SAPTO, Peraih Emas Asian Para Games 2018 meluapkan kegembiraanya usai menjuarai lari di nomor 200 meter. ISTIMEWA

Raut wajah Umiyati (50) tampak berseri ketika kami menyambangi kediamannya di Desa Ciberung Kecamatan Ajibarang siang kemarin. Wajah keriputnya menjelaskan jika dirinya tengah bergembira. Betapa tidak, putra keduanya, Sapto Yogo Purnomo (20) berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah Asian Para Games 2018 yang tengah digelar di Jakarta sekarang ini. Sapto (panggilan akrabnya) berhasil menjadi yang terbaik di nomor lari 200 meter. Penyandang disabilitas Cerebral Palsy ini menyumbangkan medali emas kelima bagi Indonesia.

“Dulu di sekolah dia ( Sapto -red) kerap diejek teman-temannya karena kondisi fisiknya. Sekarang, dia membuat kami bangga. Teman-temanya terdahulunya juga pasti sekarang ikut  bangga dengan prestasinya,” kata Umiyati sembari mengingat masa-masa sekolah Sapto.

Menurutnya, masa-masa SMP  merupakan masa terberat yang harus dilalui Sapto. Ejekan dan bulyan teman sebayanya membuat mental Sapto down. Hingga akhirnya, dia enggan berangkat ke sekolah lantaran takut dan malu.

“Gurunya sampai datang ke rumah. Menanyakan kondisi Sapto yang disangka sakit. Padahal dia membolos karena malu diejek temannya,” katanya.

Cerebral Palsy (CP) ialah gangguan yang memengaruhi gerakkan dan postur tubuh yang dialami putra pasangan Tulusno (55)) dan Umiyati ini dialami sejak masih bayi. CP ‎menyebabkan kondisi  lengan dan jari tangan kanannya menekuk serta membuat  kaki kanan Sapto menjadi timpang saat berjalan.  “Saat usisanya baru 3 bulan Sapto kena demam tinggi, sampai step. Itu penyebab dia menderita CP,” kata Umiyati.

‎Olahraga menjadi pilihan Sapto untuk membuktikan dirinya bisa seperti teman sebayanya. Sepak bola lah yang pertama kali ditekuninya. Sapto yang saat itu masih berusia 14 tahun bahkan sudah masuk dalam pemain inti di tim sepakbola desa. Pertandingan demi pertandingan diikutinya dengan penuh semangat. Dari sepakbola inilah otot kaki Sapto mulai terbentuk.

Masuk SMK, Sapto mulai serius berlatih atletik, khususnya lari jarak pendek dan lompat jauh. Dengan bimbingan guru olahraganya, puluhan prestasi di nomor atletik mulai dikumpulkan Sapto. “Sudah banyak piala dan medali yang dimiliknya, jumlah pastinya saya tidak tahu. Yang tahu ya Sapto, cuma sekarang dia belum pulang,” ujar Umiyati.

‎Pelatih dan juga guru olahraga SMK Sapto, Winda Prasepti menyebut, saat masih duduk di kelas 2 SMK, Sapto sudah bergabung dalam kontingen Jawa Tengah di Pekan Paralimpik Nasional XV/2016 Jawa Barat. Debut pertamanya langsung menyabet lima medali emas dari lima nomor yang diikutinya, yaitu lari 100 meter, lari 200 meter, lari estafet 4 x 100 meter, lari estafet 4 x 400 meter, dan lompat jauh.

“Sejak itulah Sapto dirangkul National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) mengikuti Pelatnas untuk ASEAN Para Games IX Malaysia 2017,” katanya.

Dalam kompetisi tingkat internasional tersebut, Sapto berhasil menyabet dua medali emas dan satu medali perak. Dan tahun ini, masih di even olahraga Asian Para Games 2018, Sapto kembali  meraih emas. Pemuda Desa Ciberung ini masuk peringkat tiga dunia klasifikasi T37 di bawah atlet Afrika Selatan dan Brasil, versi International Paralympic Committee (IPC). (triono yulianto)