerkan gaya hidup jujur secara masif, serentak dan berkelanjutan. Mengapresiasi setiap tindakan jujur. Upaya itu harus ditumbuhkan pada setiap individu. Semua elemen harus bergerak bersama. Berjalan pada arah yang sama dengan semangat yang sama.

Tidak ada kata terlambat. Bahkan di malam yang gulitapun, Tuhan menciptakan bulan dan bintang gemintang sebagai pencerahan dan penunjuk arah. Maka mari jadikan gerakan melawan korupsi sebagai ihtiar bersama. Kita ciptakan terang di tengah zaman kegelapan. Jika perlu, jadilah gerhana bulan yang menerangi gelapnya malam. Selamat berjuang! (afgan@satelitpost.com)