Ritual Jaro Rajab di Desa Cikakak, Banyumas.

WANGON,SATELITPOST- Bertepatan dengan bulan Rajab (3/4) merupakan hari istimewa bagi warga Desa Cikakak,mereka berkumpul merayakan haul Mbah Tolih (Ki Tolih) atau warga biasa Eyang Hangweng Dewaj sebagai leluhur mereka. Ki Tolih juga dianggap sebagai pendiri desa Masjid Saka Tunggal. Ritual tersebut dinamakan Jaro Rajab atau Penjarohan yang artinya Ziarah.

Menurut Kepala Desa Cikakak, Suyitno saat di temui Satelitpost di lokasi Penjarohan menjelaskan bahwa inti Jaro Rajab adalah penghormatan kepada leluhurnya yang hingga kini menjadi pusat kegiatan peribadatan dan interaksi sosial. Dalam ritual itu, warga desa juga memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar diberi keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang melimpah.

“Jaroh ini juga mengumpulkan anak cucu serta warga yang merantau ke berbagai wilayah di dunia, setahun sekali belum tentu kumpul, maka ini sebagai wadah ukuwah islamiah, kearifan dan atas kesadaran sendiri, yang merasa keturunan akan datang,”katanya.

Ratusan warga dari berbagai pelosok hadir dalam ritual Jaroh yang dipusatkan di area Masjid Saka Tunggal, yang merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Tengah. Menurut catatan Masjid ini didirikan Mbah Tolih pada 1288 Masehi,bahkan lebih tua dari kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1294 M. Kegiatan utama dalam ritual tersebut adalah membuat pagar bambu untuk mengelilingi masjid dan area pemakaman Ki Tolih yang berjarak 150 meter selatan masjid.

“Tiap tahun, pagar bambu di dua tempat tersebut diganti. Mereka percaya, memperbarui pagar bambu di makam dan masjid akan memberikan cahaya baru bagi hidup mereka, sebelum ritual di dalam makam Ki Tolih yang terletak di puncak bukit Cikakak, warga secara gotong royong mengganti pagar bambu yang ada disekitarnya dengan yang baru mulai dari area Masjid Saka Tunggal hingga menuju Puncak Makam, ada sungai yang ketika hendak menyeberang harus melepas alas kaki guna menjaga kebersihan makam,”kata kades Suyitno.

Dan Suyitno juga menjelaskan bahwa sudah menjadi adat budaya Cikakak untuk tidak boleh mengganti bambu dengan tembok. Hal ini guna mencegah kegiatan tahunan tersebut. “Pagar tidak boleh tembok,kalo di tembok tidak ada kegiatan, bahkan Pengprov Jateng pernah ingin menembok namun ditolak kuncen dan keturunannya.”katanya.

Sementara itu Ketua Pokdarwis Desa Cikakak melalui sekertarisnya Jarwoto Andi Purnomo saat ditanya langkah kedepan untuk pengembangan Wisata Desa mengatakan bahwa akan mengembangkan potensi wisata yang sudah berjalan dengan penambahan pasar wiaata yang akan menjual jajanan tradisional, edukasi wisata kepada pengunjung. “Konsep sudah berjalan dan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Banyumas,namun bertahap melalui kelompok kerja (pokja), Insya Allah sebelum Ramadhan 2019 sudah di buka pasar wisata,”katanya.

Seorang pengunjung Jaroh, warga Randegan bernama Kartika Putri yang datang bersama 4 anaknya dan adiknya mengatakan sengaja datang sebagai ajang rekreasi menyenangkan anak anak dan juga belajar bersosialisasi.”Saya kalau ada acara ritual adat selalu berkunjung bersama keluarg, tujuannya hanya menyenangkan anak anak mas, merekabkan seneng kalau rame rame main, dan tidak perlu biaya banyak,”katanya.

Dalam Jaro Rajab tersebut nampak hadir pula Camat Wangon Roni Hidayat dan Deskart Setyo Djatmiko Kepala Bidang Pariwisata pada Dinporabudpar Banyumas. Bahkan Djatmiko nampak ikut membantu membuat pagar bersama warga lainnya, dan melakukan ritual Ziarah bersama Subagyo Juru Kunci makam Ki Tolih dan beberapa warga keturunan.

Sebelum mengikuti Jaro Rajab, Jatmiko sempat berbincang dengan Kades Suyitno. Ia mengharapkan agar perlu penggalian sejarah Desa Cikakak. “Perlu di lestarikan budaya yang dapat mengangkat potensi wisata daerah agar pengunjung bertambah, dan perlu juga penyusunan kembali sejarah Desa Cikakak agar wisatawan leh paham,”katanya.(cr2)