Yuspita Palupi
Redaktur SatelitPost

Yuspita Anjar Palupi Redaktur SatelitPost
Yuspita Anjar
Palupi
Redaktur SatelitPost

Rangkaian debat untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden telah usai. Debat pada malam minggu kemarin itu juga sebagai penanda berakhirnya masa kampanye.

Mulai Minggu (14/4) kemarin, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan sebagai hari pertama masa tenang. Hingga dua hari kedepan, Selasa (16/4).

Mengacu pada pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, masa tenang adalah masa yang tidak dapat digunakan untuk melakukan aktivitas kampanye pemilu. Di dalam undang-undang tersebut mengatur dengan tegas sejumlah larangan yang tak boleh dilakukan peserta pemilu ataupun media sosial, media massa, dan lembaga penyiaran selama masa tenang.

Pengaturan masa tenang pada peserta pemilu diatur dalam Pasal 278 ayat 2 UU Pemilu. Sementara pengaturan masa tenang kepada media massa tertuang pada Pasal 287 ayat 5 UU Pemilu. Dimana disebutkan “Media massa cetak, media daring, media sosial dan lembaga penyiaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selama masa tenang dilarang menyiarkan berita, iklan, rekam jejak peserta pemilu atau bentuk lainnya yang mengarah pada kepentingan kampanye pemilu yang menguntungkan atau merugikan peserta pemilu”.

Seperti diketahui, selama masa kampanye Pemilu 2019, media sosial (Facebook dan Instagram) menjadi dua di antara sekian banyak platform media sosial yang paling sering digunakan untuk menjadi media kampanye.

Diibaratkan, masa tenang adalah masa dimana masyarakat berikut parpol peserta pemilu sedang “puasa”. Semua pihak diminta untuk bisa menahan diri, menata hati, dan jari-jemari untuk tidak melakukan aksi kampanye, provokasi, atau kecurangan pemilu apalagi sampai melakukan money politics.

Beberapa peserta pemilu memiliki ritual atau caranya sendiri. Ada yang memilih untuk melakukan perjalanan spiritual dengan menyambangi Rumah Tuhan. Ada juga yang memilih kontemplasi di tempat yang tidak tersentuh sinyal komunikasi.

Mendukung ketenangan di masa tenang kampanye, Bawaslu dan Satpol PP Cilacap melakukan penertiban alat peraga kampanye (APK) yang hingga masa tenang masih terpasang. Sejak Minggu (14/4) dinihari, tim gabungan ini telah menurunkan ribuan APK yang semestinya telah diturunkan oleh partai politik peserta pemilu. Penurunan APK ini dilakukan agar masyarakat bisa menetralkan hatinya. Setelah selama beberapa bulan dibombardir dengan kampanye dari para peserta pemilu. Entah itu di media massa ataupun media sosial.

Masa tenang seyogyanya menjadi momentum yang tepat untuk melakukan pereenungan. Mencoba mendengarkan apa yang disampaikan hati nurani dengan saksama. Tak hanya “panas” dan tersulut emosi oleh semua konten kampanye yang berseliweran di media sosial atau pun media massa.

KPU hanya memberikan waktu tiga hari bagi kita, untuk sebenar-benar melakukan perenungan dengan sepenuh hati. Harapannya, ketika 17 April nanti, saat memasuki bilik suara, kita memiliki kebulatan tekad dalam menentukan pilihan. Ingat, siapa pun calon yang kita coblos, ada tanggung jawab moral kita bagi kehidupan bangsa dan negara. Paling tidak untuk lima tahun ke depan. (yuspita@satelitpost.com)