Topan Pramukti Asisten Redaktur SatelitPost

Gemah Ripah Loh Jinawi, ungkapan ini kerap digunakan untuk menggambarkan Indonesia. Sebuah frase literal tentang tanah Nusantara yang luar biasa kaya. Kondisi yang seharusnya mampu membawa rakyatnya ke kemakmuran, ketenteraman, kesejahteraan, dan kedamaian.

Tanah Pertiwi yang Gemah Ripah Loh Jinawi bukan hanya sekadar angan. Hampir semua bangsa mengakui hal ini.

Kita, sebagai pemiliknya juga sangat bangga. Berpuluh puisi, lirik lagu, dan tulisan untuk memuja Indonesia terinspirasi langsung dari kekayaan alam Indonesia. Satu yang paling dikenal adalah milik Koes Plus. Bunyinya, Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman.

Meski demikian, di era modern ini, banyak masyarakat Indonesia yang kesulitan mendapatkan penghidupan yang layak. Jangankan, makmur, tenteram, sejahtera, dan damai dalam satu kesatuan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, banyak anak bangsa yang kesulitan.

Satu yang dijadikan kambing hitam adalah sifat rakyat Indonesia yang malas. Bahkan, kemalasan Indonesia dapat dibuktikan secara ilmiah. Beberapa waktu lalu, Stanford University di Amerika Serikat sana mengeluarkan sebuah survei. Hasilnya dilansir oleh The New York Post dalam sebuah artikel berjudul This Country Has The Laziest People in Planet.

Penelitian ini dilakukan lewat monitoring telepon seluler. Peneliti mengambil sampling dari 700.000 orang di 111 negara. Peneliti kemudian memperhatikan pergerakan dari smartphone responden.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah, Nature. Hasilnya, orang Indonesia punya nilai terendah untuk urusan bergerak. Rata-rata, orang Indonesia hanya berjalan 3.513 langkah, atau sekitar 2400 meter per harinya. Di bawah Indonesia, ada Malaysia, negara tetangga yang memiliki kultur dan kondisi alam hampir sama dengan Indonesia.

Angka ini sangat jauh dibandingkan Tiongkok. Di sana, orang-orang berjalan sebanyak 6.189 langkah, atau dua kali lipat dari orang Indonesia.

Lewat dua fakta ini ada sebuah korelasi yang menarik. Yakni, bahwa tanah kita yang kaya malah membuat masyarakat kita malas. Masyarakat kita biasa dimanja oleh alam. Nenek moyang kita, mungkin tak perlu berjuang keras untuk hidup. Berbeda dengan mereka-mereka yang hidup di negeri-negeri macam Tiongkok dengan sumber daya alam yang tak sekaya Indonesia.

Kekayaan bangsa kita, membuat manusia-manusia Indonesia tak perlu beradaptasi untuk hidup. Tak ada tekanan atau kondisi yang membuat nenek moyang kita berpikir keras hanya untuk kelangsungan mereka.

Dimanja membuat kita malas. Di era modern ini, kemalasan bangsa kita makin menjadi. Jangankan untuk bergerak. Untuk berpikir saja, sekarang ini masyarakat Indonesia sudah mulai terlihat malas.

Apa yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika baru-baru ini dapat jadi indikasi kemalasan paling mutakhir. Kemalasan ini muncul dalam bentuk pemblokiran situs microblogging tumblr.

Situs malang ini diblokir karena dianggap menyebarkan konten bermuatan pornografi. Pak Menteri membenarkan hal ini, mereka mengaku mengambil langkah pemblokiran setelah mendapatkan laporan dari masyarakat terkait konten negatif tumblr. Sebelum melakukan pemblokiran, mereka terlebih dahulu mengontak pihak tumblr. Namun, tidak mendapatkan jawaban dari manajemen situs yang dikelola Yahoo ini.

Pemblokiran ini merupakan sebentuk kemalasan berpikir. Mereka memilih cara paling mudah dilakukan dalam mengakomodir keluhan publik terkait pornografi. Yakni, dengan membuat situs tersebut tak dapat diakses oleh orang dengan pengetahuan internet pas-pasan. Sementara bagi orang yang sedikit sering bercengkerama dengan teknologi, blokir ini bukanlah masalah berarti.

Alih-alih menutup akses ke situs tersebut, orang-orang yang katanya pintar di Kemenkominfo seharusnya mengambil langkah yang lebih cerdas. Sebab, mereka digaji dan hidup dari uang negara. Mereka dibayar karena dianggap mampu mengambil solusi lebih baik dan lebih bijak ketimbang orang-orang yang tak sekolah. Dengan begitu, anggaran bermiliar rupiah tak hanya digunakan untuk menghidupi pegawai-pegawai malas.(topan pramukti)