Teori Konspirasi

Sepertinya, kegembiraan menyambut Ramadan tahun ini tidak ‘lepas’ sebagaimana biasanya. Duka masih belum beranjak menyelimuti negeri ini.

Beberapa hari lalu, kita dikejutkan aksi teror di rutan Mako Brimob Depok. Tak berselang lama, kita kembali dibuat tersentak, sedih, dan marah oleh serangkaian ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo.

Lima ledakan bom mengguncang dalam waktu 24 jam. Insiden terakhir terjadi, Senin (14/5) pagi dan menewaskan empat dari lima pelaku yang ternyata satu keluarga.

Sementara ledakan bom di Mapolrestabes Surabaya, hanya berselang beberapa jam dari ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo dan tiga ledakan bom di tiga gereja, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di jalan Ngagel, Gubeng, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di jalan Arjuno.

Serangkaian ledakan bom ini, semestinya jadi pembelajaran untuk kita semua. Tidak perlulah kita menyibukkan otak untuk hal-hal yang bukan prioritas bagi negeri ini, seperti perang tanda pagar ganti presiden atau ikut mikirin konflik-konflik di negara lain. Persoalan kemanusiaan yang ada di depan mata ini, harusnya lebih kita prioritaskan.

Namun, cukup disayangkan yang muncul bukan hanya ungkapan duka dan saling menguatkan sesama saja. Begitu ada bom meledak, beragam teori konspirasi juga ikut mencuat. Sementara banyak orang yang perasaannya sedih dan marah, para penggila teori konspirasi justru sibuk dengan kesimpulan-kesimpulan spekulatifnya.

Tak sedikit pula yang meyakini, bahwa sekelompok orang telah bersekongkol untuk membuat suatu kejadian atau situasi tertentu, melalui perencanaan rahasia dan tindakan yang disengaja.

Teori konspirasi, memang cara yang paling mudah dan mengasyikkan untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan, tidak masuk akal, atau pertanyaan yang tidak terjawab.

Hasil ‘penerawangan’ yang bercampur dengan hoax, kemudian menyebar dan dipercaya sebagian orang awam.

Mengutip pendapat Edi Santoso, pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Jenderal Soedirman, kenapa teori konspirasi selalu ada dan bahkan laris manis untuk menjelaskan suatu peristiwa, konon secara alamiah manusia memang menyukai struktur.

Manusia cenderung memaknai fakta dalam kerangka struktur, semua ada polanya. Political mind juga menjadikan orang berpikir rumit, sebagaimana realitas politik yang penuh intrik.

Tak ada peristiwa yang terjadi begitu saja dalam jagat politik, semua ada sangkut pautnya. Maka jangan heran, kalau kemudian kejadian di Mako Brimob dan bom Surabaya dianggap sebagai bagian dari hajatan politik di negeri ini.

Meskipun dalam hati kecil terbersit dugaan-dugaan konspiratif, mari lihat sebuah peristiwa kemanusiaan dari kacamata kemanusiaan. Sebab, logika kemanusiaan selalu berjalan dengan sederhana; bahwa ada orang tak berdosa yang mati sia-sia itu adalah tragedi.

Rasanya, inilah saatnya untuk kita meluruhkan ego sebagai seseorang atau satu kaum, dengan menjunjung rasa kemanusiaan di atas segalanya. (enki@satelitpost.com)