Fenomena Pil Mumbul

Tiga hari terakhir ini, pemberitaan di media massa dan media online kembali diramaikan dengan berita seputar penyalahgunaan obat-obatan. Puluhan remaja di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) akhirnya dilarikan ke beberapa rumah sakit lantaran mengalami gangguan mental usai mengonsumsi Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC).

Kasus ini bermula dari adanya 30 pasien yang berobat ke Rumah Sakit Jiwa Kendari, dengan dugaan keracunan obat-obatan.

Hasilnya mencengangkan. Korban obat ilegal yang tidak memiliki izin edar dan dijual perorangan tanpa adanya kemasan ini, tergolong parah dan terus bertambah mencapai 50 orang.

Mereka dilarikan ke beberapa rumah sakit dan yang terbanyak RS Jiwa Kota Kendari. Saking banyaknya, pasien sampai terpaksa ditangani di koridor. Enam di antaranya adalah perempuan dewasa dan tiga orang lainnya termasuk seorang siswa SD kelas 6 akhirnya meninggal dan puluhan lainnya masih dalam perawatan intensif.

Dalam sejumlah pemberitaan disebutkan, para korban penyalahgunaan PCC mengalami gangguan mental, hilang kesadaran, berontak, dan kepanasan. Sehingga semua korban harus dirawat dengan tangan dan kaki terikat, ada pula yang dimasukan di dalam sel di Rumah Sakit Jiwa.

Hingga kini, bahkan ada korban yang masih koma dengan gejala awal hilang kesadaran, hingga mengalami gangguan jantung.

Lima orang oknum sudah ditangkap terkait kasus tersebut. Dari tangan mereka, disita dan diamankan 2.631 butir pil PCC yang dikenal dengan nama lokal di kota Kendari sebagai pil ‘mumbul’.

Obat racikan ini, dikabarkan sudah beredar luas. Tidak saja di kalangan remaja mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA, bahkan didapati ibu rumah tangga juga menjadi pecandu mumbul.

Sangat menyesakkan, anak SD yang menjadi korban tewas ini diketahui memperoleh pil mumbul dari sang bibi yang juga pecandu.

Efek obat ini, sepertinya tidak lagi sekedar membuat melambung alias nge-fly. Penggunanya cenderung seperti zombie, kejang-kejang, dan dikait-kaitkan dengan narkoba jenis flakka karena efek keduanya mirip.

Semoga kejadian luar biasa ‘mumbul massal’ di kota Kendari ini, membuka mata kita semua betapa ganasnya pengaruh narkotika dan obat-obatan terlarang. Narkoba menjadi teror di Indonesia karena penyebaran dan penyalahgunanya sudah tak mengenal usia dan status sosial lagi.

Wajah bangsa ini semakin tak karuan atas serentetan peristiwa memilukan ini. Mulai dari soal Korupsi yang tiada henti, menguatnya radikalisme, hingga terorisme berkedok agama atau politik.

Tapi mungkin yang paling memilukan soal narkoba ini. Karena faktanya, cerita sukses penangkapan dan pengungkapan kasus narkoba di Tanah Air tidak diikuti dengan pengendalian permintaan atas barang haram ini.

Belum lama ini, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjem Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan, sedikitnya ada 250 ton sabu yang masuk dan siap diserap pasar Indonesia. Ini gila!

Idealnya, kesuksesan menekan peredaran narkoba diikuti dengan menurunnya permintaan. Karena itu, kepolisian, pemerintah daerah, sekolah, serta masyarakat baik secara organisasi maupun pribadi, harus bersama-sama mengantisipasi peredaran dan penggunaan narkoba lebih aktif lagi. (dedyafrengki@yahoo.co.id)

Komentar

komentar

BAGIKAN