logo satelitpost

Setiap musim kampanye pemilu isu kemiskinan akan selalu menjadi senjata bahan kampanye para calon pemimpin. Kemiskinan yang identik dengan tidak sejahtera, para calon pemimpin akan menjanjikan jika terpilih akan menyejahterakan masyarakat. Bahwa mereka menganggap masyarakat kini belum sejahtera. Belum sejahtera artinya tak makmur.

Calon pemimpin itu sadar membutuhkan suara rakyat agar terpilih duduk di singgasana kekuasaan. Sebagai calon penentu kebijakan, jika terpilih mereka sangat yakin mampu mengentaskan kemiskinan, sejahterakan masyarakat, membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dan sebagainya.

Aksi simpatik pada rakyat kecil pun terlihat nyata, dengan turun ke pasar menemui para pedagang, turun ke perkampungan, turun ke sawah menemui petani, turun ke pelabuhan menemui para nelayan menanyakan keluh kesah mereka.

Pada masa kampanye pileg dan pilpres saat ini para calon pemimpin rupanya masih tertarik mengangkat isu kemiskinan guna menarik simpatik konstituen, meningkatkan elektabilitas. Masa kampanye pada pemilu kali ini yang cukup panjang, otomatis diperlukan strategi ekstra dari masing-masing tim pemenangan para paslon. Demikian halnya para tim pemenangan caleg. Publik akan menilai mana yang pantas dipilih.

Paling seru tentunya dari masing-masing paslon presiden dan wakil presiden. Satunya menggratiskan tol Suramadu, yang satunya menjanjikan menggratiskan tol lama jika terpilih. Satunya bilang ukuran tempe setipis ATM gara-gara dollar naik, satunya blusukan ke pasar memantau harga kebutuhan pokok dan ditunjukkan tempe ukuran super tebal.

Kreatifitas berkampanye saat ini sangat dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai kampanye malah menimbulkan masalah baru, membuat warga bosan dan membuat kegaduhan. Kemiskinan yang memang masih mengelilingi kehidupan sebagian masyarakat otomatis dapat menjadi peluang menarik hati. Tetapi seyogyanya mereka yang telah tertarik program pengentasan kemiskinan dan kelak terpilih, tepati janji sejahterakan mereka. Tak hanya manis di bibir saat kampanye saja. Jangan hanya demi mendulang suara lantas janji tinggal janji. Rakyat yang masih antusias meluangkan waktunya untuk nyoblos, tidak golput, berilah timbal balik ketulusan mereka dengan menepati janji kampanye. (ekadila@satelitpost.com)