Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said Ingin Kembangkan Pasar Tradisional

Kala Blusukan di Pasar Kota Banjarnegara

CALON Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said berdialog dengan pedagang saat berkunjung di Pasar Kota Banjarnegara, Jumat (9/3).

BANJARNEGARA, SATELITPOST-Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said berkunjung ke Pasar Kota Banjarnegara, Jumat (9/3). Selain bersilaturahmi dengan pedagang, Dirman juga menikmati nasi jagung yang dijual di pasar tersebut.

Calon gubernur nomor urut 2 ini mengatakan, nasi jagung mengingatkan dirinya saat masih anak-anak. Saat itu dia bersama keluarga terpaksa makan nasi jagung karena tingginya harga beras. Sehingga dia bersama keluarganya terpaksa memakan nasi jagung. “Nasi jagung ini mengingatkan saya saat masih kecil,” katanya.

Dikatakannya, dia memilih berkunjung ke pasar karena pasar tradisional merupakan urat nadi perekonomian rakyat. Apapun yang dijual, sebagian besar adalah yang diproduksi langsung oleh rakyat. Karena tingginya perputaran uang di pasar,  Dirman bertekad mengembangkan dan memperkuat keberadaan pasar tradisional.

“Meski pasar modern terus bermunculan, namun keberadaannya jangan sampai membunuh yang tradisional. Pasar tradisional harus dijaga, pasar modern punya segmen tersendiri,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, maka dia ingin  mengembangkan dan memperkuat keberadaan pasar tradisional karena merupakan urat nadi perekonomian rakyat. Bermunculannya pasar modern belakangan ini harus ditata agar keberadaannya tidak menyingkirkan atau mematikan pasar tradisional.

“Pasar tradisional harus dijaga, pasar tradisional maupun pasar modern memiliki segmen pembeli sendiri-sendiri. Tugas pemerintah menata agar keberadaan keduanya tidak saling membunuh,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Sudirman Said menyusuri lorong pasar dan bersilaturahmi dengan para pedagang. Sesekali dia berdialog dengan para penjual sayur dan kebutuhan pokok. Untuk itu, Jateng yang merupakan sentra kebutuhan pokok pertanian siap menjalin kerja sama dengan daerah lain, termasuk DKI Jakarta yang menjadi memiliki kebutuhan pokok tinggi.

“Dengan korelasi yang baik, maka akan memangkas rantai kebutuhan pokok, sehingga distribusi pangan lebih murah. Kita bisa lihat, harga bawang merah di tingkat petani Brebes hanya Rp 7.500, di pasar ini harganya bisa mencapai Rp 24 ribu. Ini yang harus dipangkas,” katanya. (oel)