Kholil Rokhman

Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

 

Tas kresek seperti menjadi bagian penting dalam kehidupan akhir-akhir ini. Apapun menjadi seperti wajib dibungkus tas kresek. Padahal, tas kresek ini bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Tas kresek yang tak lagi dipakai akan jadi sampah plastik. Jika tak dikelola dengan baik, maka akan menjadi masalah bagi lingkungan.

 

Masalah plastik ini akan jadi masalah di darat dan di laut. Di darat, sampah plastik sulit terurai dan bisa merusak lingkungan. Di laut, sampah plastik malah bisa jadi makanan hewan-hewan laut. Jika hewan laut itu kemudian dikonsumsi manusia, maka sudah bisa ditebak seperti apa jadinya.

 

Kemudian, ada usaha untuk mengurangi sampah plastik, dengan mengurangi penggunaan tas kresek. Ada yang memutuskan untuk ‘menghargai’ tas kresek. Pedagang meminta tambahan biaya bagi pembeli jika si pembeli ingin barang beliannya dibungkus tas kresek.

 

Sekilas, keputusan pedagang untuk ‘menghargai’ tas kresek ini menjadi solusi mengurangi sampah plastik. Prediksinya, pembeli memilih tak menggunakan tas kresek karena berbayar. Tapi jika dipikir lebih dalam, ada kontradiksi dari keputusan pedagang ‘menghargai’ tas kresek.

 

Di tataran logika, bagaimana tas kresek yang jadi musuh itu, bisa tetap dimiliki untuk membungkus barang belian asalkan seseorang mau mengeluarkan uang. Poinnya bukan lagi ‘musuh bersama’, tapi uang adalah segalanya.

 

Di tataran kenyataan, menghargai tas kresek dengan harga murah, tak akan menghentikan orang untuk tidak memakai tas kresek. Orang tetap rela mengeluarkan hanya ratusan rupiah untuk membeli tas kresek sebagai pembungkus barang beliannya.

 

Lain ceritanya jika menghargai tas kresek untuk pembungkus barang belian itu dengan harga Rp 100 ribu, maka dijamin tak akan ada yang menggunakan tas kresek. Jika menghargai tas kresek pembungkus barang belian dengan murah, maka itu serasa mereguk keuntungan dengan dalih ramah lingkungan.

 

Jika pemerintah mau lebih ‘gila’ lagi, sebenarnya mengurangi sampah tas kresek bisa dengan menghentikan produksi tas kresek. Namun, penghentian produksi tas kresek itu bisa jadi masalah besar. Sebab, perusahaan yang menghasilkan tas kresek juga memiliki sangat banyak pekerja. Penutupan produksi tas kresek akan memunculkan banyak pengangguran baru. Ini jadi masalah yang pelik.

 

Masalah plastik dan lingkungan ini menjadi sengkarut yang sulit untuk dipecahkan. Kecuali, masing-masing dari kita sudah mau mundur teratur, mengulang cerita-cerita lama, dengan hidup tanpa plastik. Apakah bisa? tentu saja banyak yang menjawab ‘sulit’. (kholil@satelitpost.com)