Menjaga Tradisi Lengger Lanang Banyumas

Mendunia Tapi Terancam Punah

 

LENGGER Lanang, Dariah (selendang merah) dan Agnes (selendang hijau muda) saat pentas di Petilasan Manggisari, Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, akhir Februari 2014. Dokumen SatelitPost

Lengger lanang sudah mendunia. Undangan pentas terus berdatangan dari berbagai ajang kesenian internasional. Tapi di Banyumas, di tanah kelahirannya sendiri, eksistensi kesenian ini terancam punah.

Oleh: AGUS SETIYANTO

Siang itu cuaca di Desa Somakaton sangat cerah. Hembusan angin Sungai Serayu meneduhkan hati setiap penduduk desa di pelosok Kecamatan Somagede Banyumas itu. Burung-burung pun bersukacita, berterbangan dari satu pohon ke pohon lain.

Di satu pojok desa itu sejumlah orang sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Mereka menata panggung dari lempengan kayu setinggi 10 sentimeter, menggelar tikar, menaruh seperangkat alat musik dari bambu wulung (calung), dan memasang pengeras suara. Mereka akan menggelar pertunjukan lengger lanang Dariah, Sang Maestro lengger lanang Banyumas.

Sejurus kemudian calung pun ditabuh. Terdengar sinden melantunkan gending-gendhing Banyumasan seperti RicikricikEling-elingGunungsari, dan Sekar Gadung. Tak berapa lama warga setempat mulai berdatangan mengelilingi pelataran Petilasan Manggisari, satu tempat yang pernah menjadi saksi perjalanan sakral Dariah.

Dipapah Agus Widodo, Dariah maju ke tengah arena. Sampur merah dengan ornamen hijau serta emas membuat sosoknya terlihat berwibawa. Perlahan, tangan tuanya bergerak energik selaras bunyi calung. Seblakan tangan yang konstan bolak-balik membuat elok gerak lengger lanang tersebut.

“Itu pertunjukkan dua tahun lalu. Itu pertama kalinya saya melihat mbok Dariah menari,” kenang Agus Widodo, lengger lanang asal Desa Binangun Kecamatan Banyumas, saat ditemui di rumahnya, awal Maret tahun lalu.

Bagi Agus, menyaksikan sekaligus menari bersama Dariah adalah pengalaman tak terlupakan. Kini Dariah sudah semakin tua, usianya sudah lebih dari 80 tahun. Dia sudah sangat sulit untuk diajak berkomunikasi, sudah linglung.

“Mbok Dariah pendengarannya semakin lemah, kalau diajak bicara sudah tidak nyambung. Kasihan,” ujar Agus.

Laki-laki kelahiran 14 Agustus 1987 ini mengaku masih sering menjenguk Dariah di rumahnya, di Desa Plana Kecamatan Somagede. Selain menjaga silaturahmi, dia juga ingin mendapatkan ilmu dari Lengger Lanang tertua di Banyumas itu. Agus yakin, Dariah masih menyimpan mantra, jimat, pusaka, ataupun indhang (roh halus) lengger yang sangat dibutuhkan oleh seorang penari lengger agar bisa tetap laris.

Agus adalah penerus kejayaan Dariah. Saat ini Agus yang di panggung menggunakan nama Agnes adalah lengger lanang paling terkenal di Banyumas. Dia sering ditanggap di seputar wilayah Banyumas bahkan sampai luar Jawa.

“Pentas di Jakarta, di Kalimantan sudah sering. Saya juga pernah diundang ke Timika, tapi sama orangtua tidak boleh,” ujar juara umum kontes waria dan tata rias terbaik di Cilacap tahun 2005 dan 2006 ini.

Perjalanan Agus untuk bisa menjadi seperti sekarang tidaklah mudah. Dia harus lebih dulu meyakinkan keluarga bahwa menjadi lengger lanang merupakan pekerjaan mulia. Dia meyakini lengger lanang juga bisa menjadi sumber nafkah di masa depan.

Agus mengaku pernah bersusah payah dari panggung ke panggung dengan bayaran kecil. Tapi semua itu tidak lantas membuatnya menyerah. Dia bertekad ingin sukses melegenda seperti Dariah.

“Saya pernah diundang ke Labok Jawa Barat. Ke sana pakai motor diantar saudara. Bayarannya Rp 125 ribu, pokoknya perjuangan luar biasa,” ujar lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Banyumas ini.

Kini Agus menjadi lengger lanang dengan bayaran paling tinggi di Banyumas. Untuk undangan dari orang biasa, misalnya di hajatan pernikahan, ia memasang tarif paling rendah Rp 650 ribu. Tapi khusus undangan sebagai bintang tamu, terutama di luar Jawa, ia biasa mematok 10 kali lipat dari harga tersebut.

“Beda tempat beda harga. Selama ini kalau Kalimantan saya patok Rp 6 juta bersih, itu di luar penginapan dan transportasi,” ujar lengger lanang, yang mengaku mendapatkan wahyu lengger dari mbah buyutnya.

Bentuk Seni Transgender

Lengger merupakan akronim dari leng dan ngger. Awalnya penari itu dikira sebagai leng (lubang/vagina/wanita), ternyata jengger (ayam jago) merujuk pada laki-laki. Dalam Bausastra (kamus) Jawa Indonesia yang disusun oleh S Prawiroatmojo (1957), disebutkan bahwa lengger adalah penari pria.

Pigeud dalam bukunya Javans volksvertoningen, (ivone, 1986: 34-35) menyatakan di Banyumas terdapat lengger yaitu pertunjukan dengan penari laki-laki dalam bentuk travesti. Travesti adalah seorang laki-laki yang berperilaku kewanita-wanitaan dan senang berdandan atau bersolek serta menari tarian wanita.

Meskipun bentuknya berbeda-beda, kesenian semacam lengger ini sebenarnya tersebar di banyak daerah. Misalnya Ronggeng Melayu, Gandrung Banyuwangi, Dombret Karawang, Cokek Jakarta, Gambyong Keraton, Tayub atau Teledhek Wonosari, Sintren Pesisiran, dan sebagainya (Koentjaraningrat, 1994: 211-228).

Yusmanto, seniman calung dari Desa Karangjati Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara, menjelaskan, lengger lanang merupakan warisan kebudayaan Jawa. Kesenian ini berkembang dari wilayah Gunung Sindoro-Sumbing ke arah barat dan selatan meliputi Wonosobo, Kedu, dan Banyumas.

Spirit tarian agraris ini masih tetap lestari di pinggiran-pinggiran Banyumas. Di pedesaan lengger lanang tetap dipandang sebagai sumber keberkahan. Warga desa yang punya anak kecil biasanya meminta si penari untuk mencium kening anak tersebut. Mereka percaya cara itu akan membuat kehidupan si anak menjadi mulia. Kecupan dari lengger lanang juga dianggap sebagai obat mujarab bagi anak-anak desa yang sedang sakit.

Masyarakat setempat juga masih percaya ada unsur mistis dalam kesenian ini. Kekuatan gaib yang dimaksud adalah indhang. Ini semacam roh halus yang merasuk dalam diri si penari sehingga dia memiliki kekuatan lebih dibanding penari biasa. Tanpa indhang dia tidak lebih dari seorang yang pandai berjoget.

Dua tahun lalu, dalam sebuah forum Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta yang berlangsung di Purwokerto, Ahmad Tohari, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, mengatakan, lengger adalah kesenian yang sudah berusia berabad-abad di Banyumas. Dalam buku lama seperti Serat Centhini serta The History of Java, seni tari ini sudah disebut.

Akar kesenian lengger dipercaya berawal dari tradisi pemujaan terhadap Dewi Kesuburan yang dulu dilakukan oleh masyarakat Hindu. Jadi pada awalnya adalah sebuah ritus yang sakral. Namun ritus ini kemudian berkembang di tengah para petani yang juga sangat memuja Dewi Kesuburan. Mereka biasa nanggap lengger saat musim panen.

Bagi masyarakat Banyumas lengger tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Kesenian ini juga merupakan wajah dari sisi kelembutan dan feminitas budaya. Lengger lanang bisa dianggap sebagai bentuk seni transgender. Ini dijelaskan secara spekulatif sebagai manifestasi kecenderungan transeksual pada pribadi si penari.

“Hal ini setidaknya terjadi pada mbok Dariah (Sadam) yang hingga saat ini masih tampil sebagai perempuan,” kata Tohari.

Lengger Lanang Mendunia

Pertengahan September 2016 tiga orang lengger lanang Banyumas diundang International Performing Art Asia 3 (Jepang). Ketiga lengger lanang tersebut adalah‎ Tora dinata, Wahyudi, dan Riyanto. Ketiga penari yang bernaung di Rumah Lengger Banyumas itu tampil di Open Stage of Akita Museum Art, Keiyo Universitas Tokyo, dan Dewandaru Salon Dance Company.

International Performing Art Asia 3 merupakan pagelaran seni yang digagas oleh komunitas seniman dari tiga negara: Indonesia, Jepang, dan Korea. Untuk masuk ke ajang internasional ini, para seniman harus melalui seleksi super ketat.

“Kesempatan ini sangat langka bagi seniman Banyumas. Oleh karena itu, kami memanfaatkannya untuk bertukar pikiran tentang pelestarian dan pengembangan budaya,” ujar Wahyudi, saat berkunjung ke Kantor SatelitPost, September 2016.

Baru-baru ini berbagai media nasional juga memberitakan Rianto, seorang koreografer kelas dunia. Rianto adalah pencipta tarian kontemporer yang terkenal sebagai Tari Medium. Rianto menyebut Tari Medium sebagai pengembangan dari lengger lanang.

Rianto lahir di Desa Kaliori Banyumas 36 tahun lalu. Sama seperti Agus Widodo, dia juga lulusan SMKI Banyumas. Dari kecil hingga kuliah di Institut Seni Surakarta dia konsisten mendalami tari lengger lanang.

Setelah lulus kuliah Rianto menikah dan menetap di Tokyo Jepang. Di sana Rianto mendirikan Dewandaru Dance Company, sebuah komunitas tari Jawa klasik (Banyumasan). Bersama koreografer kelas dunia lainnya dia tampil di banyak festival tari internasional. Antara lain di Australia, Jerman, dan Belgia.

Terancam Punah

Sampai tahun 2005 ada 28 kelompok kesenian lengger yang terdaftar di Dewan Kesenian Banyumas. Mereka tersebar di 16 kecamatan. Sekitar 60 persen kelompok lengger ada di bagian barat dan selatan kabupaten. Meliputi Kecamatan Cilongok, Ajibarang, Lumbir, Wangon, Purwojati, Pekuncen, Rawalo, dan Kebasen. Sedangkan 40 persen lainnya tersebar di bagian timur dan utara kabupaten. Mulai dari Kecamatan Baturraden, Sumbang, Purwokerto Utara, Purwokerto Selatan, Kembaran, Sokaraja, Banyumas, dan Kecamatan Sumpiuh.

Menurut Carlan SSn, Kasi Tradisi Sejarah Purbakala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, masih ada sejumlah lengger lanang yang hidup di Banyumas. Selain Dariah dan Agus Widodo ada juga Gatot serta Suliwan di Desa Tambaknegara Kecamatan Rawalo.

Dia mengakui tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah daerah untuk kembali melestarikan kesenian tua ini. “Kami menggelar festival lengger, tapi itu tidak setiap tahun. Paling kalau ada acara besar seperti kedatangan tamu nasional, biasanya kami pentaskan lengger,” ujar dia.

Awal April 2017, pada Festival Kesenian Unggulan Kecamatan di Lapangan Kecamatan Wangon, SatelitPost mendapati hanya satu kelompok kesenian lengger yang tampil. Dari satu kelompok itu pun, penari lenggernya bukanlah laki-laki, tapi perempuan.

Seniman lengger lanang seperti Agus Widodo meyakini lengger lanang akan tetap lestari. Menurut dia ada tradisi turun-temurun di Banyumas yang masih membutuhkan kehadiran lengger lanang. Itu artinya pelaku seni seperti dia akan tetap dihormati, dihargai.

“Di Kalitanjung Kecamatan Rawalo nanggap lengger harus lanang (laki-laki), tidak boleh perempuan. Kalau dilanggar bisa kena musibah. Jadi setiap ada acara nyadran (menyambut awal puasa, red), pasti nanggap saya,” ujar Agus.

Agus mengaku ingin bisa seperti Didi Nini Thowok. Ia ingin keliling dunia memperkenalkan lengger lanang. Ia juga bercita-cita bisa melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri.

“Saya pingin diundang acaranya Kick Andy,” ujar Agus tersipu. Selain menari, Agus juga menekuni dunia rias pengantin dan menjadi guru tari di sejumlah sekolah di Banyumas.

Dia memang pandai berhias. Setiap pentas Agus tidak pernah didandani orang lain, ia mampu merias dirinya sendiri menjadi perempuan cantik. Sampai-sampai banyak laki-laki terkecoh menganggapnya benar-benar perempuan. Agus mengatakan, saat sudah berpakaian lengkap, Sang indhang lengger langsung merasukinya.

Kini, peran-peran Dariah ia gantikan. Tak hanya menari dan menyanyi, Agus juga harus melayani berbagai pertanyaan dari mahasiswa, dosen, dan peneliti yang tertarik dengan kesenian tua Banyumas ini. Tamu-tamunya tidak hanya dari kampus lokal, tapi juga dari Jepang.