Topan Pramukti Asisten Redaktur SatelitPost

Indonesia tengah berduka. Indonesia kehilangan lima putra terbaiknya, lima orang polisi anggota Densus 88 yang gugur dalam operasi penanganan kericuhan di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Kelima putra terbaik tersebut adalah, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Brigpol Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.

Gugurnya lima putra bangsa ini mendapatkan respons positif dari seluruh negeri. Dari tingkat atas, pemerintah langsung memberikan gelar luar biasa kepada mereka yang gugur. Respons juga datang dari masyarakat umum yang merasa iba dengan keluarga yang ditinggalkan pada pahlawan tersebut.

Tak hanya simpati yang datang dari pelosok negeri. Seorang warga Jakarta bernama Jonathan Latumahina (37) yang merasa sangat terpukul karena kejadian ini bahkan langsung mengumpulkan donasi untuk keluarga para polisi.

Simpatinya ditunjukkan melalui sebuah agenda penggalangan dana bertajuk Sumbangan Keluarga 5 Polisi Korban Teror Depok. Penggalangan dana ini dilancarkan melalui laman web kitabisa.com.

Jonathan mengatakan, meski tak memiliki hubungan langsung dengan korban dan keluarganya, ia tergerak untuk menggalang donasi bagi mereka.  Kampanye penggalangan dana ini akan berlangsung hingga 30 hari ke depan dan menargetkan Rp 500 juta.

Apa yang dilakukan Jonatan patut diacungi jempol. Hal-hal semacam ini seharusnya menjadi sebuah teladan bagi masyarakat luas di seluruh penjuru nusantara. Dengan penggalangan macam ini, beban masyarakat yang terkena musibah mungkin bisa diringankan.

Karena bagaimanapun juga, banyak masyarakat Indonesia yang berhak mendapatkan uluran tangan macam ini. Mereka yang jauh lebih tidak beruntung dari keluarga para anggota Densus 88 yang gugur dalam kejadian pilu kemarin.

Mengapa saya sebut tidak seberuntung keluarga korban aksi terorisme kemarin? Karena sebagai abdi negara, para anggota Densus yang gugur di Mako Brimob Depok tersebut memiliki hak-hak khusus dari negara.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) 102 Tahun 2015 yang menggantikan aturan sebelumnya yakni PP Nomor 67 tahun 1991 disebutkan dengan tegas, santunan risiko kematian bagi anggota Polri, TNI, dan PNS Kemenhan yang meninggal karena gugur dalam bertugas kini mencapai Rp 400 juta. Sedangkan korban meninggal dalam kategori tewas mendapat santunan Rp275 juta.

Selain santunan tersebut, keluarga yang ditinggal juga mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan bagi putra-putri mereka.

Bantuan dan penggalangan dana semacam ini seharusnya juga aktif dilakukan untuk mereka-mereka yang menjadi korban bencana alam dan kejadian pilu lainnya. Sebagai contoh, 15 kepala keluarga di Tambak, Banyumas. Mereka kehilangan rumah dan mata pencaharian karena tanah longsor di Grumbul Plandi, Juni 2016 lalu. Sekitar dua tahun mereka menunggu kepastian terkait hunian pengganti dari pemerintah.

Setelah hunian rampung, para warga pun masih dipusingkan masalah pekerjaan. Mereka yang sebagian besar hidup dari kawasan hutan di sekitar tempat tinggal lamanya mengaku tak tahu harus mencari nafkah dengan cara apa jika sudah dipindahkan ke tempat yang baru.

Apa yang dialami para warga Tambak ini merupakan sebuah contoh kecil bahwa di Indonesia ada banyak sekali masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Mereka yang juga berharap dapat bantuan dari dermawan macam Jonatan.(pan)