Topan Pramukti Redaktur Pelaksana satelitpost.com
Topan Pramukti
Redaktur Pelaksana
satelitpost.com

Tahun 2016 lalu, saya sempat berkunjung ke unit pelayanan kejiwaan di RSUD Banyumas. Di sana, saya bertemu dengan salah seorang pasien RS tersebut, namanya… Ah, kita sebut saja Bang LG.

Abang yang satu ini merupakan pasien rawat jalan di RS tersebut. Ia mendapatkan kesempatan untuk rawat jalan setelah kondisinya dinilai cukup stabil untuk kembali ke masyararakat.

Pria dengan gelar sarjana teknik elektro dari Universitas Sanata Dharma ini dirawat karena  menderia schizophrenia. Saat sedang parah-parahnya, ia mengaku mengalami banyak hal. Hal pertama yang dilakukannya adalah berkelana mencari harta karun Bung Karno setelah mendapatkan bisikan. Kedua, ia menjadi orang yang relijus. Saat itu, ia merasa bakal menjadi wakil tuhan yang akan menjadi pemicu kiamat di muka bumi.

Sekarang pria luar biasa ini sudah hampir sembuh dan bisa menjalani kehidupan normal. Saya ingat betul perkataannya waktu itu. “Sama seperti diabetes, kelebihan kadar gula. Penyakit kejiwaan juga terjadi karena ada kelebihan dopamine di otak penderitanya. Ini bisa diobati,” ujar dia.

Nah, kenapa saya ingin bercerita tentang Bang LG? Karena baru-baru ini ada kisah terkait Ibu SM. Perempuan paruh baya yang menjadi bulan-bulanan di media sosial dan pesakitan di penjara setelah mencak-mencak di masjid Jami Al Munawaroh, Sentul City Kabupaten Bogor. Perempuan yang tak beragama Islam ini makin jadi bulan-bulanan karena saat itu, ia melepaskan anjingnya di dalam masjid.

Pengalaman Bang LG ini harusnya menjadi sebuah paradigma untuk menyikapi kasus SM. Sebab, berdasarkan informasi terakhir di media, SM ternyata terkonfirmasi sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kondisi ini, saya rasa juga bukan sesuatu yang mengada-ada. Rekam medis SM sejak 2013 bisa menjadi bukti nyata.  Dalam rekam medis tersebut, SM dinyatakan mengidap , Schizophrenia Paranoia. Cabang penyakit psikosis yang membuat penderitanya selalu diikuti dan dijahati oleh pihak tertentu yang sulit dijelaskan.

Sama seperti yang dialami Gunawan, gangguan jiwa yang dirasakan SM, juga mempengaruhi cara berpikirnya. Situasi ini, lebih jauh akan berpengaruh terhadap perilaku yang tak dapat diprediksi.

Saya pribadi, merasa sedikit kasihan dengan SM, terutama dengan anjinya yang sekarang sudah membangkai. SM sekarang ini menjadi bulan-bulanan media sosial dan diancam dengan tuduhan penodaan agama.

Lebih parah lagi, bacot warganet dan kubu-kubu yang belum puas dengan hasil pilpres yang mempolitisir kasus ini dengan cara luar biasa biadabnya. Pascamunculnya SM, muncul pula perdebatan agama vs agama, sampai perseteruan mereka yang di hidupnya hanya ada perkara 01 vs 02.  Tak sedikit pula yang termakan isu antah berantah yang isinya ‘Karena negara dipimpin kafir, kafir-kafir lain bisa bertindak seenaknya.”

Tapi, bagaimanapun juga, perkara Ibu SM, bagi saya, membuka sebuah pintu harap. Saya ingin sekali melihat bagaimana cara Polisi menyelesaikan kasus ini. Apakah mereka akan terbawa opini publik, atau bergerak sesuai jalur hukum yang ada.(topan pramukti)