Hukum Kasih

RD Ag Dwiyantoro Imam Gereja St Yosep Purwokerto.

Oleh : RD Ag Dwiyantoro

Imam Gereja St Yosep Purwokerto

            Di perkampungan gunung bersalju, tinggalkan seorang pandai besi. Alaz Kaztiwa namanya. Ia mempunyai dua anak dan seorang istri. Mereka ulet bekerja. Selain mengolah besi untuk alat pertanian dan transportasi, juga membuat pagar rumah. Selain itu masih punya samben, memperbaiki sepatu. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang taat pada yang Mahakuasa. Religius mereka karena tempaan alam yang dahsyat dan kepekaan mengelola hidup membuat mereka tidak hanya mengandalkan diri atau alam tetapi juga yang Kuasa. Termasuk keluaga Alaz Kaztiwa ini.

Suatu ketika terdengar suara Tuhan di bengkel besi miliknya. Tuhan mengatakan bahwa Dia akan datang mengunjungi mereka keesokan harinya. Sebagai orang yang taat beragama, mereka bersiap-siap menyambut kedatangan Tuhan. Baju dikenakan dengan lebih luwes. Rumah dibersihkan dan dirapikan lebih dari biasanya. Sup kacang merah hangat dengan sedikit daging disajikannya.  Hari itu mereka tidak bekerja karena mereka akan dikunjungi Tuhan.

Cuaca pagi ini memang lebih buruk dari hari kemarin. Salju cukup tebal jatuh di perkampungan mereka. Udara dingin bisa menyusup ke tubuh. Mereka telah biasa dengan keadaan itu. Baju hangat juga sudah dikenakan. Anak-anak sedang asyik duduk di depan perapian. Tiba-tiba pintu diketuk. “Itu tentu Tuhan yang datang! Cuaca begini kita tidak pernah ada yang keluar rumah!” seru Alaz pada istrinya. Bergegas ia membuka pintu. Namun yang datang seorang kakek yang kedinginan dan kelaparan. Badannya menggigil kencang. Wajahnya sudah lesu. Alaz teringat sup yang disajikan di meja. Lalu ia menyuguhkan sup itu kepada kakek. Tidak tega hatinya melihat kondisi kakek. Istri dan anak-anaknya sebenarnya keberatan sup diberikan pada kakek. “Kita bisa memasaknya lagi!” begitu sanggahnya.

Sesudah beberapa saat saat, si kakek berpamitan melanjutkan perjalanan ke desa sebelah. Tiba tengah hari mereka masih menunggu Tuhan datang. Tepat lonceng berdentang, pintu rumah Alaz diketuk. “Itu lonceng jangan-jangan lonceng tempat ibadah”. Mulai sedikit ragu karena suara ketukan pintu begitu lembut. Rupanya tetangga Alaz yang datang mengetuk pintu seraya memohon bantuannya meminjamkan kereta salju untuk mengantar anaknya berobat di kampung sebelah. Dengan ikhlas Alaz meminjamkan keretanya.

“Kita masih akan menunggu. Barangkali sore hari ini Tuhan datang. Masih ada waktu untuk persiapan kita!” Imbaunya pada istri dan anak-anaknya. Tepat pukul enam sore terdengar ketukan pintu lagi. Yakinlah bahwa kali ini Tuhan datang. Saatnya sungguh tepat seperti yang didengar dalam kisah Emaus, Yesus sang Mesias, yang telah bangkit datang ke rumah murid Emaus, setelah bersama berjalan dari Kota Yerusalem. Di Emaus itu mereka menerima Yesus. Suasananya sore hari dan Yesus lalu makan bersama dengan murid Emaus itu.

Alaz terkenang dengan kisah itu. Ia percaya Tuhan juga berkunjung pada saat yang tepat kali ini. Ketika ia membuka pintu, didapatinya seorang gadis yang kebingungan. Gadis yang telah diusir oleh orangtuanya karena ketahuan hamil di luar nikah. Dengan senang hati Alaz Kaztiwa menampung gadis itu untuk sementara. Ternyata Tuhan belum juga datang. Tidak ada kisah Emaus di rumahnya.

Hingga menjelang malam, karena sudah lelah dan mengantuk, mereka tertidur. Alaz memilih tidur di ruang tamu sementara gadis dan anak-anak serta istrinya di kamar. Ia masih berharap barangkali tengah malam nanti Tuhan datang. Itulah kenapa ia memilih tidur di dekat pintu sambil berjaga seperti  yang dikisahkan oleh Yesus bahwa berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga ketika tuannya datang. Ada gadis-gadis dengan pelita bernyala dan persediaan minyak cukup sedang menantikan pengantin datang sedangkan gadis lain tidak membawa bekal minyak. Ketika pengantin datang gadis pintar ikut masuk ke perjamuan nikah, sedangkan gadis bodoh tertinggal. Sementara mereka menunggu karena tidak punya bekal minyak cukup mereka harus membeli ke warung. Alaz mendengar suara berbisik selembut kemarin dia mendengar suara yang sama. “Tuhan, mengapa Engkau tidak kunjung datang?” keluh Alaz. “Saya datang Alaz yang baik. Saya datang tiga kali. Di saat itu,  engkau telah berbuat terhadap saudaraKu yang paling kecil. Sebab apapun yang engkau lakukan untuk saudaraKu yang paling kecil, itu engkau lakukan untukKu.” “Trimakasih Tuhan, Engkau telah berkenan datang. Namun ampuni bila penyambutan kami belum terbelenggu oleh cinta diri kami,” balas Alaz Kaztiwa. (anonym story).

 

Keluarga Alaz Kaztiwa telah menunjukkan kasihnya pada mereka yang datang. Baik kakek yang kedinginan, tetangga maupun gadis malang. Perbuatan mereka ini diterima oleh Tuhan sebagai tindakan mengasihi dan menerima kedatangan Tuhan. Kehadiran-Nya ada dalam wujud sesama, terutama yang menderita atau hina.  Tidak menyingkirkan atau mengabaikan kehadiran dan keberadaan mereka, kendati mereka sedang berhasrat besar menantikan Tuhan, menjadi sikap hidup atas hukum utama Tuhan.

Hukum utama ini dipertanyakan oleh seorang ahli Taurat kepada Yesus. Ahli Taurat ini ingin mengetahui apakah Yesus paham betul tentang hukum kasih dalam kitab Taurat atau tidak. Kalau tidak fasih lalu kenapa kekuatan-Nya begitu besar, sehingga banyak orang mengikuti ajaran-Nya. Kalau fasih memang sudah selayaknya diakui.

Sebagaimana dihayati dalam kalangan Yahudi, bahwa ada 613 hukum. 365 diantaranya adalah larangan sedangkan 248 adalah perintah. Kesemuanya ini mengatur kehidupan dengan bobot satu dengan lain berbeda. Maka Yesus mengutip apa yang disebutkan dalam kitab suci. Perintah utama dan terutama adalah dari kitab Ulangan 6:4-6 yang berbunyi, “Kasinilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu!” Dan kemudian menunjuk juga pada Imamat 19:18 yang berbunyi: “Kasihlah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Perintah ini disebut perintah kedua. Dengan kedua kutipan ini, terkandung seluruh hukum Taurat.

Yesus menyatakan kutipan Perjanjian Lama ini juga  hendak menyatakan bahwa garis hukum ini juga  tindakan-Nya sendiri. Bukan hanya karena dimengerti dari sekian banyak hukum dalam Taurat tetapi hukum itu terjadi pada Dirinya sendiri. Hukum itu tergantung pada salib-Nya sendiri. Ia melakukan-Nya dengan tergantung pada salib. Secara vertical, kasih pengorbanan-Nya terjadi karena melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Bahkan dikatakan sendiri bahwa melakukan kehendak Bapa adalah makanan-Nya. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Dengan begitu, hidup Yesus sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah.

Kasih Allah itu begitu besar. Cinta-Nya kepada manusia sehingga Ia menghendaki manusia tidak jatuh dalam kebinasaan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan berolah hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus anak-Nya bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17).

Secara horizontal pada salib itu terwujud tangan terentang. Yesus mengasihi sesama-Nya. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Dan inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain.” (Yoh 14:13-14,17).

Dengan mengerti hukum utama dari Taurat ini, yaitu salib Tuhan Yesus sendiri, maka umat beriman diselamatkan. Ahli Taurat yang bertanya pada Yesus itu pada akhirnya juga menyatakan bahwa “Mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sebelihan.” Semua korban ini adalah praktek ibadat dalam Perjanjian Lama. Baginya bukan lagi korban ibadat melainkan tindakan atau perbuatan nyata dengan sesama.  Ahli Taurat ini mendapat peneguhan bahwa apa yang dihidupi itu tidak jauh dari kehidupan Yesus. Ia menerima dan mengakui Yesus. “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah” (Mrk 12:34).

Kasih tentu suatu semangat dan tindakan yang universal. Tidak tersekat oleh suatu agama atau keyakinan tertentu. Bisa dilakukan oleh siapa saja kepada siapa saja. Namun bagi umat beriman Kristiani, melakukan kasih tentu akan makin mewujudkan imannya. Kehadiran yang Kuasa dalam kehidupan dihayati dalam wujud cinta pada sesama. Jalan murid-murid Yesus bukan jalan yang penuh pemujaan diri melainkan jalan pengorbanan. Jalan salib adalah jalan penyerahan diri pada Allah dan sesama. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mat 16:24-25). Utinam. In finem Omnia. Soter@bdtoro