Menjaga Kewarasan

Rudal Afgani Dirgantara Redaktur Pelaksana SatelitPost

logo satelitpost

Memasuki tahun politik, banyak hal mengalami pendangkalan. Ini tak lain karena semua dilihat dari kaca mata politik. Semua diukur dari untung rugi kepentingan politik yang hanya sesaat itu. Berdasar nalar itu, sepanjang tak menguntungkan atau sebaliknya, mendatangkan kerugian elektoral, maka segala pemikiran, pernyataan, dan tindakan akan dipersepsikan tak lebih sebagai skenario politik. Sebagian kita kehilangan kejernihan untuk melihat sebuah permasalahan an sich sebagai permasalahan itu sendiri.

Hal ini diperkuat dengan media yang alih-alih menyuguhkan kebenaran, tetapi justru menyuguhkan pembenaran. Media semestinya menyajikan informasi yang membuat publik memahami duduk persoalan secara objektif, sehingga bisa mengambil keputusan yang benar. Faktanya, tak sedikit media justru menjadi instrumen menggiring opini publik untuk keuntungan pencitraan elit politik tertentu.

Ini membuat konsumen berita hanya akan sibuk membicarakan hal-hal di luar substansi sebuah persoalan. Pada banyak kasus, yang pokok luput dari sorotan dan yang menjadi perdebatan justru bagian permukaan saja. Kasus kebohongan Ratna Sarumpaet misalnya. Kita semestinya bukan hanya menyoal betapa rapuhnya pertahanan nalar elit kita dari gempuran kabar palsu tetapi juga bagaimana bangsa ini semakin kebal terhadap hoaks di tengah limpahan informasi. Sayangnya, lini masa menunjukkan lebih banyak yang menjadikan isu ini sebagai komoditas politik ketimbang bahan perenungan dan pembelajaran.

Contoh lain adalah upaya sejumlah media yang menggunakan data dari IndonesiaLeaks untuk menguak dugaan perusakkan barang bukti KPK. Informasi yang kemudian ditayangkan sejumlah media nasional dianggap politis karena dipersepsikan merugikan pihak tertentu dan menguntungkan pihak lainnya. Sementara dugaan perusakkan barang bukti dan orang-orang yang terlibat luput dari perhatian. Bahkan mungkin tak banyak yang tahu bahwa ada upaya perlawanan terhadap media anggota IndonesiaLeaks dan para inisiatornya. Setelah penayangan berita dugaan perusakkan  barang bukti KPK oleh lima media, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sebagai satu di antara inisiator IndonesiaLeaks juga terkena imbasnya. Ketua AJI dkk dipidanakan dengan diadukan ke Polda Metro Jaya. Ketua Umum AJI disangkakan dengan pasal 317 KUHP tentang Pengaduan Palsu pada Penguasa. Selain aduan pidana, Ketua Umum AJI juga sempat digugat perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun gugatan perdata itu kemudian dicabut.

Sementara itu, demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang dibangun di atas kejernihan pikiran rakyatnya. Keputusan atau pilihan politik yang didasari muslihat hanya akan berakhir pada kubangan penyesalan. Karena itu, siapa saja, hentikanlah menebar kebohongan. Dan siapa saja, jernihkan nalarmu, berhentilah taklid pada elit idolamu. Ambilah jeda sejenak untuk merenung. Jadilah manusia waras di tengah zaman edan ini, zaman pasca-kebenaran yang melenakan. (afgansatelit@gmail.com)