Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost

10 hari pertama Ramadan, Masjid penuh. 10 hari kedua, giliran pusat perbelanjaan yang penuh. Memasuki 10 hari ketiga, terminal, bandara dan pelabuhan penuh. Dan 10 hari setelah Ramadan, Pegadaian yang penuh.

Ungkapan menyentil Yuswohady, seorang konsultan pemasaran independen ini, tak meleset sedikit pun menyikapi fenomena Ramadan di Indonesia.

Kalimat yang pada dasarnya hanya untuk ‘guyonan’ ini, ternyata betul adanya. Kalau sudah menyangkut urusan puasa dan Lebaran, tak terbantahkan masyarakat kita selalu all out, termasuk dalam urusan belanja dan menghabiskan uang.

Saking totalitasnya, sampai tak memikirkan berapa Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima dan berapa rupiah yang dibelanjakan. Jadi tidak heran kalau setelah lebaran, antrean mengular di jawatan yang mengatasi masalah tanpa masalah alias Pegadaian.

Seperti yang pernah saya bahas di terbitan sebelumnya, selain dinantikan sebagai hari kemenangan Lebaran juga menjadi tekanan. Entah siapa yang memulainya, saat Lebaran seolah harus ada, serba ada, serba baru, bahkan yang tidak ada pun diada-adakan.

Tidak hanya diri saja yang dipoles dengan baju, sarung, sepatu atau sandal baru, rumah juga seolah harus banget dipercantik. Jadi jangan heran juga kalau produsen cat tembok, ikut rebutan tayang di prime time bersama iklan sirup dan sarung.

Sejatinya menyambut Lebaran, tidak harus dengan segala sesuatu yang baru. Tetapi pola pikir yang sudah sedemikian rupa terbentuk, membuat penyambutan Lebaran justru disibukkan dengan persiapan yang bersifat fisik.

Kondisi itu semakin menjadi ditambah gencarnya iklan, mulai dari program promo mal, kartu kredit yang menawarkan cicilan 0 persen, promo tarif murah operator selular, hingga iklan gadget yang sebetulnya kurang ada hubungannya dengan puasa dan Lebaran. Godaan diskon gila-gilaan yang merajalela ini, pol-polan merayu untuk berbelanja.

Walaupun para pemuka agama sampai berbusa-busa mengingatkan tidak penting membeli pakaian baru, kenyataannya baju dan sepatu baru seakan harga mutlak saat Lebaran.

Ungkapan ‘cuma setahun sekali’ menjadi dasar bagi mereka untuk membeli pakaian baru untuk Lebaran. Mereka yang sebetulnya sering membeli baju pada bulan selain Lebaran pun, tak kuasa menahan godaan diskon dan akhirnya ikutan membeli baju baru.

Belum lagi keinginan untuk setahun sekali membahagiakan orangtua dan sanak saudara, ikut mendorong makin tingginya kebutuhan Lebaran.

Demi kerabat di kampung, segala cara biasanya ditempuh agar bisa bawa oleh-oleh. Bahkan bila perlu, ngutang! Urusan membayarnya, dipikir nanti sepulang dari mudik.

Hati-hati di bulan puasa menjelang Lebaran seperti sekarang ini, jangan sampai kesurupan berbelanja. Ingat, kebutuhan hidup bukan hanya saat Lebaran saja. Setelah Lebaran pun, masih banyak kebutuhan lain.

Membeli berbagai kebutuhan selama bulan Ramadan dan lebaran, memang tidak ada salahnya. Tetapi alangkah eloknya, jika belanja berbagai barang kebutuhan dilandaskan pada azas kebutuhan. Bukan dilandaskan hasrat mengumbar nafsu keinginan. ([email protected])