ANAK-anak tengah bersembahyang di Pura Pedaleman Giri Kendheng di Dusun Wanasara Desa Klinting, Kecamatan Somagede, beberapa waktu lalu.

Dari luar, bangunan tertutup tembok keliling tersebut tampak seperti sanggar kebanyakan. Namun begitu masuk gerbang suasana pun sedikit berubah. Terdapat tiga bangunan candi di dalam lokasi seluas 780 meter persegi ini. Beragam hiasan bernuansa Hindu terpasang di sudut sudut bangunan.  Ya bangunan ini merupakan tempat ibadah umat Hindu yang berada di perbukitan Dusun Wanasara, Desa Klinting, Kecamatan Somagede.

“Namanya Pura Pedaleman Giri Kendheng, diambil dari nama lokasinya yang berada di kaki perbukitan Kendheng Selatan,” kata Minoto Darmo, warga asli Dusun Wanasara yang juga menjadi Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Banyumas.

Sebelum memeluk agama Hindu, sebagian besar masyarakat Desa Klinting merupakan penghayat kepercayaan wayah kaki, sebuah aliran  kejawen di tanah Jawa. Wayah kaki berasal dari bahasa Jawa yang  berarti “cucu kakek‟. Kakek dalam kepercayaan masyarakat ini menunjuk pada  Eyang Semar sebagai Sang Pepunden. Oleh karena itu, para penghayat wayah kaki seringkali menyebut Semar sebagai Pepunden atau Kaki. Sedangkan para penghayatnya menyebut diri mereka sebagai wayah atau cucu dari Semar.

Dalam ajaran wayah kaki, Semar bukan cuma tokoh pewayangan, namun diyakini benar-benar pernah ada dan telah meninggal. Makamnya berada di Gunung Srandil dan terawat dengan baik. ‎Para penganutnya biasa mengadakan persembahyangan atau persemedian di Gunung Srandil setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Baca juga: Kisah Tugu Kota Purwokerto, Ternyata Hadiah dari Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Rusia

Namun, penghayat kepercayaan wayah kaki ini mulai mengalami kesulitan pada Masa Orde Baru. Transisi pemerintahan pada masa itu hanya mengakui  lima agama resmi, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katholik, Hindu dan Budha. Sementara itu, Indonesia memiliki keyakinan dan kepercayaan yang begitu beragam. Hampir setiap daerah dan suku di Indonesia memiliki sistem kepercayaan tersendiri.

“Pemerintah menganjurkan kami untuk berpayung pada salah satu agama resmi jika ingin diakui dan diberikan hak sebagai warga negara. ‎Sikap pemerintah ini yang kemudian membuat penghayat wayah kaki mencari agama resmi yang mendekati dengan kepercayaannya. Dipilihlah agama Hindu pada tahun 1981,” katanya.

Masalah tak berhenti setelah mereka bergabung dengan agama Hindu. Tidak adanya tempat ibadah berupa Pura membuat masyarakat setempat terpaksa beribadah di rumah sesepuh desa setempat. Masyarakat berkumpul dan melakukan sembayangan di pendapa rumah sesepuh tersebut pada malam Jumat manis dan Jumat kliwon.

Baca juga: Asal Mula Ajibarang dan Kisah Kesaktian Jaka Mruyung yang Diakui Kenthol Ireng

“Hingga akhirnya diprakarsai membuat pura yang dibangun pada tahun 1982 dan mulai difungsikan setahun setelahnya,” kata Minoto yang juga menjabat sebagai Kaur Pemerintahan Desa Klinting ini.

Pura Pedaleman Giri Kendheng dibangun langsung oleh ahli pembuat pura dari Bali, maka tak heran jika nuansa Bali sangat terasa di Pura ini.  Candi Penunggon Karang, Padmasana Panglurah dan Padmasana Candi Gedhong melengkapi tempat peribadatan ini. Menurut Minoto,‎ Candi Gedhong untuk bersemayan Sangyang Widi sebelum bersinggasana di padmasana, oleh karenanya  di dalam Candi Gedhong terdapat arca atau pratima yang merupakan perwujudan Sangyang Widi sebagai trimurti.  “Panglurah untuk beristana para leluhur, sedangkan Penunggon Karang tempat istana Dahnyang yang menjaga Pura,” katanya.

Keberadaan Pura Pedaleman Giri Kendheng merupakan pura yang menjadi pusat atau tempat berkumpulnya umat Hindu di seluruh wilayah Kabupaten Banyumas pada saat hari-hari besar Hindu. Hijaunya hutan dan perkebunan di sekitar lokasi terasa menyejukkan siapapun yang memandangnya. Ditambah sejuknya udara pegunungan, membuat suasana di kawasan pura terasa begitu asri. (triono yulianto)‎