Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost
Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost

Sudah tak terhitung ada berapa hasil penelitian yang mengungkap, bahwa berpuasa ditinjau dari perspektif medis modern sangat bermanfaat bagi tubuh. Dalam berbagai penelitian ilmiah, bahkan nyaris tidak ditemukan efek merugikan dari puasa bagi organ tubuh penting manusia.

Bagaimana tidak, kita yang sebagian sudah terbiasa makan tak teratur, baik jamnya maupun porsinya, ‘dipaksa’ menjadi teratur dua kali sehari waktu sahur dan berbuka.

Kalau biasanya pukul 7 pagi sudah sarapan, tidak sedikit yang ‘nyolong makan’ pada pukul 10. Kemudian pada pukul 12, ikut makan siang. Itu belum ditambah kalau menjelang sore, ada ajakan nongkrong atau meeting sambil makan.

Tetapi kali ini, bukan tentang mukjizat berpuasa bagi kesehatan manusia yang bakal disoroti. Fenomena produksi sampah yang justru bertambah selama bulan Ramadan ini, harusnya menjadi perhatian bersama.

Karena sepertinya sudah terjadi pergeseran makna dari bulan puasa atau fasting, menjadi feasting atau bulan berpesta. Pada Bulan Ramadan banyak yang malah mengalami pertambahan berat badan, karena kebanyakan makan dan konsumsi berlebihan. Perilaku ini, kemudian berimbas dengan meningkatnya sampah dari sisa dan pembungkus makanan saat Ramadan.

Pada Bulan Ramadan, seharusnya sampah bisa berkurang. Karena pada siang hari, hampir tidak ada atau sangat jauh berkurang kegiatan makan dan minum. Tapi yang terjadi sebaliknya, produksi sampah tetap berlipat ganda.

Semangat menjalankan ibadah, terkadang membuat banyak dari kita yang melupakan esensi berpuasa, menahan diri dari segala sesuatu yang berlebihan. Satu di antaranya, porsi makan justu meningkat dari kebiasaan.

Karena puasa identik dengan hadirnya ragam makanan menarik yang kadang hanya muncul saat Ramadan, membuat banyak orang menjadi ‘lapar mata’. Lihat kolak, langsung beli. Ada es buah, dibeli juga. Lihat tumpukan aneka gorengan, gak pengen-pengen banget, tapi tetap dibeli juga.

Fenomena belanja makanan berlebih seperti ini, konon tidak hanya di Indonesia saja. Belanja makanan dan bahan makanan berlebih, juga terjadi di negara mayoritas muslim lainnya. Makanan dibeli bukan hanya untuk dimakan sendiri, tapi juga untuk memuliakan tamu.

Namun faktanya, nyaris 25 persen makanan yang dibeli selama Ramadan justru terbuang begitu saja menjadi sampah, karena tidak sempat dimakan.

Itu baru sisa makanannya, bagaimana dengan plastik pembungkusnya? Persoalan yang dianggap sepele ini, adalah bencana sesungguhnya. Coba Anda cermati, saat membeli makanan berbuka puasa untuk porsi satu orang saja, sudah berlembar-lembar kantong plastik yang ikut dibawa pulang.

Mulai dari pembungkus gorengan, cup plastik kolak, bubur atau es buah lengkap dengan sendok dan sedotan sekali pakainya. Kali kan saja bila ada satu juta orang yang berbelanja di hari yang sama, sudah berapa jumlah plastik yang terkumpul, dikalikan 30 hari. Jumlah tumpukan sampahnya, pasti fantastis.

Semoga fakta ini, menjadi pengingat dan mari bersama berusaha menyempurnakan ibadah puasa dengan mengurangi sampah. (enki@gmail.com)