Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Ratna Sarumpaet bukan orang kemarin sore yang muncul melalui ajang pencarian bakat. Dia bukan orang yang muncul secara kebetulan melalui aksi gila di dunia maya, lalu tenar dan berlimpah uang. Ratna telah melanglangbuana dengan dunianya, dengan kritiknya, sudah sejak lama.

 

Saat kasus meninggalnya buruh bernama Marsinah di tahun 90-an mencuat, Ratna memilih mementaskannya. Di masa itu, aksi Ratna pun bisa dikatakan berani. Sebab, di masa itu, tidak semua orang berani bicara, apalagi bicara seenaknya.

 

Saat kasus Marsinah ditutup, Ratna pun keliling dengan pentasnya dengan judul ‘Marsinah Menggugat’. Kemudian, aksinya dan kritiknya yang berani itu membuatnya merasakan konsekuensi. Ratna dipenjara di masa akhir pemerintahan Presiden Soeharto.

 

Ratna bukan orang kemarin sore yang muncul dan tenggelam secepat kilat. Dia merasakan bagaimana berjuang melawan ketidakadilan melalui teater. Dia tentu berlatih vokal, meresapi naskah, eksplorasi penokohan, seperti yang dilakukan pegiat teater zaman lampau.

 

Kemudian, tak heran jika saat ini dia berseberangan dengan pemerintahan. Sebab, dari dulu dia memang seperti itu. Jika kemudian ada yang sepakat dan tidak, pada apa yang dia lakukan, itu soal pilihan politik saja.

 

Lalu, kemudian Ratna membuat heboh dengan mengaku dianiaya. Berita menyebar tak keruan. Simpati berdatangan tak henti-henti. Tapi nyatanya, Ratna berbohong. Dia tak dianiaya, tapi melakukan operasi plastik sehingga wajahnya sempat lebam tak menentu. Ratna kemudian meminta maaf. Dia yang sudah berpengalaman itu, memilih menyalahkan setan!

 

Ratna seperti membuat gol bunuh diri saat pertandingan sepak bola akan selesai. Dia kemudian tak punya kawan. Sebab, semuanya sudah menjadi lawan. Ratna pun sudah sahih menjadi penyebar hoaks.

 

Ketika sengkarut masalahnya belum reda, Ratna ingin pergi ke Chile. Di bandara, dia diamankan polisi. Lalu, Ratna ditetapkan sebagai tersangka. Dengan pengakuan dosanya, sepertinya jerat hukum akan sangat kuat melilit Ratna.

 

Apa yang dilakukan Ratna Sarumpaet besar kemungkinan akan mematikan aksinya di dunia perpolitikan atau mungkin di dunia seni yang telah membesarkannya. Ratna sepertinya harus membangun puing-puing namanya yang hancur karena bencana yang dia buat sendiri.

 

Membangun kembali kepercayaan itu butuh waktu bertahun-tahun, bahkan bisa puluhan tahun. Di usia saat ini yang sudah 70 tahun, bisa jadi nama Ratna akan berkibar kembali 10 atau tahun yang akan datang, ketika orang sudah banyak lupa dengan catatan-catatan sejarah. Ya, 10 atau 15 tahun lagi ketika Ratna sudah makin menua, tapi tidak dengan wajahnya. Wajah yang bisa jadi tetap kencang dengan operasi plastik itu. (kholil@satelitpost.com)