KHOLIL ROKHMAN Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost
KHOLIL ROKHMAN
Wakil Pemimpin Redaksi
SatelitPost

Politik itu dinamis. Politik bisa berubah sesuai dengan kepentingan para aktornya. Hari ini bisa berteman, besok bisa jadi lawan. Itu hal lumrah dalam dunia politik. Maka, politisi yang sudah matang sangat mengetahui bahwa dinamika membuat mereka harus bisa memposisikan diri sebagai teman dan sebagai musuh hanya untuk sementara.

Yang abadi dalam politik itu adalah kepentingan. Sejauh kepentingan masih sama, maka ‘kawan’ adalah jawabannya. Sejauh kepentingan politik berbeda, maka ‘musuh’ adalah jawabannya.

Dengan begitu, sudah sewajarnya jika politik tidak boleh berbasis sakit hati. Apalagi aktor politik di level bawah. ‘Haram’ hukumnya aktor politik level bawah berbasis sakit hati ketika berpolitik. Contoh saja, misalnya si A yang aktor politik level bawah dulunya adalah kader partai B. Kemudian, karena sakit hati si A ini memutuskan untuk menyeberang ke partai C.

Harapannya, ketika berada di partai C, si A ini bisa membalas sakit hatinya pada partai B. Namun, sakit hati itu hanya akan jadi hampa jika kemudian pemimpin partai C dan partai B bermesraan. Kedua partai itu memutuskan untuk berteman. Lalu, si A akan membalas sakit hati pada siapa?

Jika si A ini kemudian berlabuh ke partai D agar sakit hatinya bisa terobati dengan menyerang partai B, tentu itu bukan jawaban. Jika, elite politik partai B dan elite partai politik D berhasrat untuk kepentingan yang sama, maka partai B dan D akan bermesraan. Dan seterusnya, dan seterunya.

Jika politik berbasis sakit hati maka bisa hancur kepentingan politiknya. Tengok saja ketika dua kubu dalam pilpres yang lalu sangat saling menyerang. Jika menyerang untuk dinamika politik saja, maka tak masalah. Namun, jika menyerang berbasis sakit hati, apa jadinya dengan fenomena sekarang. Ketika Joko Widodo memutuskan untuk bertemu dengan Prabowo, maka politik sakit hati itu tak memiliki ruang.

Orang-orang yang sakit berpolitik dengan basis sakit hati ini hanya akan tersingkir. Sebab, sejuta logika pembenar akan muncul ketika dua kubu politik yang berlawanan memutuskan untuk berteman. Kalian-kalian yang tak sakit hati tak punya panggung lagi. Pernyataan-pernyataan benci justru akan merusak nama kalian sendiri. Pernyataan-pernyataan benci yang tidak memiliki kekuatan politik pun hanya akan seperti buih yang dibiarkan mengambang dan kemudian pecah digulung ombak lautan.

Politik praktis sebenarnya hanya permainan belaka. Riuh rendah dan serangan-serangan yang muncul di permukaan itu bisa jadi hanya dinamika dan permainan saja. Bisa jadi di ruang tertutup orang yang saling serang itu melakukan deal untuk kepentingan politiknya.

Maka, tak perlu berpolitik dengan basis sakit hati, apalagi bagi mereka yang berada di level rendah perpolitikan Indonesia. Hanya sia-sia saja. Bayangkan politik hanya seperti pertandingan tinju. Baku pukul habis-habisan sampai laga selesai dan setelah itu berangkulan dan selesai. Itu saja sebenarnya. (kholil@satelitpost.com)