Ilustrasi. Satelitpost

RD Ag Dwiyantoro

Imam Gereja St Yosep Purwokerto

Pada suatu hari Tuhan berjanji kepada Ny Tangwin, seorang janda tua bahwa Dia akan mengunjunginya. Ny Tangwin amat bangga dan bahagia bahwa Tuhan akan datang. Ia sudah lama menantikan kesempatan itu.  Dia membereskan rumahnya. Baju dan barang yang berantakan dirapikannya. Debu-bebu di atas meja dan perkakas serta sarang laba-laba dibersihkannya dan perabot diatur rapi kembali. Ia tidak ingin malu karena rumahnya tidak layak buat Tuhan. Ia juga membersihkan lantai dan menyiraminya dengan ramuan pewangi. Bahkan ia telah membersihkan diri dengan mandi lebih dari tiga kali dalam sehari. Ia juga meletakkan perangkat sembahyang dan kitab suci  di sudut ruangan yang langsung terlihat. Semua dibuatnya demi tamu istimewa itu.

Suatu saat ia duduk di dekat meja di mana dia letakkan perangkat sembahyang dan menghadap ke pintu rumhnya. Tangannya sudah memegang tasbih. Sambil mendaraskan sembahyang ia selalu menatap ke arah pintu. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh ia berlari kea rah pintu. Hatinya begitu riang, kakinya yang biasanya berat untuk bergerak, hari itu begitu ringan untuk berlari. Dengan tidak sabar ia membuka pintu. Ia membukanya lebar-lebar. Ternyata yang ditemuinya hanyalah seorang pengemis. Tangannya sudah langsung membuka untuk menerima sepeser uang dari Ny Tangwin. “Jangan! Jangan hari ini! Demi Tuhan, pergilah! Aku tidak berurusan dengan engkau. Aku sedang menunggu kedatangan Tuhan sebentar lagi. Jadi pergilah dan jangan engkau menyusahkan aku!” Tanpa memberikan kesempatan bicara pada pengemis itu, ia langsung menutup pintu rumahnya cepat-cepat sambil ngomel, “Pergi sana!”.

Sunyi. Ny Tangwin kembali duduk di kursi dekat meja perabot sembahyang. Ia masih menatap pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian terdengar pintu diketuk. Suaranya lebih lembut. Sapaan permisi teralun halus. “Itu pasti Tuhan”, bisiknya dalam hati. Ia langsung bergegas membuka pintu. Dengan kelembutannya, sambil menunduk ia berujar, “Selamat datang Tuhan. Aku telah lama menunggumu. Silahkan masuk!” Tidak ada balasan. Masih sunyi. Begitu mendongakkan wajahnya ia menjumpai lelaki tua dengan tongkat di tangannya. Seorang duda tetangga kampung yang jatuh hati pada Ny Tangwin. “Aku tidak ada waktu sekarang untukmu, Kosim! Pulanglah! Aku tidak bisa menemuimu kali ini. Aku sedang menunggu Tuhan.” Melihat tangan sudah di atas pinggang, Kosim pergi meninggalkan Ny Tangwin. Padahal ia akan memberikan kue bolet, olahannya sendiri yang sangat enak dan memberikan cincin permata untuk buah hatinya.

Ny Tangwin kembali duduk di dekat meja perabot sembahyang. Ia mulai membuka kitab suci. Dibacanya kitab Mazmur. Sesekali ia berhenti menatap pintu. Ia masih menunggu. Ia beranjak mendekati pintu. Membukanya perlahan barangkali Tuhan sudah berada di sana. Ia tidak ingin terlewatkan kesempatan itu. Tetapi masih kosong. Ia menengok ke kanan dan kiri rumah, barangkali Tuhan sedang di samping rumah. Ia menatap ke ujung depan, barangkali ada sosok bayangan Tuhan. Namun semuanya hampa.

Kini ia tidak berani lagi menutup pintu. Ia buka pintu dan terus duduk di dekat meja perabot sembahyang. Kali ini matanya menatap ke depan. Namun lama-lama terkantuklah ia. Terdengar sayup orang menyapa. Ny Tangwin tersadar dan langsung menatap pintunya. Seorang tamu telah berdiri di depan pintu. Ia kucek matanya. Ia tatap mulai dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. “Oh, betapa malang hariku! Aku menanti Tuhan tetapi kenapa engkau yang datang!” serunya kepada sosok perempuan yang menggendong anaknya. “Tidak, aku tidak bisa menerima engkau dalam rumahku hari ini! Rumahku buat Tuhan! Jadi pergilah dari rumahku! Kamu tidak bisa menginap di sini.” Katanya kepada perempuan itu sesaat perempuan meminta pada Ny Tangwin untuk boleh singgah sejenak dan menginap.

Dan kesekian kalinya tamu disuruhnya pergi. Jam demi jam telah berlalu. Sore segera tiba tetapi masih belum ada tanda-tanda Tuhan datang. Ny Tangwin mulai khawatir, jangan-jangan Tuhan memang tidak datang. Atau ia akan datang tengah malam nanti. Tetapi seharian menunggu Tuhan ia jadi lebih capek. Belum sampai ujung tengah malam ia sudah terlelap. Ternyata dia bertemu dengan Tuhan. “Tuhan, kenapa engkau tidak datang-datang?” Tuhan pun menjawab, “Aku datang padamu tiga kali, dan kamu mengusir aku.” (kisah anonym)

 

Ny Tangwin tidak peka akan kedatangan Tuhan. Ia tidak mengerti bahwa Tuhan datang dalam diri mereka yang lemah dan menderita. Ia mempunyai gambaran tersendiri tentang Tuhan. Angan-angannya tentang Tuhan telah menyandungnya. Ia terbelenggu oleh penampilan Tuhan yang hadir anggun dan bermartabat serta bersih dan megah. Ia tidak bisa melepaskan angannya sendiri. Ternyata Tuhan datang dengan caranya sendiri.

Peristiwa yang sama terjadi dengan orang-orang Nazaret, kampung halaman Yesus.  Orang-orang ini tidak bisa menerima Yesus karena terbelenggu oleh angan mereka sendiri. Dikisahkan bahwa Yesus bersama murid-murid-Nya tiba di kota asal-Nya yaitu Nazaret. Sesuai kebiasaan pada hari sabat, Yesus pergi juga ke rumah ibadat. Ia berdoa dan mengajar di sana.  Ia mengisahkan perjalanan-Nya dan menyatakan amanat nabi Yesaya: Roh Tuhan ada pada-Nya sebab Ia telah diurapi untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, diutus memberitakan pembebasan kepada para tawanan, pembebasan pada yang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Banyak orang di Nazaret begitu takjub mendengarkan pengajaran-Nya. Ia mengajar dengan penuh kuasa. Ucapannya lahir dari hati-Nya yang terdalam. Ia menyatakan bahwa genaplah nas Yesaya itu ketika orang mendengarkan-Nya. Orang-orang lalu berkomentar, “Dari mana diperoleh-Nya semua itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2). Mereka mendengar banyak cerita tentang apa yang dilakukan-Nya: menyembuhkan orang lumpuh, menghardik badai topan di tengah danau, menyembuhkan anak perwira yang sakit, mengampuni dosa orang, mengumpulkan murid-murid dari kalangan berdosa dan kuat. Mereka mendengar Yesus mendekati orang-orang pinggiran dan tertindas.

Orang-orang tempat asal Yesus malah mempertanyakan asal dan keadaan Yesus. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Yesus. Orang Nazaret tempat asal Yesus amat paham asal-usul Yesus. Mereka mengenal keluarganya. Karenanya mereka mengatakan “Ia tukang kayu”, anak Maria. Yesus dikenal sebagai tukang kayu. Hal ini tentu diwarisi dari ayahnya Yosep. Tetapi orang sekota asalnya amat mengenalnya sebagai tukang kayu.

Tukang kayu yang dikenal di sini lebih dari sekedar tukang kayu biasa. Dalam bahasa Yunani tukang kayu adalah tektÕn. TektÕn digunakan dalam bahasa latin yang menunjukkan orang yang mempunyai keahlian-architektus (artinya arsitek). Sedangkan dalam bahasa Yunani architekton (master pembangun). Terdiri dari archi (ketua, yang ahli), tektÕn (pembangun atau tukang). Dengan demikian orang-orang Nazaret menyebut Yesus demikian karena mereka mengerti Yesus adalah ahli atau arsitek bangunan kayu.

Yesus adalah master di bidang pembangunan kayu atau industry kayu.  Karenanya Yesus tidak dianggap sebagai orang dengan status sosial sederhana. Ungkapan mereka “tektÕn” menjadi kritikan bagi Yesus. Bukankah Yesus sudah mempunyai kedudukan mapan, pekerjaan sukses kenapa sekarang justru jadi guru keliling dan penyembuh, suatu pekerjaan yang belum pasti mendatangkan hasil.Mereka menganggapnya bisa jadi bagus karena pada masa kecilnya telah mengalami hal-hal ajaib. Lahir dari perawan Maria, selamat dari ancaman Herodes karena mengungsi ke Mesir, mendatangkan kegembiraan pada Elisabet karena bertemu dengan Yohanes yang dikandung Elisabet, dan umur 12th sudah pintar berdiskusi dengan alim ulama.

Dengan kejadian-kejadian ajaib dan keahlian ini  kalau Yesus mau melakukan yang lebih besar lagi dari sekedar “tektÕn” mestinya Yesus bisa menjadi tokoh yang dirindukan yaitu Mesias.  Orang-orang ingin agar Yesus yang kini dikenalnya tampil sebagai mesias politik, menegakkan kejayaan bangsa dan menghancurkan penindas (kerajaan Rowawi). Kemuliaan atau kebesaran nama tampak dengan mengangkat bangsa dari penjajahan. Membangun kembali kejayaan umat didambakan. Tetapi Yesus tidak mau memenuhi angan dan bayangan masa lalu bangsanya. Yesus tidak mau mengorbankan pengutusannya demi memuaskan angan-angan mereka. Ada yang keliru dari pandangan mereka. Mereka gagal melihat siapakah sebenarnya Yesus. Mereka ini seperti “kelaparan dalam lumbung” karena tidak mengenali makanan yang tersedia. Mereka tersandung oleh angan mereka sendiri.

Orang sekota menolak dia bahkan mau mencelakai Yesus karena Yesus tidak membuat satu mukjizat pun di tempat asal mereka. Yesus melakukan di tempat lain tetapi di rumah sendiri tidak bisa melakukannya. “Nabi tidak dihormati di rumahnya sendiri”, Namun Yesus tidak dikuasai oleh angan mesianisme politik. Yesus mengembalikan martabat manusia setutuhnya. Ia mengembalikan yang sakit, yang tak memiliki daya hidup, yang diombang-ambing oleh kekuatan-kekuatan gelap, yang kehilangan arah. Yesus mengutuhkan kembali manusia. Yesus mengembalikan inti pengutusan-Nya: mendekatkan manusia makin cocok dengan yang diinginkan Pencipta-Nya.

Angan yang hanya memuaskan diri sendiri diubahnya.  TektÕn-Nya digunakan untuk mengembalikan pada martabat hidup di hadapan Allah. Bukan hanya dari penampilan, status sosial yang dilihat tetapi dari kedalaman hati, ketulusan dan penyerahan yang mendatangkan keselamatan. “Don’t look the book just from the cover” juga mengembalikan kemurnian niat mengasihi sesama.  Yesus sang TektÕn, menjawab harapan secara mendasar. Soter@bdtoro