CILACAP, SATELITPOST-Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji berharap agar pengusaha jamu di Cilacap dikejar-kejar oleh petugas maupun Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM). Seharusnya para pengusaha jamu ini diberi pembinaan agar kembali ke jamu tradisional.

“Saya minta jamu jangan dioyok-oyok, tapi mari duduk bersama, sharing, apa yang menjadi kendala, lalu dibina agar kembali ke jamu tradisional,” ujar Bupati pada pembukaan Dialog Interaktif  Dalam Rangka Pembinaan UMKM Obat Tradisional dan Pencanangan Jamu Cilacap Aman, Rabu (4/12).

Dengan diberikan pembinaan, seperti melalui workshop maka diharapkan para pengusaha jamu yang sebelumnya masih mencampur dengan bahan kimia, kembali ke bahan-bahan alami. Menjadi jamu tradisional yang paling aman bagi kesehatan masyarakat. Apalagi, bahan-bahan jamu sangat mudah didapatkan di sekitar masyarakat.

“Jamu tradisional ini warisan leluhur, dan harus dilestarikan. Saya ingin menghidupkan kembali jamu tradisional, karena jamu obat tradisional yang paling aman. Melalui workshop ini agar memotivasi pengusaha jamu agar kembali ke jamu yang aman, yang seperti dulu,” katanya.

Anggota Komisi IX DPR RI Imam Suroso mengatakan sangat mendukung jika obat tradisional seperti jamu dihidupkan kembali. Apalagi, Cilacap pernah menjadi sentra Jamu di Jawa Tengah, sehingga jamu tradisional jangan sampai punah.

“Jamu jangan sampai hilang atau tenggelam. Mari kita ‘ON’ kan lagi, agar masyarakat bisa bekerja lagi, ekonominya maju, umurnya panjang-panjang. Saya terimakasih pak bupati membangkitkan jamu tradisional, saya akan kawal dari pusat dan Badan POM membina,” katanya.

Imam juga mengatakan  juga akan menggelar rapat gabungan dengan Komisi III, yang berkerjasama dengan Kepolisian RI, agar tidak lagi membinasakan pengusaha jamu di Indonesia. Akan tetapi, ikut memberikan pembinaan. “Saya juga akan minta kepada Kepolisian untuk kut membina, jangan main sikat saja dan membinasakan. Kasihan rakyat,” katanya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatam dan Komestik BPOM RI Mayagustina Andarini mengatakan jika produk jamu ilegal atau yang menggunakan campuran bahan kimia obat sudah berkurang drastis, terutama di Cilacap. Untuk itu, pihaknya terus mendorong pengusaha atau UMKM jamu di Cilacap untuk terus tumbuh dan memproduksi jamu berkualitas yang bagus.

“Tugas kami melindungi masyarakat dari konsumsi obat yang tidak memenuhi standar, dan kami juga menjamin obat tradisional yang sampai ke masyarakat itu aman, dan yang dikonsumsi masyarakat itu sehat,” katanya.

Bekerjasama dengan Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Kabupaten Cilacap, BPOM juga terus mengeluarkan izin edar jamu tradisional, yang saat ini sudah mencapai 140 izin.

“Kami mengharapkan industri jamu tradisional bisa tumbuh dan menjadi ikon nasional, selain itu mengembalikan Jawa Tengah sebagai sentra jamu tradisional yang aman,” ujarnya.

Sementara, Ketua PPJAI Mukit Hendrayatno mengatakan pihaknya terus mendorong UMKM jamu di Cilacap untuk terus memproduksi jamu tradisional yang aman bagi masyarakat. Sehingga jamu tradisional akan semakin diminati oleh masyarkaat untuk dikonsumsi sehari-hari. “Kami ingin menggembalikan kejayaan jamu tradisional di Cilacap, yang menyehatkan masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan pencanangan jamu sehat di Cilacap, dengan ditandatangani oleh BPOM, PPJAI, Bupati Cilacap, Anggota Komisi IX DPR RI, BBPOM Semarang, dan Laka POM Banyumas.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatam dan Komestik BPOM RI Mayagustina Andarini mengatakan masyarakat pun harus turut andil untuk ikut memerangi jamu-jamu yang mengandung bahak kimia obat, dengan tidak membeli dan mengkonsumsi jamu tersebut. Satu diantaranya dengan ikut mengecek jamu-jamu legal dan illegal melalui website BPOM RI.

“Masyarakat, bisa cek melalui ponselnya, produk-produk jamu yang aman, dengan melihat ke website dari BPOM RI. Sehingga masyarakat akan lebih hati-hati dalam konsumsi jamu tradisional yang terdaftar di BPOM,” katanya. (ale)