Berulang

Durga, si gadis kecil itu ditawan, diseret ke tepi hutan. Dua orang dengan setengah kesadaran karena menenggak minuman keras, kemudian merudapaksa Durga. Setelahnya, si anak itu dinyatakan hilang.

Rudra, sang ayah, pontang-panting ke sana ke mari. Dia menemui pedagang, menanyakan keberadaan anak gadis kecilnya, merayap di tepian desa memburu darah dagingnya. Tak diketahui rimba si Durga itu. Lalu, kabar berembus kencang dan Durga ditemukan dengan luka dan trauma psikologis luar biasa.

Polisi kemudian dengan cerdik mampu menangkap dua orang pelaku rudapaksa. Dua pelaku itu, adalah anak dari orang terpandang di desanya Rudra. Dari cerita ini kemudian keruwetan terjadi. Polisi disuap oleh ayah pelaku rudakpaksa. Dokter yang awalnya seperti malaikat karena menolong Durga, coba disogok agar tak buka mulut.

Dengan nada keras, si dokter menolak. Tapi, si malaikat ini kemudian berubah jadi iblis. Dia menolak, tapi meminta uang yang lebih besar. Pengacara pelaku, ruwetnya bukan main. Memompa keinginan ke mana saja. Menawarkan uang pada siapa saja supaya bisa bungkam dan kasus asusila itu tak terbongkar.

Potret keruwetan kehidupan di desa itu jadi alur cerita film India berjudul Pitaah, dirilis tahun 2002. Sebuah film yang tak ‘ramah’ pada zamannya. Sebab, di masa itu, film romantis jadi jualan paling laris. Pitaah malah seperti film dekade 80-an, yang kental dengan balas dendam.

Pitaah telah mengulang cerita lama tentang ketidakadilan. Kejumudan seperti bertautan dengan kritik melalui film itu. Sebab, bukan kali pertama film di negeri Mahatma Gandhi itu memotret ketidakadilan, penegak hukum yang korup, cerita ketimpangan sosial.

Bayangkan saja jika cerita tentang hal-hal buruk itu berulang tak terkendali, seperti Mahesh Manjrekar mereproduksi ketidakadilan melalui Pitaah. Lalu, satu potret pengulangan hal buram itu juga terjadi di Banyumas, Senin (9/10). Wartawan jadi objek kekerasan. Padahal, sudah berulangkali diungkapkan jika kerja wartawan dilindungi undang-undang.

Bukan kali pertama aksi kekerasan aparat pada wartawan terjadi. Jadi ada kekerasan pada jurnalis, lalu ada dikecam. Tapi kemudian tetap ada kekerasan pada jurnalis lagi, ada pengecaman. Tapi kemudian berulang lagi.

Jika ada pihak yang tak lelah melakukan tindakan tak terpuji, maka jangan heran juga jika ada pihak yang tak lelah melawan. Maka, makin lama cerita buruk tentang kekerasan pada wartawan terus berulang maka gelombang protes bakal membengkak.

Kasus di Banyumas telah memantik aksi solidaritas di berbagai tempat. Di antaranya di Purbalingga, Cilacap, Banyumas, Kendal, Grobogan, Pekalongan, dan beberapa tempat lain. Tentu harapannya kasus kekerasan pada wartawan tak berulang. Perlu pemahaman bersama bahwa tugas wartawan dilindungi undang-undang. Selain itu, jika kasus kekerasan tak diusut tuntas, maka kekhawatirannya adalah reproduksi kekerasan itu akan kembali terjadi.

Jangan sampai kemudian, potret sosial yang berulang ini hanya akan jadi kritik yang tak berguna, seperti reproduksi film Pitaah. Film yang mereproduksi ketidakadilan, di tengah fakta bahwa ketidakadilan itu masih terus ada. ([email protected])

Komentar

komentar