GABUNGAN Serikat Buruh Cilacap melakukan aksi damai pada Hari Buruh Internasional di Alun-alun Cilacap, Senin (1/5)

Ratusan gabungan buruh di Kabupaten Cilacap melakukan aksi damai dalam Hari Buruh Internasional, Senin (1/5). Mereka melakukan orasi di Alun-alun Cilacap.

 

Berbagai bendera dan spanduk dibawa para buruh ini secara bergantian melakukan orasi. Berbagai spanduk bertuliskan, ‘Rezim Jangan Represif’, ‘Kesehatan Gratis untuk Seluruh Rakyat’, Partai politik Jangan Tidur’, ‘Indonesia Not for Sale’, dan lain-lain.

 

Sebelum sampai di alun-alun, para buruh dari beberapa serikat pekerja mulai dari pekerja manufaktur Independen Indonesia, pekerja metal, Waroeng Batok Industri, Sarekat Pekerja Forum Komunkasi Karyawan, dan beberapa lainnya ini melakukan konvoi kendaraan. Mulai dari Kawasan Industri Cilacap sampai ke alun-alun. Aksi damai pada hari buruh ini dikawal ketat oleh Kepolisian Resor Cilacap dan juga Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Cilacap.

 

Dalam orasinya, Koordinator Aksi, Utun Abdulah mengatakan buruh harus berani menyuarakan agar mereka tidak lagi dizalimi. Pasalnya selama ini pemerintah belum berpihak kepada para buruh, rakyat mereka sendiri. “Buruh saat ini mengalami kesusahan. Kita harus suarakan keadilan untuk rakyat Indonesia. Ayo kritisi pemerintah. Tolak upah murah dan tolak PP nomor 78 tahun 2015,” ujarnya.

 

Dia meminta agar jangan takut menyuarakan dan bertentangan dengan penguasa, meski nanti akan dianggap makar. “Ayo bangkit dan kembali kepada UUD 1945 yang asli,” katanya.

 

Utun mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah, namun dikuasai oleh asing. Akibatnya, membuat buruh semakin sengsara. Karena kebutuhan pokok menjadi selalu meningkat. Apalagi saat ini Indonesia sudah dicengkeram dengan sistem ekonomi neoliberalisme. Penerapan sistem yang memaksakan kepada rakyat, membuat DPR berkhianat dengan membuat Undang-undang yang pro liberal.

 

“Contohnya, UU migas, UU Perbankan, UU SDA, UU BPJS dan lainnya, menjadikan hubungan antara negara dengan rakyatnya dengan hubungan bisnis. Bahkan pada hari buruh ini, pemerintah memberikan hadiah kepada rakyat dengan menaikkan tarif listrik sebesar 30 persen dan akan naik menjadi 300 persen. Jelas ini zalim,” ujarnya.

 

Karena itu, pihaknya juga menuntut kepada anggota DPRD Cilacap untuk sering turun ke bawah dan melihat rakyatnya, terutama para buruh. Selain itu juga kepada pemerintah, Bupati. Jangan hanya turun saat akan ada pemilihan saja, setelah jadi lupa kepada rakyatnya.

 

Selain itu juga meminta kepada pemerintah agar sumber daya alam yang ada di Indonesia, dikelola sendiri oleh negara, untuk kemakmuran rakyatnya. Hal inilah, kata dia, yang dikatakan dengan membela kepentingan buruh dan rakyatnya.

 

Sampai aksi bubar, tidak ada perwakilan dari pemerintah daerah maupun dari anggota dewan yang datang dan memberikan orasi pada aksi damai tersebut. (reny tania)