Topan Pramukti Redaktur Pelaksana satelitpost.com
Topan
Pramukti
Redaktur
Pelaksana
satelitpost.com

Hampir sepuluh tahun belakangan ini, Indonesia getol banget bicara soal clean energy. Nggak hanya bicara, bangsa kita bahkan mampu memproduksi bermacam hal dalam upaya mengampanyekan clean energy kepada masyarakat dunia.

Kincir angin, pembangkit mikro hidro, sampai panel surya untuk memproduksi energi terbarukan digenjot di sana-sini. Endingnya? ah, kita tetap saja pakai energi fosil walaupun seantero Indonesia sempat geger setelah premiernya, Sexy Killers.

Sepuluh tahun terakhir juga membuat kita belajar banyak hal. Kita mulai dikenalkan pada mobil-mobil listrik produksi anak-anak bangsa. Yang buat saya, semuanya salah pilih nama. Mulai Tucuxi, Gendhis, Selo, Evina, Hevina, atau yang paling parah Si Elang. Nama terakhir sepertinya lebih layak digunakan untuk menamai pesawat ketimbang mobil.

Indonesia memang lucu saat mencoba menamai mobil-mobil nasional, Anoa misalnya. Sebuah panzer yang seharusnya disemati nama yang lebih agresif. Eh, namanya malah diambil dari kerbau kuntet herbivora yang nggak ada ganas-ganasnya. Selo apalagi. Entah apa yang ada di kepala sang mekanik saat menamai mobilnya Selo.

Ehtapi, saya nggak akan bicara soal nama. Karena topiknya adalah clean energy saya ingin bercerita tentang sebuah PR Stunt yang belakangan ini menghiasi timeline media sosial saya. PR Stunt yang dilakukan oleh sebuah perusahaan start up lokal. Saking hebatnya, CEO perusahaan tersebut bahkan disebut-sebut sebagai Elon Musk-nya Indonesia.

Sejak awal kemunculan perusahaan tersebut, saya sering sekali mencoba bertanya soal produk-produk mereka, terutama Powerwall. Sebuah energy storage yang diklaim mampu membawa kita meninggalkan dunia prasejarah energy fossil dan melangkah tegap menatap masa depan. Namun, sampai saat ini mereka tak memberikan jawaban.

Namun, belakangan mereka bicara dengan media massa. Mereka mengklaim telah menemukan solusi penyimpanan energi yang dapat dijual dengan harga sangat murah, hanya Rp 234 juta. Nah, saya merasa sedikit djavu. Sebab, yang terjadi saat ini hampir seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Saat Dahlan Iskan membeli Tucuxi dengan harga Rp 1,5 M atau saat Dasep Ahmadi jadi pesakitan saat jualan mobil listrik yang bentuknya seperti kutukan Toyota Alphard. Saat itu, ada juga mobil-mobil macam Fisker Karma yang dijual dengan harga yang lebih sensible.

Rasanya sama, mirip sekali bahkan. Karena apa Rp 234 juta yang buat saya bukan harga murah ternyata juga jauh lebih mahal dari apa yang dipasarkan di luar negeri. Lebih mahal dari apa yang dibuat oleh perusahaan yang lebih besar dan bonafide.  Sebut saja, power wall milik Tesla yang hanya dijual 3.000 dolar AS atau sekitar Rp 41 juta.

Tapi, saya berharap besar dengan perusahaan Indonesia yang satu ini. Semoga mereka tak sebatas PR Stunt untuk keperluan tertentu, jual saham misalnya. Semoga mereka benar-benar hendak membawa Indonesia kea rah yang lebih baik.(topan@satelitpost.com)