Febri Prasetyo Adi SPdI Guru IPA SMP N 3 Mrebet, Purbalingga

Satu kegemaran bangsa Indonesia sejak media sosial online semakin dijangkau adalah perilaku membuat, menyebarkan, dan membicarakan berita bohong alias hoax. Setiap hari atau bahkan setiap menit, ratusan hingga ribuan hoax beredar di ponsel-ponsel kita. Semakin banyak aplikasi media sosial dan pengirim pesan yang kita pakai, semakin banyak pula hoax yang kita dengar. Semakin banyak group yang kita ikuti, semakin banyak pula hoax yang kita simak. Dan bahkan, semakin banyak teman yang terhubung dengan kita, semakin banyak pula hoax yang menghubungi kita.

Lantas, pertanyaannya adalah, apakah benar masyakat Indonesia sudah sangat gemar dengan hoax? Apakah penyebab hoax sangat mudah merajalela di media sosial? Dan mengapa kita sangat mudah menerima hoax?

Beragam teori seputar hoax telah disampaikan oleh berbagai kalangan. Berikut ini ada beberapa teori yang penulis tangkap dan bisa menjadi renungan kita bersama. Teori ini penulis sebut teori literasi. Karena kunci pokok permasalahan terletak pada kemampuan masyarakat kita dalam literasi. Literasi sendiri menurut kamus Merriam-Webster berarti kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.

Menurut Septiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, bahwa Indonesia termasuk lima besar negara pengguna smartphone dunia (kompas.com). Itu artinya, pengguna facebook, twitter, instagram, whatsapp dan berbagai aplikasi sosial media dan chatting di Indonesia termasuk tinggi. Namun kemampuan masyarakat dalam memakai aplikasi-aplikasi tersebut tidak diikuti dengan kemampuan melakukan cek dan ricek atau literasi.

Literasi dimaksudkan untuk memeriksa kembali kebenaran berbagai informasi yang masuk. Prosesnya bisa dilakukan dengan membaca berbagai referensi yang terkait dengan hal tersebut. Bisa pula dengan membaca berita sejenis yang dihasilkan oleh sumber lain atau kalau memungkinkan dari sumber aslinya.

Kita bisa menelaah kemampuan masyarakat kita dalam melakukan literasi berdasarkan hasil riset World’s Most Literate Nation yang dipublikasikan tahun 2016 lalu. Disimpulkan dari hasil riset tersebut, bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang dilibatkan dalam studi tersebut. Posisinya paling buncit dan satu level di atas Botswana, Afrika. Maka, pantas saja hoax berkembang begitu subur di lingkungan kita. Teknologinya diterima bulat-bulat, namun tidak diiringi dengan kemampuan menggunakan secara bijak.

Teori kedua berhubungan dengan faktor ekonomi. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, bahwa hoax dengan (pengguna) media sosial itu seperti lingkaran setan (vicious circle). Pengguna medsos berupaya agar informasi yang diunggah menjadi viral dengan menjadikan situs hoax sebagai sumber informasinya.

Semakin viral suatu konten, maka semakin tinggi pula trafik yang masuk ke situs pembuat hoax. Pada gilirannya nanti akan berujung pada peningkatan potensi pendapatan dari iklan. Konon, menurut Ketua Dewan Pers Yosep Santley Adi Prasetyo, nilai pendapatan situs mencapai kisaran 30 juta per bulan yang dihitung apabila jumlah pengelolanya sebanyak 1-2 orang.

Berdasarkan catatan Dewan Pers, terdapat sekitar 43 ribu situs yang mengklaim sebagai portal berita di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya ada 200-an situs di antaranya yang terverifikasi sebagai situs berita resmi. Artinya, terdapat lebih dari 42 ribu situs yang berpotensi menyebarkan hoax. Lebih banyak situs abal-abal dibanding situs resmi.

Teori ketiga berdasarkan pendangan agama, khususnya Islam. Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial yang dikeluarkan bulan Mei lalu. Terdapat lima poin dalam fatwa tersebut, yaitu pertama perilaku gibah (bergunjing), fitnah, namimah (mengadu domba), dan penyebaran permusuhan. Kedua melakukan bullying, ujaran kebencian dan permusuhan. Ketiga penyebaran hoax meskipun untuk tujuan baik. Keempat penyebaran materi pornografi. Kelima adalah penyebaran konten yang benar, namun tidak sesuai waktu dan tempatnya. Kesimpulan fatwa MUI bahwa kelima perilaku di atas hukumnya haram. Apapun motifnya dan sekecil apapun perannya.

Dari teori di atas bisa disimpulkan memang aplikasi kehidupan bernapaskan agama, khususnya Islam, belum benar-benar diterapkan di dalam bermasyarakat. Meskipun, mayoritas penduduk di Indonesia adalah beragama Islam.

Teori keempat disebut teori atom negatif. Teori ini berpijak pada sains tentang atom dan perilakunya. Singkat kata begini, apabila suatu materi dipotong-potong terus menerus pada akhirnya akan didapatkan sebuah potongan terkecil yang disebut atom. Teori ini akan penulis kupas lebih mendalam.

Teori atom yang sederhana ala Demicritos lalu berkembang hingga pada suatu kesimpulan bahwa ada tiga partikel penyusunnya, yakni proton sebagai pembawa muatan negatif dan neutron yang tidak bermuatan serta elektron si pembawa muatan negatif. Proton dan neutron terletak di tengah atau pusat atom. Sedangkan elektron bergerak mengelilingi inti atom dalam pola seperti planet mengelilingi matahari.

Pada umumnya sebuah atom akan bermuatan netral atau dikatakan tak bermuatan. Itu terjadi karena jumlah muatan positif dan negatifnya sama. Selama atom tersebut diam statis, tidak mengalami benturan dan tidak mengalami peningkatan suhu, maka atom akan tetap netral. Namun, ketika terjadi benturan dengan atom lain, maka ada tiga hal yang mungkin terjadi. Pertama, atom akan tetap netral apabila benturan tersebut tidak mempengaruhi posisi elektron yang berada di pinggiran atom. Kedua, atom akan menjelma menjadi bermuatan negatif apabila mendapat lemparan elektron dari atom lain. Sehingga jumlah elektron pada atom tersebut menjadi bertambah dan melebihi jumlah proton. Ketiga, atom akan berubah menjadi bermuatan positif, apabila elektron yang dimilikinya justru terlempar ke atom lain. Sehingga jumlah elektron pada atom tersebut menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan proton.

Dari ketiga partikel tersebut, ada hal yang menarik dari perilaku elektron. Ukurannya memang paling kecil, namun memiliki pengaruh paling besar. Perubahan muatan suatu atom bisa diubah oleh elektron sendirian. Sedikit benturan, elektron akan berpindah atom dan mengubah posisi muatan atom yang ditinggal maupun yang didiami sekarang oleh atom.

Sedikit gesekan saja, elektron akan terpental dan menjadikan atom lain menjadi berubah negatif. Lompatan-lompatan elektron terjadi dalam waktu yang singkat dan mungkin tidak disadari oleh kemampuan pancaindera manusia. Maka mudah saja kumpulan pemuda penikmat musik yang sedang berjoget rukun, sontak berubah menjadi arena tawuran hanya karena gesekan badan. Karena saat gesekan terjadi, saat itulah elektron berpindah dan menyebarkan aroma negatif ke atom-atom di sekitar.

Kesimpulannya sifat manusia dimulai dari elemen terendah pun lebih mudah menangkap konten, sifat, dan perilaku negatif dibandingkan sebaliknya. Maka ketika perilaku elektron terjadi pada elemen terendah manusia, akan sangat mungkin terjadi pula pada elemen tertinggi sebagai manusia.

Pada dasarnya, hoax sebagai sesuatu yang merugikan memang terletak pada perilaku para pembuat, pengamat, dan penyebar hoax. Bukan hanya terletak pada berita hoax itu sendiri. Apalah arti berita palsu apabila tak ada yang memperhatikan. Seburuk apa pun berita hoax, kalau tidak ada peminatnya, maka hoax akan redam dengan sendirinya. Namun sebaliknya, seremeh apapun hoax, apabila terus dibagikan, dipublikasikan, dan diulang terus menerus, maka akan tampak sebagai kebenaran.

Lantas, pertanyaan terakhir, siapa yang rugi atas merebaknya hoax? Kita semua pastinya. Menerima hoax itu berarti bodoh, karena tidak mampu melakukan literasi. Juga rugi, karena kita dimanfaatkan oleh situs hoax. Berdosa pula karena termasuk tindakan haram. Dan akhirnya menunjukkan kelemahan diri karena dikuasi oleh si elektron negatif.

Untuk mengantisipasi hoax, banyak sudah tips yang dianjurkan oleh masing-masing pakar. Penulis hanya menggarisbawahi beberapa di antaranya, yaitu teliti saat membaca serta abaikan teman/group/ situs yang suka menyebar hoax. Karena permasalahan utama hoax bukanlah pada kontennya semata, namun lebih pada perilaku para pelakunya.(*)