Dyah Sugesti Asisten Redaktur SatelitPost
Dyah Sugesti Asisten Redaktur SatelitPost

Belakangan berita penemuan mayat dan bunuh diri seringkali bersliweran di area Banyumas Raya. Alasan yang diduga beberapa diantaranya adalah faktor ekonomi dan depresi. Bulan lalu, mayat laki-laki di dalam mobil yang sempat menghebohkan warga Desa Kemutug Kidul, Kecamatan Baturraden. Mayat pria ini ditemukan lemas dalam kondisi tergantung. Diduga ia bunuh diri karena mengalami masalah ekonomi.

Sementara kemarin, seorang kakek bernama Nawikarta (75), warga Desa Karangtengah RT 2 RW 4, Kecamatan Baturraden nekat mengakhiri hidupnya. Kejadian tersebut sontak membuat warga sekitar terkejut, Minggu (10/2). Diduga, almarhum nekat bunuh diri karena sakit menahun dan tak kunjung sembuh.

Wikipedia mencatat, gangguan jiwa seringkali terjadi pada seseorang saat melakukan bunuh diri dengan angka kejadian berkisar antara 27 persen hingga lebih dari 90 persen. Orang yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa memiliki risiko melakukan tindakan bunuh diri yang berhasil sebesar 8.6 persen selama hidupnya. Sebagian dari orang yang meninggal karena bunuh diri bisa jadi memiliki gangguan depresi mayor.

Orang yang mengidap gangguan depresi mayor atau salah satu dari gangguan keadaan jiwa seperti gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi, hingga mencapai 20 kali lipat, untuk melakukan bunuh diri. Riwayat percobaan bunuh diri pada masa lalu merupakan alat prediksi terbaik terjadinya tindakan bunuh diri yang akhirnya berhasil. Kira-kira 20 persen bunuh diri menunjukkan adanya riwayat percobaan pada masa lampau.

Media, termasuk internet, memainkan peranan penting. Cara menyajikan gambaran bunuh diri mungkin saja memiliki efek negatif dengan banyaknya tayangan yang mencolok dan berulang tindakan bunuh diri.Hal ini tentu bisa memberikan dampak terbesar.

Pemicu penularan bunuh diri atau peniruan bunuh diri ini dikenal sebagai efek Werther, yang diberi nama berdasarkan tokoh protagonist dalam karya Goethe yang berjudul The Sorrows of Young Werther yang melakukan bunuh diri. Risiko ini lebih besar pada remaja yang mungkin “meromantiskan” kematian.

Kebalikan dari efek Werther adalah pengusulan efek Papageno, yaitu cakupan yang baik mengenai mekanisme cara mengatasi masalah secara efektif, mungkin memiliki efek perlindungan. Istilah ini didasarkan pada karakter dalam opera Mozart yang berjudul The Magic Flute yang akan melakukan bunuh diri karena takut kehilangan orang yang dicintainya sampai teman-temannya menyelamatkannya.

Metode utama bunuh diri juga berbeda-beda antar negara. Metode utama di berbagai wilayah di antaranya gantung diri, minum racun pestisida, dan senjata api. Sebuah tinjauan pada 56 negara menemukan bahwa gantung diri merupakan metode yang paling umum di sebagian besar negara, dengan angka 53 persen untuk kasus bunuh diri pada pria dan 39 persen untuk kasus bunuh diri pada wanita.

Sekali lagi, bunuh diri bukan lagi persoalan apakah iman mereka lemah atau kesurupan setan. Kesehatan mental tiap orang sangat berbeda dan inilah menjadi pemicu utama perilaku bunuh diri. Kita mungkin tidak bisa menjadi penyelamat di saat kejadian berlangsung, tapi minimal bisa mencegah dengan belajar lebih peka dan empati. Mereka yang pernah hampir bunuh diri atau bahkan telah melakukan bunuh diri sesungguhnya butuh pertolongan, bukan penghakiman apalagi hinaan. Salam.(sugesti@satelitpost.com)