DEDY AFRENGKI Redaktur SatelitPost
DEDY AFRENGKI
Redaktur SatelitPost

Dalam sepekan terakhir, warga yang bermukim di kawasan pesisir Selatan Jawa diresahkan dengan kabar potensi terjadinya gempa bermagnitudo hingga 8,8 SR dan tsunami setinggi 20 meter. Ancaman bencana dahsyat yang konon hasil kajian pakar tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko ini, tersiar dengan cepat melalui berbagai media sosial.

Dalam pesan berantai yang diteruskan melaluiWhatsApp ini disebutkan, daerah yang berpotensi terkena dampak gelombang tsunami jika terjadi gempa besar meliputi Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk Cilacap hingga ke Jawa Timur.

Sejumlah upaya terus dilakukan pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya, untuk meredam keresahan dan kepanikan akibat kabar tersebut. Dalam pesan berantai berbeda, Bupati Cilacap, H Tatto Suwarto Pamuji juga dikabarkan sudah langsung berkoordinasi dengan jajarannya, untuk mengambil tindakan cepat dan tepat di antaranya dengan melakukan sosialisasi lewat berbagai saluran.

Langkah tersebut, memang harus segera dilakukan. Sebab, keresahan dan kepanikan warga makin menjadi. Bukan hanya karena membaca hasil kajian ilmiah dari BPPT saja, tetapi seperti biasa beberapa foto dan video tentang kondisi terkini di beberapa pantai di Selatan Jawa yang tentu saja tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, ikut meramaikan lini massa.

Informasi terkini di Cilacap, beredar imbauan terbaru untuk membatalkan atau segera meninggalkan kawasan Pantai Teluk Penyu karena dikabarkan air laut sudah menyusut hingga 20 meter. Akibatnya bisa ditebak, warga pesisir makin panik dan beberapa sudah berkemas bahkan ada yang sudah rutin mengungsi ke rumah kerabat saat malam hari.

Untungnya pesan berantai tersebut, langsung diikuti dengan imbauan resmi yang disampaikan langsung oleh Dr Daryono, Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Minggu (21/7).

Dalam imbauannya, masyarakat di Cilacap dan sekitarnya diminta tenang dan tidak perlu dikhawatirkan terkait kabar potensi terjadinya tsunami.

Sikap waspada memang tetap harus dilakukan, tetapi masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Karena malah membuat tidak produktif dan mengganggu aktivitas kehidupan normal.

Karena hingga saat ini, belum ada alat dan ilmu pengetahuan yang dapat memprediksi secara presisi kapan terjadinya gempa, di mana lokasinya, dan berapa kekuatannya. Sehingga, masyarakat jangan mudah percaya isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Hidup di negeri yang cukup rutin terkena bencana mulai dari gempa, gunung meletus, tsunami, banjir, longsor dan banyak lainnya, memang membuat kita semua sangat rentan menjadi korban.

Seharusnya, kita semakin matang dan arif menyikapi bencana. Memang tidak pernah ada yang tahu kapan bencana datang. Tapi satu hal yang pasti, kita berada dan hidup di negeri dengan sederet potensi bencana.

Sayangnya, kebanyakan dari kita belum mengerti soal bagaimana dan apa yang harus dilakukan, saat terjadi bencana alam. Kita sering abai dengan hal-hal yang sebetulnya, bisa menyelamatkan diri kita dan keluarga.

Situasinya diperburuk dengan belum semua pemerintah kabupaten/kota, sadar bencana dan mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuknya.

Berbeda dengan warga Jepang misalnya, rata-rata penduduknya sudah sangat paham soal ini. Saking seringnya tertimpa bencana, pemerintah menerapkan pelatihan sejak dini supaya tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Program itu wajib dan dilakukan secara kontinyu, supaya semua orang selalu siap menghadapinya.

Begitulah rumusnya, kita memang dituntut mampu memahami karakteristik alam tempat di mana kita tinggal. Karena mau tak mau pada akhirnya, kita harus berteman dan berusaha hidup berdampingan dengan bencana. (enki@gmail.com)