BANYUMAS, SATELITPOST-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)  Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Siti Mukaromah menyelenggarakan Sosialiasi Empat Pilar Kebangsaan. Seperti diketahui, keempat pilar itu adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Sosialisasi dilaksanakan di Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat, Rabu (4/12).

Siti Mukaromah menyampaikan bahwa kondisi pasca pilpres belum pulih benar. Dikotomi dukung-mendukung telah menjalar ke urusan-urusan publik yang lain. “Istilah cebong kampret mungkin sudah reda. Tapi kita sering menjumpai istilah ‘kelompok sebelah’, haters vs lovers masih mengemuka di mana-mana,” kata Erma, begitu biasa dia disapa di hadapan 162 peserta sosialisasi. Fenomena ini baginya merupakan tanda bahwa kekakuan dan pengelompokan-pengelompokan di masyarakat justru cenderung mengemuka, termasuk saling cibir antar sesama umat Islam, dukung-anti pemerintah, saling tuduh hoax, dan sebagainya.

“Kita sudah lama tahu, dan barang kali tidak perlu lagi diingatkan, bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Bahasa, etnis atau suku, agama, golongan, bahasa, adat-istiadat, dan lain sebagainya. Harusnya ini menjadi modal bagi kita bangsa Indonesia mempelajari hal-hal yang berbeda dan memoderasi ego kita. Kemajemukan harusnya membuat kita tumbuh dewasa karena sering melihat pendapat-pendapat yang berbeda di sekitar kita sehingga kita mudah menemukan caranya berdamai, tepo sliro dan saling menerima,” ujar Erma yang juga Ketua Umum Perempuan Bangsa tersebut.

Kemajemukan itu merupakan kenyataan masa lalu dan masa kini. Sementara ini, katanya, mudah sekali disebut namun seringkali gagap kita hadapi karena sedikitnya keseriusan dalam mengapresiasinya. Kemajemukan atau perbedaan itu kita temukan hampir dalam segala hal. Tantangan yang harus diatasi, katanya, ialah kemampuan kita untuk selalu lebih dewasa dengan perbedaan-perbedaan tersebut.

Melalui Sosioalisasi Empat Pilar Kebangsaan, diharapkan kesadaran dan penerimaan atas kemajemukan  bangsa semakin meningkat. Sosialisasi tersebut memiliki peran sangat penting. Pertama, untuk  menyegarkan pengertian bahwa Pancasila merupakan ideologi dan asas atau prinsip hidup berbangsa dan bernegara.

Dia mengatakan, lima sila dalam Pancasila merupakan acuan ideologi atau nilai puncak yang semestinya melandasi kehidupan bangsa dan negara Indonesia, dalam seluruh sektor kehidupan. Kedua, Bhinneka Tunggal Ika untuk memperkuat rasa kesatuan dan persatuan dalam masyarakat yang majemuk. Ketiga, peneguhan bahwa bentuk kesatuan merupakan bentuk kenegaraan final yang mewadai kemajemukan tersebut. Dan keempat, bahwa UUD 1945 merupakan konstitusi dasar, sebagai rujukan hukum tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dengan kegiatan sosialisasi ini, kita berharap pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara kita semakin baik, demikian pula dengan semangat persatuan dalam kemajemukan. Sehingga upaya-upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, sosial dan ekonomi, semakin baik,” kata Erma. (lil)