Perajin membuat kain lurik dengan menggunakan alat tradisional di Kampung Tenun Lurik, Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Kamis (16/5).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

BANYUMAS, SATELITPOST-Penggunaan seragam kain lurik akan diberlakukan Pemerintah Daerah Banyumas bagi ASN pada hari tertentu yang akan ditentukan kemudian. Hal ini merupakan dukungan untuk mendorong pengembangan produksi kain tenun lurik yang tengah dirintis masyarakat Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede.

“Nanti setiap hari Kamis minggu kesatu, kedua, dan keempat itu memakai tenun lurik buatan Banyumas,” kata Bupati Banyumas Ir Achmad Husein saat meresmikan Kampung Tenun Lurik di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kamis (16/5).

Bupati mengatakan, tenun lurik tersebut harus sukses lebih dulu sehingga nantinya menjadi baju seragam Pemkab Banyumas dan diberi tanda sebagai produk asli Banyumas. Untuk membuat tenun lurik tidak semudah dengan apa yang dipikirkan. Oleh karenanya, mulai dari sekarang masyarakat Desa Tanggeran diharapkan untuk berlatih dan menekuni kerajinan tersebut. Jika sudah sukses beproduksi, para pengrajin tenun lurik tidak perlu khawatir karena produknya dipastikan ada yang membeli.

“Saya jamin luriknya pasti dibeli, ada kewajiban dari pemerintah. Nanti saya minta dari dinas bisa menganggarkan pesanan di sini. Tidak masalah lebih mahal dari lurik buatan Klaten, yang penting memakai hasil karya orang Banyumas. Untuk saat ini,  pemakaian baju lurik  tidak dipaksakan. Artinya, kalau tenun lurik di Banyumas ini belum sukses, maka tetaplah pakai batik Banyumas saja,” katanya.

‎Bupati berharap kehadiran Kampung Tenun Lurik di Desa Tanggeran sebagai inovasi atau terobosan untuk mengurangi pengangguran walaupun mungkin jumlahnya tidak banyak. “Pemkab juga berharap dukungan program pertanggungjawaban sosial (CSR) dari perbankan dan perusahaan yang ada di Kabupaten Banyumas dalam rangka pengembangan kampung tenun lurik di Desa Tanggeran ini,” ujarnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Purwokerto Agus Chusaini mengatakan, jika sebelumnya pihaknya pernah  diajak berdiskusi dengan Bupati Banyumas untuk membahas pengembangan tenun lurik sebagai upaya membuka lapangan kerja baru.

“Saya juga sempat bertanya tanya, nantinya siapa yang beli?’. Tapi ternyata Pak Bupati sudah punya strategi meng-‘create’ pasar dengan mewajibkan semua PNS pakai lurik dan harus lurik dari Banyumas, jadi memang  pasar ada,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, saat ini KPw BI Purwokerto memiliki binaan berupa tenun kain lawon di Kecamatan Jatilawang. Dengan adanya pasar tenun lurik, ia akan mengenalkan dan memasyarkatkan kepada perajin tenun lawon tentang bagaimana membuat lurik.

“Jadi memang ini proses pengembangan, kalau Kampung Tenun Lurik merupakan inisiasi Pemkab Banyumas. Di Jatilawang dari kami. Nanti bareng-bareng untuk menyuplai keperluan teman-teman di Banyumas,” katanya.

Dengan sumber daya manusia di Jatilawang yang terbiasa menenun kain lawon, dia yakin para perajin di Jatilawang juga bisa memproduksi kain lurik sebagai ciri khas pakaian masyarakat Banyumas. (rare@satelitpost.com)