: Wali murid menyerahkan pisang kepada pengurus sekolah sebagai tanda pendaftaran anaknya di MTs PakisKampung Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jumat (5/7). SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH
: Wali murid menyerahkan pisang kepada pengurus sekolah sebagai tanda pendaftaran anaknya di MTs PakisKampung Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jumat (5/7). SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

Kalimat tersebut terpekik oleh seluruh calon siswa serta wali murid sebagai slogan penyemangat dari satu di antara dua ruangan kegiatan belajar mengajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis yang digunakan siswa di Kampung Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas pada Jumat (5/7/2019) pagi.

Udara dingin berbalut kabut tipis terasa di pori-pori kulit. Wajar saja, sekolah berbasis agrowisata tersebut berada di dataran tinggi, kaki Gunung Slamet. Pagi itu, rombongan ibu-ibu berumur kisaran 40-an berjalan bersama-anaknya membawa hasil bumi berupa pisang, singkong, kopi dan beras dari Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, yang merupakan tetangga desa sekolah setempat. Jaraknya berkisar 10 km.

Satu di antara empat wali murid yang hari pertama mendaftar di sekolah tersebut terlihat antusias. Darikem (40), warga Desa Sambirata yang membawa singkong hasil dari berkebun di rumahnya tak bisa menyembunyikan raut bahagia karena anaknya bisa melanjutkan sekolah dengan tanpa biaya dan tanpa memusingkan sistem zonasi yang akhir-akhir ini menjadi polemik.

“Saya ingin anaknya pintar, tapi pengin menyekolahkan anak saya ke sekolah sana tidak punya uang, jadi disekolahkan di sini yang gratis. Suami saya kerja buruh di Jakarta, kalau saya kerja apa saja jika ada yang membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Darikem mengungkapkan perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan berjalan kaki. “Tadi saya berangkat dari rumah jam setengah tujuh pagi, sampai sini jam delapanan, lumayan dengan jalan santai, yang penting anak bisa tetap lanjut sekolah,” kata dia.

Di tengah hiruk pikuk pro dan kontra polemik kebijakan zonasi, ada persoalan klasik yang masih tak terurai, akses warga tak mampu untuk sekolah. MTs Pakis, Cilongok masih eksis dan tetap membuka pendafratan baru, cukup dengan mebawa hasil bumi, siswa bisa mendaftar sekolah tersebut.

“Ini hari pertama, tadi sudah ada yang mendaftar empat siswa. Ada yang bawa singkong, dan ada yang bawa kopi hasil dari kebun mereka,” kata Isrodin, pengelola pusat kegiatan belajar mengajar Pakis.

Adapun terkait biaya sekolah bulanan, kata dia, para siswa digratiskan hingga lulus sekolah. Selain digratiskan dari semua biaya pendidikan, para siswa justru mendapatkan buku-buku dari pengelola sekolah. “Sekolah ini memang sengaja didirikan untuk membantu anak-anak petani setempat yang mayoritas dari golongan ekonomi kurang mampu, seperti petani dan buruh harian,” ujarnya.

Pendaftaran masih tetap akan dibuka, meski pendaftaran sekolah setingkat pada umunya telah ditutup. Bahkan, Isrodin beserta relawan lainya sudah menjadwalkan akan melakukan penyisiran ke desa-desa di sekitar jika masih ditemui anak yang putus sekolah setelah lulus SD. “Kami juga sudah menjadwalkan akan berkeliling melakukam penyisiran bersama para relawan. Kami harap jangan sampai ada anak putus sekolah,” lanjutnya.

Sekedar informasi, MTs Pakis tersebut sudah berjalan selama tujuh tahun dan sudah meluluskan 50-an siswa. (anank@satelitpost.com)