Kanako Tome, peserta didik SMA Takeda Higashi Hiroshima Jepang (kedua dari kanan), sedang mengajarkan tata cara dalam upacara meminum teh khas Jepang kepada siswa SMP Pondok Modern Sabilurrosyad Muhammadiyah Banjarnegara, di Rumah Pintar Dr Tus, Senin (9/9). ISTIMEWA
Kanako Tome, peserta didik SMA Takeda Higashi Hiroshima Jepang (kedua dari kanan), sedang mengajarkan tata cara dalam upacara meminum teh khas Jepang kepada siswa SMP Pondok Modern Sabilurrosyad Muhammadiyah Banjarnegara, di Rumah Pintar Dr Tus, Senin (9/9). ISTIMEWA

BANJARNEGARA, SATELITPOST – Puluhan siswa SMP Pondok Modern Sabilurrosyad Muhammadiyah Banjarnegara, mengikuti kegiatan tukar budaya Jepang-Islam bersama Kanako Tome, peserta didik SMA Takeda Higashi Hiroshima Jepang yang sedang menjalani program pertukaran pelajar ke Indonesia.

Di Rumah Pintar Dr Tus di desa Tapen Kecamatan Wanadadi, Kanako memperkenalkan baju tradisional bangsa Jepang, Kimono dan Yukata, serta memakaikannya kepada santriwati.

Dalam upacara minum teh Jepang, semua santri berkesempatan mengikuti tata cara menyeduh, menghidangkan, dan meminum teh sesuai adat istiadat bangsa Jepang.

Sementara santri, memperkenalkan Rukun Islam kepada Kanako dan sejumlah kegiatan bernuasa Islam lainnya di kalangan Muslim Indonesia, serta menampilkan pertunjukan musik Rebana.

Arif Riyadi, pimpinan Pondok, mengapresiasi Rumah Pintar Dr Tus yang telah memediasi lembaganya dengan Kanako Tome. Sehingga seluruh santri di tahun perdana berdirinya Pondok Modern Sabilurrosyad di Wanadadi, bisa mempelajari budaya bangsa maju langsung dari insan berkebangsaan Jepang.

“Di Pondok, para santri sejak awal dididik untuk mengimplementasikan nilai-nilai suci dan mulia dalam Alquran, termasuk saling mengenal dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” ujarnya, Senin (9/9).

Pada kesempatan itu, Kanako Tome menjelaskan bahwa dalam proses memakai baju kimono dan upacara menghidangkan serta meminum teh, terdapat sejumlah nilai-nilai luhur yang menjadi cerminan bangsa Jepang yang unggul. Seperti ketelitian, kesabaran, dan kelemah-lembutan, disertai ketegasan atau kekuatan.

Masyarakat Jepang kata dia, terkenal dengan komitmen yang tinggi dalam memegang amanah dan tanggung jawab. Dalam melaksanakan semua itu, mereka bekerja dengan cekatan, disiplin, dan penuh ketelitian. Bangsa Jepang, tidak pernah mencapai sesuatu dengan cara instan. Sehingga kerja keras dengan tingkat kesabaran tinggi, menjadi etos mereka.

Dr Tuswadi, pimpinan Rumah Pintar Dr Tus yang berperan sebagai mediator Indonesia-Jepang, mendatangkan Kanako Tome ke SMA N 1 Sigaluh dengan sponsor penuh dari Kementrian Pendidikan Jepang. Dr Tuswadi mengatakan, Kanako adalah bagian dari 800 peserta didik SLTA di Jepang yang lolos seleksi beasiswa Tobitate.

Mereka disebar ke berbagai negara, untuk memperkenalkan Jepang, masyarakat, dan budayanya menjelang Olimpiade 2020 di mana Tokyo akan menjadi tuan rumah.

“Pemerintah Jepang memiliki kepentingan besar dengan memberangkatkan anak-anak SLTA di sana, ke seluruh penjuru dunia agar masyarakat internasional mengetahui bahwa Jepang itu cakap berbahasa internasional (Inggris). Pamor Jepang sebagai negara maju, diharapkan lebih membahana. Ini harusnya bisa diadopsi pemerintah Indonesia, dengan mengirimkan generasi-generasi unggul Indonesia melalui beasiswa pertukaran pelajar ke berbagai negara untuk memperkenalkan Indonesia,” kata Dr Tuswadi. (oel)