WANGON, SATELITPOST-Kasus kebakaran di Wangon dan daerah sekitarnya selama tahun 2018 tercatat ada 10 kasus. Kebakaran terbesar terjadi di Desa Canduk, Kecamatan Lumbir. Sebanyak tiga rumah hangus dilalap si jagi merah yang dipicu arus pendek pada bulan November. Sedang awal 2019 ini telah terjadi dua kali kasus kebakaran yakni Desa Jambu dan Wlahar, Kecamatan Wangon. Hal tersebut dikategorikan rendah karena tingkat antisipasi masyarakat terhadap kebakaran sudah mulai tinggi.

Menurut Kordinator Pos Damkar Wangon, Ramidi, potensi terbesar kebakaran terjadi di musim kemarau dan bulan puasa. Ia mengatakan, saat kemarau orang cenderung mengabaikan bahaya kebakaran seperti buang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah di samping rumah.

“Kendala paling sulit adalah bila pada lahan perhutani, laporan masuk namun akses menuju tempat kebakaran tidak ada, jadi mobil damkar tidak akan sampai ke lokasi. Mau tidak mau petugas hanya mengamati titik api,” katanya.

Damkar Wangon dengan kekuatan 13 personel terbagi dalam tiga shift jaga dengan satu armada bervolume 5 ribu liter. Menurutnya perlengkapan ini masih kurang karena idealnya ada dua armada. Namun karena kebanyakan kasus terjadi di jalan kampung akan lebih ideal armada mobil menggunakan tangki berkapasitas 3 ribu liter.

Ramidi mengatakan, alur proses penanganan kebakaran antara lain ketika mendapat laporan langsung dicatat, ditindak lanjuti sesuai prosedur tetap (protap) setelah 7-15 menit langsung ke TKP. Namun untuk menuju TKP diperlukan kerja sama semua stakeholder di lapangan terutama bila ada mobil damkar melintas dengan tanda bahaya, maka pengendara lain agar bersedia membuka jalan untuk dilalui.

“Jadi masyarakat pengguna jalan pun harus memahami bila mobil damkar melintas dengan bunyi sirine, dimohon bantuannya untuk memberi kami akses jalan, hal ini guna mempercepat standar waktu pencapaian sampai di lokasi kebakaran,” kata Ramidi.(cr2)