Setiap saat kita selalu memimpikan Timnas Indonesia bisa tampil di ajang Piala Dunia. Atau pada ajang sea Games, Asian Games maupun kejuaraan sepakbola lainnya seperti Piala AFF, Piala Asia selalu berharap tim Merah-Putih akan juara.

Melalui kompetisi sepakbola dalam negeri satu tujuannya akan memunculkan pemain-pemain berkualitas untuk bisa membela timnas. Namun sayang, kompetisi sepakbola kita hingga kini masih saja diwarnai aksi kerusuhan, anarkisme, baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

Sepabola sejatinya untuk mempersatukan tetapi melihat kerusuhan antarsuporter yang kerap terjadi justru  malah memicu permusuhan. Tak lain fanatisme berlebihan masing-masing suporter, sehingga kerusuhan sulit dicegah. Dalam hal ini diperlukan kedewasaan suporter. Bahwa sepakbola bagian dari olahraga sangat menunjung sportivitas dan suporter sebagai pemain ke-12 semestinya turut menjunjung sportivitas tersebut. Ketika timnya kalah ya tak usah ribut, ketika timnya menang ya tak usah merendahkan lawannya secara berlebihan.

Dalam lanjutan Liga 3 Indonesia  2018 pertandingan PSIM Yogyakarta lawan PSS Sleman kembali menelan korban jiwa. Satu suporter PSIM meninggal diduga akibat terlibat kerusuhan usai pertandingan di luar stadion. Lalu Persibas lawan PSCS Cilacap di GOR Satria akhir pekan lalu, walau masih satu rumpun namun dua kesebelasan sama-sama memiliki suporter yang sangat fanatik sehingga gesekan antarsuporter tak terelakan.

Sampai kapankah kita bisa menikmati tontonan sepakbola terutama pada ajang kompetisi dalam negeri tanpa kerusuhan? Kapankah persepakbolaaan kita akan maju kalau masih level satu eks-karesidenan saja sudah saling rusuh, seolah melihat suporter lawan sebagai musuh?

Yuk, benahi pola pikir kita, dewasa sebagai suporter tanpa fanatis berujung anarkis. Suporter-suporter klub-klub besar dunia saja sudah bisa meninggalkan aksi brutal saat mendukung klub kesayangannya. Kenapa kita tidak bisa?

Dalam sejarahnya kerusuhan suporter sepakbola ini sudah berlangsung lama. Tragedi demi tragedi  terjadi. Tetapi tragedi yang terjadi dapat jadi pelajaran bersama, didukung kebijakan-kebijakan penyelenggara kompetisi, sanksi berat badan sepakbola terkait terhadap anarkis suporter  sehingga tragedi kerusuhan suporter tak terulang kembali.

Kita tahu sepakbola merupakan olahraga favorit masyarakat. Dapat jadi hiburan tersendiri dengan bermain maupun menonton sepakbola di tengah himpitan ekonomi. Timnas Indonesia U-16 sedang bertanding pada Piala AFF. Sebentar lagi akan ada Asian Games. Mari kita dukung bersama, jadilah suporter yang dewasa demi kemajuan sepakbola Indonesia. (ekadila@satelitpost.com)