Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost
Dedy Afrengki
Redaktur SatelitPost

Tanggal 13 Juli 2019, menjadi hari bersejarah dalam sistem demokrasi negeri ini. Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, menjadi saksi bisu naik levelnya dunia perpolitikan Indonesia dengan terjadinya pertemuan dua tokoh utama Pilpres 2019, Jokowi-Prabowo.

Kali ini sepertinya kita harus bersepakat mengakui, bahwa Prabowo cukup layak menyandang predikat sebagai seorang negarawan sejati.

Penilaian ini, cukup beralasan. Pertama, sebelumnya Prabowo sempat menyatakan dia sangat menghormati putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang akhirnya menolak gugatan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019.

Selanjutnya, Prabowo juga sempat mengimbau agar para pendukungnya tetap bersemangat berjuang untuk Indonesia yang adil dan makmur, merdeka secara politik, ekonomi, dan budaya.

Tetapi pertemuannya dengan Jokowi, menjadi pernyataan pamungkas bahwa Prabowo memang sosok negarawan sejati.

Prabowo, akhirnya mampu mengubur mimpi dan ambisinya menjadi presiden republik ini. Dia juga berhasil menekan keangkuhan, demi kepentingan dan keamanan negara. Prabowo, benar-benar menunjukkan kapasitas dan jati dirinya sebagai negarawan sejati.

Pertemuan yang berlangsung santai sekitar 80 menit itu, memang menuai pro dan kontra. Mereka yang ingin Indonesia berjaya, pasti setuju dengan skenario pertemuan dua tokoh tersebut.

Sebaliknya, mereka yang belum bisa mengubur dendamnya dibuat makin sakit hati. Bahkan sekelompok pendukung garis keras juga sudah melontarkan peryataan, bahwa perjuangan mereka sudah tidak sejalan lagi dan mengucapkan selamat tinggal untuk Prabowo.

Apakah langkah ini membuat rugi Prabowo dan Partai Gerindra yang dinahkodainya? Sepertinya tidak. Karena pada kenyataannya, Prabowo justru tampil gagah meskipun kalah.

Sebagian besar rakyat Indonesia, memberikan apresiasi luar biasa untuk Prabowo yang akhirnya bersedia rekonsiliasi dengan presiden terpilih.

Harapan memang tak selalu sesuai kenyataan, tetapi kenyataan selalu sesuai untuk melahirkan harapan. Mari berharap, seluruh masyarakat bisa menjadi bagian dalam dewasanya demokrasi di Indonesia. Mari berpartisipasi merajut kembali perpecahan yang sempat terjadi karena saling membenci, saling menghujat, dan ancam mengancam saat Pilpres 2019 lalu. (enki@gmail.com)