Ketua umum PPP, Romahurmuziy ditangkap oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kementerian Agama Sidoarjo, Jawa Timur atas dugaan praktik korupsi menjadi trending topik sepanjang Jumat (15/3) kemarin. Menyusul kemudian berita serangan teror terhadap dua masjid di Selandia Baru, Jumat (15/3) pagi waktu Indonesia. Sebanyak 49 orang dikabarkan tewas.

Terkhusus tertangkapnya Romahurmuziy sangat mengejutkan. Ini menandakan tidak ada tebang pilih kasus yang terjadi di rezim saat ini. Meski KPK belum menetapkan status apa pun terhadap Romahurmuziy, akan tetapi publik mengapresiasi langkah KPK.

Ketua KPK, Metua Agus Rahardjo belum bisa mengungkap Romi terjerat dalam kasus apa. Ia hanya mengatakan akan menyampaikannya saat konferensi pers. Statusnya sendiri akan ditentukan sesuai KUHAP setelah selesai pemeriksaan.

Beberapa waktu yang lalu politisi asal Sleman, DIY tersebut cukup menghebohkan publik manakala mengkoreksi doa yang dibacakan Maimun Zubair atau Mbah Moen saat bertemu Presiden Jokowi awal Februari lalu. Flasback sedikit ke belakang,  setelah partai berlambang ka’bah yang dipimpinnya diakui pemerintah dan merapat ke kubu capres petahana, kepercayaan publik ke PPP kian membaik. Mengingat sebelumnya terjadi perpecahan di kubu PPP yang cukup lama. Akankah beliau akan bernasib sama seperti Suryadarma Ali sebagai tersangka dalam kasus korupsi saat menjabat Ketua Umum PPP?

Kita tentu sangat menyayangkan masih ada saja politisi yang tertangkap tangan dugaan korupsi. Padahal sudah banyak kejadian serupa yang membuat karir politiknya terhenti dan harus mendekam di tahanan KPK. Rupanya soal uang, tak membuat takut untuk berkorupsi. Maka sebagai warning kelak kita harus benar-benar jeli memilih calon pemimpin pada gelaran pemilu serentak yang sebulan lagi akan berlangsung.

Dengan OTT KPK tersebut menambah daftar ketua umum partai yang tertangkap KPK dengan kasus dugaan korupsi. Kini dari pihak PPP belum menyatakan resmi terkait penangkapan tersebut, karena masih menunggu konferensi pers KPK.

Kita berharap KPK bekerja secara profesional dan tidak ada intimidasi dari pihak manapun atas kasus tersebut. Dengan demikian publik akan menilai KPK bekerja berdasar bukti-bukti yang ditemukan. Kini publik berkesempatan untuk berfikir ulang kembali, menimbang dan menentukan pilihan pada Pemilu serentak 2019 yang benar-benar jujur, amanah memimpin. (ekadila@satelitpost.com)