Pidato ketua partai, tokoh, pejabat tinggi negara maupun politisi selalu mendapat perhatian khusus dari masyarakat, jurnalis maupun pengamat. Baru-baru ini pidato presiden Joko Widodo saat menghadiri Rapat Umum Relawan Jokowi di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/8) juga mengundang perhatian.

Terlebih dalam konteks pemilihan calon presiden. Kita tahu, hampir menemui keniscayaan, bahwa kontenstan pemilihan presiden hanya dua kubu, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Hanya tinggal menentukan calon wakil presiden.

Pidato Joko Widodo sebagai calon presiden yang diusung oleh PDIP dan sejumlah partai koalisi menekankan kepada para relawannya agar jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang.

Sekilas memang semua menyepakati hal tersebut. Namun lanjutannya, ‘Tapi, kalau diajak berantem juga berani’ menimbulkan polemik. Ya, pemilihan calon presiden makin hari suasananya makin memanas. Gesekan demi gesekan antardua pendukung kerap terjadi, walau terbilang masih sepele. Akan tetapi tensi dua kubu yang terus meningkat dikhawatirkan menjalar pada perseteruan horisontal di tengah masyarakat. Inilah yang harus kita cegah bersama-sama.

Kalimat ‘diajak berantem juga berani’ boleh jadi merupakan makna konotasi, bukan makna sebenarnya berantem secara fisik. Mengingat jika akan bertanding atau berlomba, biasa memberikan semangat dengan kalimat, ‘kita harus fihgt’. Bukankah fight artinya berkelahi. Sebagai istilah kalau kita harus mati-matian atau habis-habisan. Meski terkesan provokatif ada baiknya untuk disikapi dengan kepala dingin tanpa harus dada memanas.

Hanya saja, kalimat dalam sebuah pidato seorang pejabat maupun publik figur baik pada acara resmi atau tidak resmi  cukup memberi pengaruh besar, maka semestinya mampu menjadi panutan banyak orang. Di era milenial sekarang ini, kita membutuhkan pemimpin yang tak sekadar pandai beretorika, namun membangun semangat berkarya,mengubah dunia,  dapat menyatukan seluruh emelen bangsa dari semua suku, ras dan golongan. Berkali-kali para ulama, tokoh masyarakat mengimbau jangan menyebut ‘kampret’ dan ‘cebong’ di medsos. Selain tidak etis juga menimbulkan perpecahan, tapi tak jua mempan.

Maka pidato politik yang tak memunculkan polemik, kontroversi maupun benturan persepsi sangat penting bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Jangan sampai kondusifitas jelang pilpres akan rusak gegara pidato yang menimbulkan kegaduhan. Dalam sejarah nama presiden pertama Ir Soekarrno, pahlawan Nasional bung Tomo, mantan presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, presiden ke-32 Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt  adalah sedikit dari beberapa contoh yang pidatonya mampu menggetarkan dunia. (ekadila@satelitpost.com)