Tidak lama lagi, masyarakat Purwokerto dan Purbalingga bakal punya pilihan angkutan umum yang baru. Dalam waktu dekat ini, Dinas Perhubungan bakal segera mengoperasikan Bus Rapid Trans (BRT) dari Purwokerto ke Purbalingga dan sebaliknya.

Awalnya, peluncuran moda transportasi massal di bawah pengelolaan Trans Jateng ini, ditargetkan Juli ini.

Tetapi sebagaimana dimuat SatelitPost beberapa waktu lalu, Kasi Angkutan Dishub Kabupaten Banyumas, Taryono mengatakan, pengoperasiannya terpaksa tertunda karena proses pelelangan yang tidak tepat waktu.

Di tahap awal pengoperasiannya, Dishub sudah menyiapkan sedikitnya 14 armada. Pada koridor I rute Purwokerto-Purbalingga itu, bus bakal berhenti di 43 shelter, dengan rincian 23 di wilayah Kabupaten Banyumas dan 20 lainnya di Kabupaten Purbalingga.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, konsep BRT ini sudah diterapkan hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Awal mulanya di Jakarta, kemudian diikuti Yogyakarta, Solo, Bogor, Semarang, Bandung, dan terkini Purwokerto-Purbalingga.

BRT ini, memang terbilang konsep transportasi publik paling sederhana di antara moda transportasi massal dan cepat lainnya. Sebab, untuk pengaplikasiannya tidak membutuhkan infrastruktur jalur khusus yang berbiaya besar, seperti monorail atau subway.

Tetapi karena kesederhanannya itu, maka label BRT sepertinya menjadi kurang pas. Sesuai namanya, kata rapid merujuk pada arti cepat. Sementara transit, berarti bus itu nantinya tidak berjalan terus-menerus tetapi berhenti di titik-titik tertentu.

Sehingga idealnya, BRT harus mewakili dua konsep dasar tersebut; berjalan cepat dan berhenti di titik-titik tertentu.

Di negara asalnya di Kolombia, BRT dibuat dengan jalur khusus seperti yang diadopsi pada Tran Jakarta dengan busway-nya. Sehingga BRT berjalan seperti kereta yang cepat dan tentu tepat waktu, sesuai tuntutan publik penggunanya.

Sementara BRT di kota-kota lain yang sekarang sudah ada, penerapannya hanya mengunggulkan halte khusus dan jalur trayek jelas saja.

Lantas banyak yang kemudian mempertanyakan, apa bedanya dengan bus biasa? Sebab, tidak ada jalur khusus, ketepatan waktu juga tidak dijamin, kecepatan tempuh juga tidak bisa dipastikan karena masih harus rebutan jalan dengan kendaraan umum lainnya.

Pembangunan shelter-shelter-nya juga terkesan ‘coba-coba’ dan apa adanya. Shelter yang didirikan, justru mengorbankan jalur pejalan kaki. Beberapa di antaranya, bahkan sampai benar-benar membabat habis jalur trotoar.

Dari pengalaman mencoba menggunakan BRT di beberapa kota lain selain Jakarta, BRT di daerah malah mengabaikan konsep transit-nya. Karena seharusnya, kata transit yang disematkan tidak hanya merujuk pada titik persinggahan semata.

Tetapi idealnya adalah keberlanjutan dan integrasi dengan moda angkutan lain ke tujuan tertentu yang berada di luar jangkauan. Sayangnya, kebanyakan setelah turun dari halte tertentu si penumpang masih dibuat bingung melanjutkan perjalanannya dengan apa?

Tulisan ini hanya opini pribadi dan bukan merupakan hasil kajian ilmiah. Kita semua tentu berharap, kehadiran Trans Jateng Koridor I rute Purwokerto-Purbalingga ini mampu menjawab kebutuhan angkutan massal yang murah dan mengedepankan kenyamanan. (enki@gmail.com)