Rudal Afgani Dirgantara Redaktur Pelaksana SatelitPost

Koran Kami dalam novel terbaru Bre Redana “Koran Kami with Lucy in the Sky” bisa jadi hanya sekadar imaji untuk diceritakan. Namun semua argumen di balik rencana membuat Koran Kami yang digagas karakter Santosa Santiana atau SS sangatlah logis. Era digital membuat penyajian berita menjadi semakin bergegas. Jurnalis kerap mengabaikan akurasi dan kedalaman berita demi mengejar kecepatan. Akibatnya berita hanya meyentuh permukaan dan mengabaikan makna dari sebuah peristiwa. Bahkan, tak jarang terjadi kesalahan karena tak sesuai fakta.

Sebagai antitesis dari jurnalisme zaman now yang mengedepankan kecepatan, Susan Greenberg, staf pengajar penulisan non-fiksi di Universitas Roehampton, Inggris, mengajukan ide tentang Slow Journalism atau Jurnalisme Perlahan tahun 2007. Ia mendefinisikan Jurnalisme Perlahan sebagai tulisan esai, reportase dan karya non-fiksi lainnya yang dikerjakan dalam waktu lama dan fokus pada cerita-cerita yang dilewatkan kebanyakan media serta ditulis dengan standar kualitas yang tinggi.

Susan Goldberg, Pemimpin Redaksi majalah National Geographic menyebut jika jurnalisme online yang seba cepat adalah tentang informasi, maka Jurnalisme Perlahan adalah ihwal pencarian makna dari sebuah peristiwa. “Fast Journalism umumnya adalah soal informasi, Slow Journalism sebagain besar tentang makna,” kata dia. Jurnalisme perlahan belakangan makin populer, kini bahkan menjadi genre tersendiri.

Paul Salopek mempraktikkan Jurnalisma Perlahan pada liputan tentang jejak migrasi leluhur manusia 60 ribu tahun lalu. Peraih penghargaan Pulitzer ini berjalan lebih dari 34 ribu kilometer mulai dari daratan Afrika hingga Amerika Selatan. Proyek yang dinamai “Out of Eden” ini didukung National Geographic Society, Knight Foundation dan Harvard University dan diperkirakan memakan waktu tujuh tahun, dari 2013 sampai 2020. Meskipun mengusung Jurnalisme Perlahan, namun Salopek tetap memilih media-media kekinian untuk menyalurkan laporan hasil pengamatannya seperti blog dan media sosial. “Kuncinya adalah berpikir sebelum menulis,” kata dia.

Apa yang menjadi semangat Paul Salopek adalah semangat yang sama dengan yang diusung Koran Kami dalam karya penghujung karier Bre Redana sebagai jurnalis kebudayaan dan kesenian Kompas. Dalam cerita, Koran Kami sangat tidak biasa. Koran kebudayaan, kata dia untuk memudahkan penyebutan.

Selain tidak mengadosi pakem koran pada umumnya, seperti menggunakan rubrikasi pada tiap halaman, Koran Kami juga hanya mengangkat satu isu dan dikupas secara mendalam pada setiap penerbitan. Koran Kami juga terbit mingguan, sangat berbeda dengan koran pada umumnya yang terbit harian. Bre seolah-olah ingin menunjukkan pakem koran pada umumnya bukan perkara yang pokok, di atas segalanya adalah kebenaran. “Tugas utama jurnalisme terutama pada masa kini bukan sekadar memberikan informasi. Tugas utama jurnalisme adalah mencari kebenaran, truth,” tulis dia.

Ya, Koran Kami yang dalam cerita dikisahkan terdiri atas 32 halaman adalah projek idealis. SS ingin mengembalikan kerja jurnalistik seperti ketika eranya dulu, sangat ketat memegang disiplin verifikasi. Bahkan sekadar ejaan nama narasumber  pun harus akurat. Jika perlu, jurnalis meminta narasumber untuk menuliskan namanya di blocknote untuk menghindari kekeliruan penulisan.

Ia tak ingin berita hanya memuat kronologi kejadian. Berita dalam pandangannya harus juga merunut kronologi kesadaran. Dengan begitu pembaca bisa memahami makna dari sebuah peristiwa melalui jejak-jejak kesadaran dalam narasi yang dibangun jurnalis. Untuk bisa merangkai kronologi menuju puncak kesadaran dibutuhkan kepekaan batin. Tanpa kepekaan, seorang jurnalis tidak akan bisa merasakan nilai-nilai yang bersembunyi di balik peristiwa. Kepekaan akan terasah ketika jurnalis bersentuhan langsung dengan peristiwa di lapangan, bertemu orang-orang yang terlibar dalam peristiwa itu dan turut merasakan apa yang mereka rasakan.

Kepekaan inilah yang tak dimiliki kecerdasan bikinan ataupun mesin pembelajar yang diklaim mampu menggantikan peran jurnalis sebagai penulis berita. Kemajuan teknologi digital berimbas pada sektor industri manufaktur, namun jauh lebih luas hingga ke perbankan, hukum, jurnalistik bahkan kesenian. Hanya karya yang melibatkan nurani yang tak akan mampu digantikan mesin.

Di momen ulang tahun koran kami, SatelitPost, yang ke-6, kami sangat bersyukur masih bisa bertahan di tengah gempuran media online yang mengubah wajah industri media dalam skala global. Ditambah lagi media sosial yang seketika mengubah warga menjadi pewarta. Pewarta warga menyalurkan apa saja, baik informasi, kejadian, sampai sampah informasi yang kerap menyesatkan. Pada perjalanannya, kami terus belajar, memperbaiki kualitas diri. Seperti Koran Kami, kami meyakini kualitas adalah investasi terbesar. Menyuguhkan kebenaran adalah utang yang harus kami bayar atas kepercayaan yang diberikan pembaca sekalian. ([email protected])