Yuspita Palupi

Redaktur SatelitPost

UNTUK kali kedua dunia pendidikan di Kabupaten Banyumas digegerkan dengan tindak kekerasan yang dilakukan oknum guru kepada anak didiknya. Kali ini tindak kekerasan fisik dilakukan dengan menggunakan alat. Sehingga mengakibatkan anak tak hanya mengalami trauma mental, tapi juga luka fisik (memar, red).

Apa yang dilakukan oknum guru adalah reaksi dari aksi yang dilakukan oleh anak didiknya. Tidak ingin mencari siapa salah dan benar. Ditilik dari sisi manapun apa yang dilakukan si oknum guru itu adalah reaksi yang berlebihan dan lepas kontrol.

Tindak kekerasan yang (sampai) terjadi di sekolah yang notabene lingkungan pendidikan adalah sebuah preseden buruk dunia pendidikan itu sendiri. Guru yang semestinya digugu lan ditiru mengajarkan nilai-nilai moral. Justru mengajarkan sebaliknya.

Lingkungan sekolah yang dianggap “aman” untuk tumbuh kembang anak, justru menjadi tempat yang mengerikan bagi perkembangan mental anak-anak. Mereka bukan diajarkan untuk menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya. Tapi mereka dilatih untuk bertindak agresif. Melalui cara-cara mendidikan yang keras dan sudah tak relevan di era milenial seperti sekarang ini.

Seperti diketahui, setiap anak-anak di Indonesia dilindungi oleh undang-undang. Bahkan kita juga memiliki komisi khusus yang mengurus masalah anak. Belakangan tiap kabupaten/kota pun berlomba mengakomodir hak-hak anak, dengan menghadirkan kota/kabupaten layak anak. Banyak upaya dari pemerintah untuk “membahagiakan” anak-anak. Tapi kenyataannya tak menjamin setiap anak di Tanah Air ini terlindungi secara lahir dan batin. Bahkan di lingkungan pendidikan sekali pun.

Angka kekerasan terhadap anak di negara ini masih tetap tinggi. Secara global UNICEF merilis data tentang sifat dan jenis kekerasan yang terjadi di tanah air. Yakni, 40 persen anak berusia 13-15 tahun melaporkan pernah diserang secara fisik sedikitnya satu kali dalam setahun. Sementara itu, 26 persen melaporkan pernah mendapat hukuman fisik dari orangtua atau pengasuh di rumah.

Kasus bully di sekolah juga menunjukkan angka yang memprihatinkan, mencapai 50 persen. Sedangkan sebanyak 45 persen perempuan dan anak perempuan di Indonesia percaya bahwa suami/pasangan boleh memukul istri/pasangannya dalam situasi-situasi tertentu.

Kekerasan terhadap anak bak lingkaran setan, yang tak berujung dan berpangkal. Orang menyebutnya sebagai krisis senyap. Sesuatu yang tak terdengar jelas, tapi jelas-jelas terjadi di tengah masyarakat. Tak memandang tempat. Bahkan bisa terjadi di dalam keluarga (dilakukan oleh orangtua), di lingkungan sekolah (dilakukan antar siswa atau guru), dan di mana tempat anak bersosialisasi.

Siapa yang bisa menghentikan? Ya kita semua. Semua elemen yang ada di dalam masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghentikan praktik-praktik kekerasan. Bukan hanya tugas keluarga (orangtua), sekolah (guru), masyarakat (tokoh agama, tokoh masyarakat). Hingga pemerintah semestinya saling bekerja sama (bersinergi satu dengan yang lainnya) untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.(yuspita@satelitpost.com)