Berdasarkan Peraturan Badan Standar Nasional pendidikan nomor 0044/P/BSNP/XI/2017 tentang prosedur oprasional standar penyelenggaraan UN tahun pelajaran 2017/2018. Menegaskan bahwa; pertama, ujian nasional tahun 2018 terbagi menjadi dua yaitu UNBK (ujian nasional berbasis komputer) dan UNKP (ujian nasional berbasis kertas dan pensil). Kedua, ujian nasioanl tidak menentukan kelulusan. Ketiga, USBN dan nilai raport menentukan kelulusan. Keempat, kelulusan ditentukan oleh sekolah. Kelima, hasil ujian nasional sebagai salah satu persyaratan untuk seleksi masuk sekolah kejenjang berikutnya.

Oleh : Teguh Wiyono MPdI

Dosen di Universitas Terbuka Purwokerto Pada Fakultas Pendidikan

Materi yang diujikan dalam USBN adalah seluruh mata pelajaran yang sudah diajarkan dengan kriteria 25 persen soal disiapkan oleh Kemendikbud dan 75 persen disiapkan oleh sekolah dari hasil musyawarah guru. Bentuk soal 90 persen pilihan ganda dan 10 persen esai. Kemudian yang diujikan dalam UNBK di antarnya pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA. Jika kita amati semua mata pelajaran yang masuk dalam UN akan diujikan juga di USBN jadi siswa mengerjakan dua kali ujian untuk mapel Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA.

Untuk jadwal pelaksanaan USBN pemerintah memberikan kebebasan kepada setiap sekolah. Sekolah diperbolehkan menetukan jadwal USBN sebelum atau sesudah UN, dengan pertimbangan guru telah menuntaskan kurikulum atau pembelajaran para siswanya. Pemerintah memberikan rentan waktu pelaksanaan USBN SMP yakni 9 April sampai 12 Mei 2018. Kemudian ujian nasional SMP sendiri akan dilaksanakan di akhir April 2018.

Beberapa faktor yang menentukan kelulusan siswa siswi SMP untuk tahun pelajaran 2017/2018, di antarnya ; menyelesaikan seluruh program mata pelajaran, memperoleh nilai sikap.perilaku minimal baik, mengikuti ujian nasional, lulus USBN sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh sekolah masing-masing.

Pemerintah dalam memberikan kisi-kisi soal UN (SKL) bisa dikatakan sama. Untuk sekolah yang menjalani 3 kurikulum yang berbeda, yakni kurikulum KTSP, kurikulum 2013, dan kurikulum 2013 revisi, artinya soal-soal UN nanti adalah irisan dari materi yang dipelajari dari 3 kurikulum nasional yang sedang berjalan sekarang.

Kurangnya Tanggung Jawab Siswa

Dengan begitu akuratnya pemerintah dalam menyiapkan ujian nasional bagi lembaga pendidikan dan memberikan kelonggaran kepada siswa untuk mendapatkan kelulusan dengan mudah tidak seperti tahun-tahun lalu, jika mendekati ujian nasional siswa merasa takut jika tidak lulus, dan mereka merasa tertekan. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan dengan adanya kebijakan sekolah penentu kelulusan menimbulkan berbagi problem, di antaranya; pertama, siswa malas belajar. Penulis pernah menjadi pengawas dalam ujian nasional, ketika itu bertanya kepada sang murid “mas/mba tidak pegang buku” dengan santainya menjawab “pak nanti juga lulus karena yang menentukan kan sekolah saya pak”. Dari penyataan tersebut seakan-akan ujian nasional bukan sesuatu yang sangat sakral atau berwibawa, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan selama mengikuti pembelajaran tiga tahun di dalam kelas. Kedua, pihak sekolah mengubah/menambah nilai dengan setinggi-tingginya meskipun anak tersebut nilainya di bawah nilai ketuntasan, sekolah tidak mau dicap/dianggap sekolah pencetak anak-anak yang bodoh, karena nanti akan berdapak pada penerimaan peserta didik baru. Ketiga, adanya siswa dalam mengerjakan soal tidak serius. Keempat, kurangnya dukungan dari orangtua. Bagi siswa yang sedang mengikuti ujian mereka dibebaskan untuk bermain selayaknya tidak ujian. Kelima, siswa tidak mau mengunjungi perpustakaan, mereka asyik dengan gadget-nya. Dengan adanya probelematika tersebut mampukah sekolah dapat tetap menjaga mutu lulusan yang terbaik kepada publik?

Solusinya adalah bagi setakeholder (civitas akademika sekolah, orang tua, dan masyarakat) tidak henti-hentinya untuk selalu menanamkan pendidikan karakter kepada para peserta didik. Karakter merupakan suatu sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Upaya untuk menanamkan karakter peserta didik di antaranya; membiasakan hidup sehat, teratur, serta efisien waktu, mengenal dan memahami nilai-nilai dan norma sosial, agama yang berlaku secara baik dan benar, mengerjakan tugas sehari-hari secara mandiri dan penuh tanggung jawab, mengajak untuk selalu bersosialisai dengan masyarakat, melatih cara merespon berbagai masalah dengan baik, menghindari sikap dan tindakan yang bersifat lari dari masalah, disiplin patuh dan tanggung jawab terhadap aturan hidup keluarga, sekolah dan masyarakat. Melaksanakan peran sesuai setatus dan tanggung jawab dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.

Karakter berperan sebagai model insan berkarakter, nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan di tingkat SMP yaitu: kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, tanggung jawab, kebersihan dan kesehatan, kedisiplinan, tolong-menolong, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif. Kedelapan butir nilai tersebut ditanamkan melalui semua mata pelajaran dengan intensitas penanaman lebih dibandingkan penanaman nilai-nilai lainnya.

Jika penanaman karakter dari lembaga pendidikan dan orang terdekat berjalan dengan baik diharapkan para siswa timbul dan tertanam motivasi untuk melaksanakan ujian nasional dengan penuh tanggung jawab yang diawali dengan niat kekuatan metal yang kuat dengan tidak menyepelekan ujian nasioanal, berusaha untuk selalu berlatih soal (baik belajar mandiri maupun kelompok), mampu meninggalkan kegiatan yang tidak bermanfaat, selalu menjaga kesehatan, semakin mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, dan tekat kuat untuk melanjutkan kejenjang pendidikan selanjutnya.

Mari kita dukung dan berimotivasi bersama dengan berpegang teguh pendidikan karakter agar tertanam pada diri peserta didik kita untuk melaksanakan ujian sekolah berstandar nasional dengan penuh sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.