Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Namanya Paolo Guerrero. Sematan ban kapten melingkar di lengannya. Dia jadi pemimpin dan penyerang Timnas Peru. Satu ketika, musibah itu terjadi, tepatnya kala sebelum laga melawan Argentina di kualifikasi Piala Dunia 2018, tahun 2017. Guerrero minum teh, seperti kebanyakan orang meminumnya.

Namun, belakangan diketahui jika di dalam teh itu ada obat-obatan terlarang. Guerrero ketahuan dan disanksi oleh otoritas sepak bola dunia. Awalnya, dia disanksi tak boleh bermain selama 12 bulan. Tak terima dengan keputusan itu, Guerrero banding. Namun, sanksi baginya malah bertambah menjadi 14 bulan.

Impian Guerrero hancur. Dia pun tak bisa bermain di Piala Dunia 2018. Padahal, saat ini usianya sudah 34 tahun dan Piala Dunia 2018 adalah ajang pertama bagi Guerrero. Sebab, sudah 36 tahun Peru tak berpartisipasi di piala dunia. Dengan usia seperti itu, maka kemungkinan dia bermain di Piala Dunia 2022 akan sangat kecil.

Alasannya, saat 2022, Guerrero sudah berusia 38 tahun. Usia di mana sudah sangat tidak mumpuni untuk berlari secara maksimal. Usia yang dalam sepak bola sudah dikatakan sangat uzur. Belum lagi, jika di tahun itu dia cedera, maka kemungkinan bermain di piala dunia pun akan musnah. Bahkan, belum tentu juga pada 2022, Peru bisa berpartisipasi di piala dunia.

Kemudian, di tengah sanksi itu, drama terjadi. Orang-orang di Peru membela Guerrero habis-habisan. Mereka meminta agar Guerrero bisa bermain di Piala Dunia 2018. Otoritas sepak bola Peru pun meminta agar FIFA menghapus sanksi pada Guerrero. Sebab, sekali lagi, Guerrero tak sengaja mengonsumsi obat-obatan terlarang. Guerrero tak tahu jika dalam teh yang dia minum mengandung obat-obatan terlarang.

Namun, cerita paling inspiratif dalam geliat persaingan menuju Piala Dunia 2018 terjadi ketika tiga orang kapten timnas meminta pada FIFA agar Guerrero bisa ikut Piala Dunia 2018. Mereka meminta sanksi pada Guerrero dibatalkan karena Guerrero tak sengaja mengonsumsi obat-obatan terlarang. Tiga kapten itu adalah Hugi Lloris, Mile Jedinak, dan Simon Kjaer. Siapa mereka?

Hugo Lloris adalah kapten Timnas Prancis. Mile Jedinak adalah kapten Timnas Australia. Simon Kjaer adalah kapten Timnas Denmark. Perlu diketahui, Prancis, Denmark, dan Australia adalah lawan Peru di Piala Dunia 2018. Keempat tim tersebut berada di grup C.

Sepak bola kemudian mengajarkan tentang empati. Tentang rasa solidaritas. Mereka mati-matian mendukung salah satu andalan calon lawan. Sepak bola menunjukkan bahwa pertarungan adalah pertarungan di lapangan, selebihnya, tak ada pertarungan itu. Yang ada adalah empati, rasa solidaritas yang tinggi.

Potret kasus Guerrero itu mengajarkan solidaritas jauh lebih dalam daripada tensi politik yang sering kita lihat. Politik mengajarkan persaingan yang kadang tak sehat. Kalau bisa lawan politik dijungkalkan sebelum permainan. Kalau bisa serangan tak sehat digulirkan segencar-gencarnya di dunia maya.

Politik sering terlihat lebih kotor daripada kontestasi para atlet di dunia olahraga. Padahal, bisa jadi, hanya untuk jadi politisi, tak bermodal keringat bercucuran tiap hari, tak bermodal menyehatkan badan yang melelahkan. Bayangnkan saja, kemenangan yang jadi puncak olahraga, bisa dikesampingkan sementara atas nama solidaritas sesama atlet.

Dan kabar terbaru soal Guerrero menjadi mencengangkan. Usaha dari orang-orang di Peru dan dukungan dari calon lawan, membuat Guerrero bisa bermain di Piala Dunia 2018. Sanksi yang didapatkannya sementara ditangguhkan. Semua orang di dunia pun meyakini, saat Guerrero membela Peru dan melawan lawan yang telah membantunya, dia akan tetap profesional. Dia tentu tak akan mengalah karena perbuatan baik dari para kapten calon lawannya. Dia tetap akan berusaha mencetak gol ke gawang lawannya di Piala Dunia 2018. Karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang penyerang dan pemimpin Timnas Peru di lapangan. ([email protected])