Pendidikan Karakter dan Keluarga

Oleh: Agus Triawan SPdI MPd

Mudir Pondok Pesantren Daarul Falaah Muhammadiyah Merden Purwanegara Banjarnegara

 Karakter merupakan bentuk pengejawantahan dari akhlak mulia. Sebagaimana akhlak, walaupun kita tidak lengkap ketika menyebut akhlak seseorang, maka secara umum yang dimaksud adalah akhlak mulia. Maka karakter di sini adalah karakter mulia atau akhlaqul kariimah.  Selama masih ada kehidupan, pergaulan dan kontak antar sesama manusia. Karakter sangat berkaitan dengan akhlak mulia dan etika, seperti mata keping uang yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku korupsi, suka mengambil hak orang lain, suka menindas, tidak mempedulikan nasib saudara, suka memfitnah, berkurangnya kejujuran adalah berawal dari pendidikan karakter.

Pendidikan karakter dimulai sejak dini dan masih bayi. Pendidikan ini diajarkan oleh keluarga di mana anak tinggal. Seorang anak pada pertumbuhkembangannya diasuh, dididik, dipantau oleh ibu bapaknya. Terutama oleh ibu tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran. Pendidikan dalam keluarga walaupun kurikulumnya tidak tertulis tapi hal inilah yang akan terpatri lebih dalam dalam sanubari anak sebagai generasi.

Tentang keutamaan seorang ibu, maka segagah dan sehebatnya manusia harus berterima kasih kepada ibu yang telah mendidiknya. Benarlah yang terdapat dalam hadits, Aljannatu tahta aqdaamil Ummahaati, surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Maksudnya rida seorang ibu sangatlah utama, sampai-sampai apabila kita diharuskan untuk mencium telapak kaki ibu maka seyogyanya kita bisa melakukannya.

Pendidikan karakter suatu bangsa diawali oleh pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga diawali oleh ibu. Maka betulah pepatah yang mengatakan Al Ummu Madrasatul Uula Wal Aula, ibu adalah sekolah yang pertama dan utama. Dimulai ketika anak masih bayi, sambil menyusu melihat wajah ibu, melihat raut muka, senyum dan gembiranya, marah dan sedihnya, anak akan melihat ketika sambil menyusu. Perilaku ibu akan terekam oleh sang anak. Baru kemudian anak mencontoh lingkungan yang lebih luas.

Pembelajaran bahasa dimulai dari ibu dan lingkungan terdekat sekitar. Ibu dengan sabar dan telaten mengajari banyak kosakata. Mengajari bahasa yang santun, lembut dan dengan penuh kesabaran. Dengan kosakata yang banyak, sang anak bisa berceloteh menyenangkan. Seperti nabi Adam ‘Alaihissalam yang banyak menguasai kosakata ditinggikan harkat dan martabatnya dibandingkan makhluk lain pada masanya. Ibu dan ayah juga mengajari akhlak dan budi pekerti yang santun. Mengajari cara-cara beribadah secara teknis. Orangtua yang baik adalah yang bisa menjaga anak keluarganya dari siksa api neraka.

Negarawan, ilmuwan, sosiolog, dokter, profesor, presiden, menteri, panglima, jenderal dan lainnya dilahirkan oleh seorang ibu yang hebat. Hafidz Al quran dilahirkan oleh ibu yang dengan sabar senantiasa membimbingnya, rela memasukkan anaknya ke ma’had tahfidz (pondok pesantren Alquran) dengan ikhlas dan terus mendoakannya. Adalah ibu dari Imam Bukhori sang ahli hadits senantiasa mendoakan anak tercintanya agar bisa melihat karena anaknya itu buta sejak kecil tanpa bosan terus meminta kepada Allah untuk kesembuhan anaknya. Maka dengan izin Allah pada usia 10 tahun, Imam Bukhori kecil bisa melihat dengan kedua matanya.

Lahir generasi bangsa yang hebat juga dari ibu dan keluarga yang hebat pula, yang tidak cengeng dan tidak takut  menghadapi kehidupan. Maka sudah kewajiban anak adalah berbakti kepada ibu bapaknya. Allah mewasiatkan kepada umat manusia untuk berterima kasih kepada keduanya sesudah bersyukur kepada-Nya, “Dan kami wasiatkan (wajibkan) kepada manusia berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu.” (QS Luqman 31: 14)

Nabi SAW juga menjelaskan ketika ditanya oleh seorang sahabat, “siapakah orang yang paling berhak aku bantu dengan sebaik-baiknya?” Jawab nabi: “Ibumu”. “Kemudian siapa?” Jawab nabi: “Ibumu”. “Kemudian siapa?” Jawab nabi: “Ibumu”. “Lalu siapa lagi?” Jawab nabi : “Bapak-mu.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam Kitab Kuliah Akhlak, DR Yunahar Ilyas, menyebutkan kisah anak-anak yang durhaka kepada orangtuanya, betapapun ringannya bentuk pendurhakaannya itu dan betapa rajinnya dia beribadah. Seperti kisah Juraij dan Alqomah. Juraij yang menjadi korban fitnah orang-orang yang iri hati kepadanya karena dia tidak mengindahkan panggilan ibunya, dan Alqomah yang tidak bisa menirukan talqin kalimat suci Laa ilaaha illallah menjelang kematiannya karena dosanya mengutamakan istri dari pada ibu kandungnya sendiri. Itu adalah kisah kisah yang seyogyanya kita ambil hikmah-hikmahnya agar kita bisa menghindarinya. Belum lagi legenda yang ada di Indonesia seperti legenda Malin Kundang yang bisa kita ambil pelajarannya.

Terlebih lagi ketika keduanya sampai berumur usia lanjut maka kewajiban kita adalah terus berbakti dan memelihara mereka dengan sepenuh jiwa. Membalas dengan kebaikan, menyantuni mereka sampai pada kehidupan yang layak. Doa ibu bapak termasuk doa yang sangat makbul. Rida Allah adalah terletak pada rida orangtua dan murka Allah terletak di murka orang tua. Prestasi amali adalah ketika bisa menjunjung harkat dan martabat keluarga dengan akhlak yang baik. Jujur, dapat dipercaya, amanah, menepati janji, positif thinking itulah karakter dari teladan dan uswah kita nabi Muhammad SAW.

Pada suatu ketika Rasul ditanya, “Maddin”? Apakah agama itu? Nabi menjawab “Khusnul Khuluq”, agama adalah bagusnya akhlak. Akhlak yang bagus itulah karakter. Sifat yang bagus sudah dicontohkan oleh nabi, bahkan sebelum menjadi nabi beliau sudah terkenal dengan akhlaknya yang bagus. Maka beliau diberi gelar Al Amin, yang dapat dipercaya. Maka benar sekali bahwasanya beliau diutus ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak. Ketika orang-orang saling curiga, kaum di sekeliling nabi justru memberi kepercayaan penuh kepadanya. Itulah integritas sang calon pemimpin umat yang berkarakter dan berhati mulia. Wallahu A’lam Bish Shawab.(*)