Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost
Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Putarlah memori ke tahun sebelum 1998. Masa sebelum reformasi digaungkan. Kata-kata menjadi sangat hati-hati untuk diungkapkan dan dituliskan. Kata menjadi sangat mengerikan jika salah tempat dan waktu ketika diutarakan.

 

Saat itu, kata pun dipilah dan dipilih sedemikian rupa sehingga jangan sampai orang keseleo lidah. Orang-orang akan memilih diam daripada mengungkapkan pernyataan yang bisa menjadi masalah. Sebab, kekuasaan saat itu sangatlah kuat.

 

Presiden dan jajarannya jadi simbol yang jangan sampai dinistakan. Jangankan dinistakan, kritik pun kalau bisa jangan dilakukan. Jangankan orang awam, pejabat sekelas Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono pun sangat berhati-hati untuk memilih dan memilah kata.

 

Orang menjadi sangat berlebihan untuk diam. Padahal kala itu kebebasan berpendapat sudah ada di UUD 1945 (sebelum diamandemen). Pasal 28 UUD 1945 menyebutkan, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan danĀ  tulisan dan sebaganya ditetapkan dengan undang-undang.”

 

Ketika reformasi muncul di tahun 1998, kebebasan berpendapat makin menggelora. Semua orang bisa berpendapat. Kanal-kanal mengeluarkan kebebasan berpendapat yang selama ini tersumbat, terbuka. Forum diskusi ada di mana-mana. Dari ruang kuliah sampai di tepi jalan.

 

Apalagi, kini dengan adanya media sosial, orang yang tak tahu apa-apa pun merasa berhak perpendapat apapun. Pakar sudah sangat luar biasa banyaknya. Sebab, yang bukan pakar pun merasa sudah layak jadi pakar.

 

Kebebasan itu kemudian mengantarkan orang-orang untuk ‘berlebihan’ juga. Ada banyak kasus yang membuat kata-kata diungkapkan secara berlebihan. Satu di antara yang paling baru adalah ada yang mengatakan ‘kepala Presiden Jokowi harus dipenggal’. Dia yang mengungkapkan hal itu adalah Hermawan Susanto yang kemudian ditangkap polisi.

 

Coba putar kembali memori ke puluhan tahun yang lalu ketika arus kebebasan belum seperti saat ini. Apa mungkin seseorang sampai berani bilang akan memenggal kepala presiden? Jangankah mengungkapkannya, memikirkannya pun sepertinya tak akan dilakukan.

 

Dulu orang diam seribu bahasa. Mengungkapkan fakta pun harus berpikir beribu-ribu kali. Kini, jangankan menyuarakan fakta, menyuarakan kebohongan pun menjadi biasa. Kabar yang tak pernah terjadi digulirkan sedemikian rupa alias kabar hoaks. Orang sangat berani berkata dan memberikan informasi yang tak pernah terjadi.

 

Jika dulu ada orang diamnya berlebihan. Ketika diperlakukan tidak adil, hanya diam seribu bahasa. Kini, ada orang yang mengeluarkan pendapatnya melalui lisan atau tulisan secara berlebihan juga. (kholil@satelitpost.com)