KEPALA SMP Negeri 4 Majenang Dra Melania Dwiyani Hernawati MPd saat memberikan pengarahan kepada siswa yang terjaring razia pihak sekolah, Sabtu (3/3).SATELITPOST/TASLIM INDRA

MAJENANG, SATELITPOST-Sebanyak 123 siswa SMP Negeri 4 Majenang terjaring razia rutin yang dilakukan pihak sekolah, Sabtu (3/3). Razia tersebut dilakukan dalam rangka penegakkan aturan negara yang melarang anak-anak belum cukup umur mengendarai kendaraan bermotor.

Razia dipimpin langsung Kepala SMP Negeri 4 Majenang dengan melibatkan guru dan kesiswaan dengan melakukan pendataan dan pengarahan kepada siswa di halaman sekolah.

Kepala SMP Negeri 4 Majenang Dra Melania Dwiyani Hernawati MPd kepada SatelitPost mengatakan, kegiatan dilakukan dalam rangka penertiban kepada siswa yang melanggar aturan lalulintas, mengendarai sepeda motor ke sekolah. Padahal mereka belum cukup usia sehingga kebanyakan tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

“Ada kesepakatan, jika kedapatan anaknya ke sekolah mengendarai sepeda motor hingga tiga kali sepeda motor ditahan di sekolah dan yang mengambil harus orangtua yang bersangkutan,” kata dia.

Dia berharap orangtua dapat sinergi dengan pihak sekolah dalam penegakkan aturan tersebut sebagai upaya preventif terjadinya kecelakaan lalulintas di jalan raya yang didominasi pelajar yang belum cukup umur.

Dikatakan, ke-123 siswa yang terjaring kemarin, dilakukan pendaraan sekaligus pengarahan agar siswa tidak lagi mengendarai ke sekolah.

“Setelah didata siswa kami berikan pengarahan untuk tidak mengulangi lagi dan pengambilan motor oleh orangtua masing-masing,” kata dia.

Lebih lanjut dikatakan penegakan aturan yang melarang siswa mengendarai sepeda motor kesekolah sebenarnya dilema bagi pihak sekolah. Mengingat lokasi sekolah di wilayah yang geografis dataran tinggi. Juga melihat profesi orangtua siswa yang kebanyakan petani dan pedagang.

“Banyak dari orangtua yang susah mengantarkan anaknya usai Subuh. Jika siswa disuruh berjalan kaki juga tidak memungkinkan karena jaraknya 2-7 kilometer,” kata dia.

Alternatif lain, dengan menggunakan kendaraan umum juga kurang memungkinkan. Karena jumlahnya yang terbatas.

Sementara itu beberapa siswa saat diwawancara SatelitPost mengatakan terpaksa mengendarai sepeda motor disuruh orangtuanya karena di rumah ditinggal orangtua untuk berdagang dan lebih aman dibawa.

“Biasanya saya ga bawa motor pak tapi tadi disuruh bapak karena rumah kosong ditinggal berdagang ke pasar,” kata Sekar, siswi kelas 8.(lim)