Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost
Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost

Terlepas dari polemik penetapannya, tanggal 9 Februari selalu diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Hal itu mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 yang ditandatangani Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 silam, di mana HPN diperingati bersamaan dengan hari terbentuknya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang lahir pada tahun 1946.

Tak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, agenda HPN yang tahun ini dipusatkan di Surabaya ini diisi beragam kegiatan. Presiden RI Joko Widodo dan sejumlah tokoh pers Indonesia, juga dijadwalkan hadir bersama 25 duta besar negara-negara sahabat.

Kali ini, peringatan HPN mengangkat isu digitalisasi, fenomena yang memang sedang menguat saat ini.

Mengutip tulisan P. Hasudungan Sirait yang sempat dipublikasikan di Kompas beberapa waktu lalu, realitas dunia jurnalistik saat ini memang tengah bergelut mempertahankan eksistensinya di era digital.

Wartawan senior ini bahkan memandang, pers telah melangkah ke masa senja ketika tidak mampu beradaptasi dengan banjirnya arus informasi melalui perangkat teknologi.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, teknologi informasi telah merangkul beragam aspek kehidupan. Kelahiran internet, telah meruntuhkan batas dunia. Internet bahkan telah menciptakan dunia baru, dunia yang tak tersentuh tetapi terus bertumbuh.

Perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat, tentu saja memberikan pengaruh terhadap jurnalisme untuk mendorong terjadinya perubahan.

Proses jurnalisme, kini sudah sampai pada era Jurnalisme 2.0. Pada era ini, konsumen yang semula hanya audience atau penikmat saja, kini sudah berubah menjadi user atau pengguna yang bisa ikut serta secara aktif dalam proses penyebaran informasi.

Kita mungkin sudah tak asing lagi dengan istilah citizen journalism atau jurnalisme warga. Setiap orang, bisa melaporkan secara langsung kejadian terkini yang ada di sekitar mereka ke media baru seperti website, media sosial meliputi twitter, blog, Youtube, Facebook, Instagram, dan banyak lagi lainnya.

Sehingga produk jurnalistik saat ini tidak hanya ada dalam bentuk cetak, namun telah merambah ke berbagai platform seperti media online. Tulisan tidak hanya menjadi kunci dari pemberitaan, tapi juga didukung dengan gambar, video, animasi, ilustrasi, dan audio.

Sebagian masyarakat, mulai enggan membuka puluhan lembar koran untuk mencari informasi yang diperlukan. Karena kini, informasi melalui dunia maya itu muncul dalam sekedipan mata.

Mesin pencari di internet, mampu menyuguhkan jutaan informasi yang diperlukan dengan sangat mudah dan praktis. Kemampuan memutakhirkan berita dalam waktu yang super cepat, semakin mengalihkan minat terhadap informasi dalam rupa digital ini.

Belum lagi makin akrabnya kita dengan fenomena citizen journalism tadi. Meski keberadaannya masih belum diakui sebagai bagian jurnalis sebenarnya, tetapi terbukti mampu menyodorkan informasi berharga secara cuma-cuma.

Sederhana saja, ada seorang pengguna media sosial yang sedang mencicipi suatu sajian, kemudian memotret santapannya di suatu tempat makan. Foto atau video buatannya itu,  selanjutnya diunggah ke media sosialnya dengan dibubuhi sedikit uraian tentang rasa, tekstur, hingga di mana lokasi makanan itu bisa didapat lengkap dengan harganya. Boom…! Dalam waktu singkat, unggahannya tersebar ke seluruh dunia.

Jutaan orang akan segera mengetahui sajian yang disuguhkan di tempat makan itu dan kemudian mulai mengunjunginya. Karena tebaran informasi ringan semacam itu, tidak heran kalau sebagian orang mungkin merasa tidak perlu lagi membaca liputan tempat wisata kuliner di koran atau majalah.

Dengan realitas itu, kita tidak dapat menolak sepenuhnya prediksi banyak pihak yang meyakini bahwa sekian tahun ke depan bakal tidak ada lagi kertas koran yang menyuguhkan berita. Semua informasi melebur dalam e-paper atau tersebar melalui internet.

Dominasi Generasi Y dan Z yang sangat akrab dengan dunia digital sekian tahun mendatang, semakin memperkuat posisi informasi digital menancapkan eksistensinya di masa depan.

Tantangan jurnalisme era kini sepertinya bukan lagi belenggu kebebasan berpendapat atau ancaman rezim pemerintah, tetapi tentang bagaimana survive di era datangnya karya pemberitaan dalam wujud baru. (enki@gmail.com)